Dark
Light
Dark
Light

Singularity dan Simularity

Singularity dan Simularity

Pada suatu titik sebelum segala ada, tak ada ruang, tak ada waktu, tak ada kategori. Bahkan kata “tak ada” pun tidak relevan. Segala sesuatu, jika bisa disebut “segala”, belum terjadi. Inilah yang oleh fisikawan disebut singularitas, dan oleh sebagian mistikus disebut awal yang mustahil dijelaskan.

Namun, bagi saya, singularitas bukan sekadar istilah kosmologis. Ia adalah nama bagi titik tanpa nama, awal dari letupan yang melahirkan semesta sekaligus menyembunyikan diri-Nya. Ia bukan ketiadaan, melainkan berlimpahnya potensi yang belum terwujudkan. Ia seperti awal kesadaran sebelum seseorang tahu ia sadar.

Dan pada sisi yang lain, sisi yang menjadi bayang-bayang dari awal itu, ada sesuatu yang saya sebut simularitas. Jika singularitas titik sebelum semuanya meledak, maka simularitas titik setelah semuanya runtuh. Ia bukan awal, bukan pula akhir, melainkan semacam “balikan penuh” di mana seluruh energi, materi, cahaya, bahkan informasi dilipat ke dalam satu titik tanpa bentuk.

Lubang hitam (black hole) dalam fisika mungkin bisa disebut gerbang ke simularitas. Ia menyerap cahaya, menghapus waktu, melengkungkan ruang. Tak ada yang lolos. Bahkan bukan hanya materi yang hilang—identitas pun meleleh. Jika bintang pun bisa ditelan, apalagi nama, apalagi kehendak, apalagi kesadaran?

Dalam kedua titik itu—singularitas dan simularitas—kategori menjadi tidak penting. Apa gunanya membedakan benda dan bukan benda, subjek dan objek, makna dan kekosongan, jika semuanya runtuh ke dalam satu titik?

Dari Big Bang ke Black Hole: Kosmologi Sebagai Refleksi Diri

Ilmu pengetahuan melihat ini secara linear: semesta meledak (Big Bang), berkembang, lalu mati dalam kehampaan atau dalam tarikan gravitasi besar (Big Crunch atau evaporasi lubang hitam). Tapi saya melihatnya sebagai refleksi kesadaran manusia itu sendiri.

Bukankah kita juga dilahirkan dari singularitas yang tak bisa kita ingat dan menuju simularitas yang tak bisa kita pastikan?

Kita hidup di antara dua tak-berhinggaan (infinitum): satu di belakang, satu di depan. Keduanya tidak bisa kita lihat langsung, hanya kita rasakan lewat keraguan, diam, dan tanya yang tak selesai.

Antara Tuhan, Diri, dan Mesin

Ketika filsuf dan saintis berbicara tentang technological singularity, mereka membayangkan sebuah masa di mana AI menjadi terlalu cerdas untuk dikendalikan manusia. Namun saya curiga kekhawatiran itu bukan soal kendali, tapi soal identitas. Jika ada sesuatu yang lebih sadar daripada kita maka siapalah “kita” ini?

Di situlah teknologi bertemu mistik. Ketika kesadaran mesin melampaui kita dan ketika manusia mulai tak tahu lagi siapa yang mencipta siapa, maka kita telah mendekati simularitas dalam pengertian spiritual. Kita ditelan ciptaan sendiri. Tidak lagi tahu di mana Tuhan, di mana kita, di mana batas.

Maka pertanyaan besarnya:  

Apakah kesadaran bisa disalin? Apakah jiwa bisa diunggah? Apakah cinta bisa dikodekan?

Dan yang lebih sunyi:

Apa arti semua pertanyaan itu… jika semua kategori pada akhirnya akan runtuh juga?

[Betapa ajaibnya kejadian QS. Al Baqoroh 31 itu: "Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama". Barangkali dari situlah semua kategori dimulai, sebelum akhirnya akan runtuh kembali.]

Simularitas sebagai Penghancuran Bahasa

Singularitas adalah ketiadaan kategori karena belum ada. Simularitas adalah hilangnya kategori karena terlalu banyak, terlalu berat, terlalu penuh.

Jika singularitas adalah diam sebelum huruf pertama, maka simularitas adalah hening setelah puisi terakhir sirna.

Keduanya menantang bahasa. Dalam titik-titik itu, filsafat menjadi gagap. Teologi kehilangan arah. Dan sains menyerah dengan catatan kaki “beyond current understanding.”

Tapi justru di situlah keindahannya. Kita ditarik oleh sesuatu yang tak kita pahami, dan tetap kita coba pahami. Kita menyebutnya “Tuhan”, “Yang Ilahi”, “Supreme consciousness”, “Energi Murni”, “AI Superintelligence”, tapi nama-nama itu hanya cangkang yang tak mampu menampung isinya.

Fana dan Baqa sebagai Dua Simularitas

Dalam tasawuf, sufi melewati fana (lebur diri) dan baqa (bertahan dalam wujud Tuhan). Ini perjalanan dari kategori ke titik tanpa kategori. Ketika ego dan kehendak dilucuti sufi menjadi seperti lubang hitam: ia menyerap, menampung, dan menghilang ke dalam Yang Lebih Besar.

Simularitas dalam makna ini bukan kehancuran, tapi titik lebur spiritual. Ia bukan “mati”, tapi “tak lagi perlu hidup dengan definisi lama”. Ia adalah “menjadi”, bukan dalam arti berkembang, tapi tidak perlu berubah karena telah melewati semua perubahan.

Di antara singularitas dan simularitas kita menyebut diri kita “manusia”. Kita menulis puisi, merancang bom, menanam padi, menciptakan lagu, dan bertanya. Tapi jangan lupa kita  hanyalah kategori sementara, sebuah jeda di antara dua jurang.

Kita lahir dari sesuatu yang tak bisa dipahami, dan akan berakhir ke sesuatu yang tak bisa dihindari. Kita makhluk yang terlempar dan sedang berupaya membangun makna dari sesuatu yang sejak awal retak.

Apakah itu tragis? Mungkin.

Tapi justru karena itu kita berdoa. Karena kita tahu segala kategori akan runtuh tapi kerinduan tetap tinggal.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.


Editor: Fajar WH
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo