Dark
Light
Dark
Light

Ramadan, Saatnya Kembali Menulis dalam Nostalgia Profesi Mulia

Ramadan, Saatnya Kembali Menulis dalam Nostalgia Profesi Mulia

Ada kegelisahan yang mengganggu pikiran saya akhir-akhir ini. Seperti ada ruang kosong yang dulu pernah terisi, lalu lama tak terjamah. Rasa itu kembali membuncah hebat saat bertemu dengan seorang jurnalis Arina.id dalam sebuah acara di Inspektorat Jenderal Kementerian Agama (Kemenag), baru-baru ini. Seperti sebuah pintu yang terbuka kembali, percakapan singkat kami seakan membangkitkan sesuatu yang pernah saya tinggalkan: dunia menulis.

Saya memang tidak baru dalam dunia jurnalistik. Pernah menjadi wartawan Harian Umum Berita Yudha pada era 1996-an, bertugas meliput pos politik dan agama di Kemendagri dan Kemenag RI. Saat itu, dinamika politik sedang berada di puncaknya, menjelang Reformasi 1998. Saya menyaksikan langsung gelombang besar aksi massa di Senayan di kantor PDI di Jalan Diponegoro, Semanggi dan tempat lain. Di tengah arus civil society yang semakin kuat, saya bertanggung jawab untuk menuliskan peristiwa dengan objektif dan jujur, menjaga keseimbangan antara kepentingan negara dan aspirasi rakyat.

Namun, jalan hidup membawa saya ke arah lain. Tahun 2000, saya mengikuti seleksi CPNS dan lulus di Direktorat Pendidikan  Madrasah Kemenag RI. Saya akhirnya meninggalkan dunia jurnalistik dan beralih ke dunia birokrasi, mengawal pendidikan madrasah agar mampu bersaing dengan sekolah-sekolah umum di bawah Kementerian Pendidikan Nasional. Sejak itu, menulis tidak menjadi bagian rutinitas saya. Tugas kantor lebih banyak menyita waktu, dan perlahan, pena yang dulu akrab di tangan mulai jarang digunakan.

Namun, gelisah ini tak kunjung reda. Semangat menulis yang dulu begitu membara, seolah masih menyala di sudut hati saya. Mungkin inilah saatnya kembali menulis--di bulan Ramadan yang berkah, bukan sebagai wartawan yang mengejar berita di lapangan, tetapi sebagai seseorang yang ingin berbagi pengalaman, refleksi, dan pemikiran. Dunia telah berubah, dan begitu pula cara saya melihat serta memahami banyak hal. Tetapi satu hal yang tak berubah: menulis adalah panggilan jiwa yang tak bisa diredam.

Menjadi Wartawan di Era 1996

Menjadi wartawan di era 1996 adalah sebuah tantangan besar. Sensor terhadap pers masih ketat, dan wartawan harus berhati-hati dalam setiap kata yang mereka tulis.  Di masa itu, peran wartawan tidak hanya sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai penjaga kebenaran dalam situasi politik yang penuh tekanan. Hingga akhirnya, tahun 1998 saya bertugas melakukan  reportase  Sidang Umum Istimewa MPR RI   di Senayan. Di atas armada karavan jurnalistik, di kawasan Senayan, saya mengoordinasi peliputan dan menurunkan beberapa  tulisan dan analisis. Dikirim melalui jaringan internet ke kantor di Kalibata untuk diterbitkan esok harinya, dan tentu dengan penuh tanggung jawab. 

Jurnalisme 2025: Era Digital dan Tantangannya

Kini, dunia jurnalistik telah berubah drastis. Jika dulu wartawan harus membawa alat perekam, kamera besar, dan mencari narasumber secara langsung, kini semua bisa dilakukan melalui gawai. Live streaming, jurnalisme data, dan kecerdasan buatan telah menjadi bagian dari industri media. Namun, tantangan baru muncul: kecepatan informasi sering kali mengorbankan akurasi.

Di tengah derasnya arus informasi, batas antara jurnalis profesional dan masyarakat semakin kabur. Semua orang bisa menjadi "wartawan" dengan bermodalkan media sosial. Tantangan terbesar saat ini bukan hanya bagaimana mendapatkan berita, tetapi bagaimana memastikan bahwa berita yang disampaikan tetap berpegang pada etika jurnalistik.

Menulis: Pekerjaan Mulia 

Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan pikiran ke dalam kata-kata, tetapi juga sebuah pekerjaan mulia yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Jelang Nuzulul Quran  ini, para ustaz sering merujuk pada ayat yang menekankan pentingnya membaca dan menulis:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Ayat ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan yang disampaikan melalui tulisan adalah bagian dari rahmat Allah kepada manusia. Bahkan, dalam QS. Al-Qalam: 1, Allah bersumpah dengan pena (qalam), menunjukkan betapa pentingnya peran menulis dalam peradaban manusia. Rasulullah SAW juga memberikan perhatian khusus kepada para penulis, termasuk para sahabat yang ditugaskan untuk menuliskan wahyu, perjanjian, dan sejarah umat Islam.

Menulis dalam Islam bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga ibadah. Setiap kata yang bermanfaat dan membawa kebaikan bagi orang lain dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Oleh karena itu, dalam tugas apapun kita sebaiknya  menjadikan menulis sebagai bagian dari kehidupan. Tidak hanya untuk mengembangkan pemikiran dan ilmu, tetapi juga sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat.

Menulis: Jalan Hidup, Jalan Sukses

Dulu, menjadi wartawan atau penulis lepas adalah jalan saya untuk bertahan hidup. Dari dunia jurnalistik, saya memperoleh penghasilan, membangun jejaring, dan mengasah kemampuan berpikir kritis. Menulis memberi saya kesempatan untuk dikenal, membuka akses ke dunia yang lebih luas, dan bahkan membentuk karier saya di kemudian hari.

Bersyukur, perjalanan ini membawa banyak pengalaman berharga. Saya berhasil menyelesaikan pendidikan  dengan lancar, sesuatu yang mungkin tidak saya bayangkan jika tidak terbiasa berpikir dan menulis secara sistematis, dengan disertasi berjudul pesantren. Kini, saya mengabdi di Kemenag RI sebagai Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama, menjabat sebagai Inspektur pada Inspektorat Jenderal. Sebuah amanah yang menuntut integritas, keilmuan, dan tanggung jawab yang tinggi.

Namun, di tengah kesibukan ini, saya kembali merasakan panggilan untuk menulis. Karena saya yakin, menulis bukan hanya bagian dari sejarah hidup saya, tetapi juga jalan untuk terus memberi manfaat bagi generasi berikutnya. Inilah saatnya kembali menghidupkan pena, menebarkan gagasan, dan menginspirasi mereka yang akan melanjutkan perjalanan ini. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Aceng Abdul Aziz
Inspektur II Itjen Kemenag RI


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo