Dark
Light
Dark
Light

Ketika Adab Disalahpahami sebagai Kultus Individu

Ketika Adab Disalahpahami sebagai Kultus Individu

Oleh: Muhammad Haramain
Perdebatan soal penghormatan santri kepada kiai kembali mencuat setelah sebuah tayangan televisi nasional menyorot fenomena ngesot dalam tradisi pesantren. Potongan visual yang dilepas dari konteksnya segera memicu kecaman publik. Dengan cepat, istilah “kultus individu” pun disematkan kepada tradisi pesantren, seolah seluruh ekspresi penghormatan dalam dunia keagamaan identik dengan pemujaan manusia.

Masalahnya bukan pada tayangannya semata, tetapi pada cara publik memahami realitas sosial. Tradisi sering diadili tanpa dipahami. Ada jurang antara fakta dan makna.

Budaya hanya dilihat dari permukaannya saja, sementara struktur nilai yang melahirkannya luput dari perhatian. Inilah yang disebut Charles Taylor sebagai cultural misrecognition—kesalahpahaman terhadap budaya lain karena penilaian yang terburu-buru dan tidak proporsional.

Ta’zim dan Struktur Etis Pendidikan Islam
Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, adab mendahului ilmu. Ta’zim kepada guru bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari etika intelektual. Imam Malik pernah berkata, “Aku belajar adab selama 30 tahun sebelum belajar ilmu selama 20 tahun.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa proses pencarian ilmu tidak pernah berdiri sendiri; ia ditopang kualitas moral penuntutnya.

Secara sosiologis, praktik ta’zim juga dapat dipahami melalui konsep habitus Pierre Bourdieu, yakni pola perilaku yang terbentuk melalui pembiasaan dan internalisasi nilai. Ia bukan paksaan struktural, melainkan kesadaran etis dalam relasi keilmuan. Di pesantren, penghormatan kepada guru adalah perwujudan pengakuan terhadap otoritas moral dan keilmuan, bukan otoritarianisme personal.

Apa itu Kultus Individu
Kultus individu adalah fenomena psikologis dan sosial ketika seseorang diagungkan secara berlebihan hingga melampaui batas rasional. Biasanya ia ditandai oleh fanatisme, kebebalan terhadap kritik, dan perlakukan terhadap figur sebagai sumber kebenaran tunggal. Dalam sejarah politik, fenomena ini dapat ditemukan pada era Stalin, Hitler, Mao, atau bahkan tokoh agama yang diidolakan melampaui ajarannya.

Namun, perlu dibedakan: tidak setiap penghormatan adalah kultus individu. Menggeneralisasi setiap ekspresi penghormatan sebagai pemujaan adalah kekeliruan logis. Ta’zim adalah etika, sedangkan kultus individu adalah penyimpangan psikologis. Ta’zim menumbuhkan kerendahan hati, kultus individu mematikan nalar.

Ironisnya, fenomena fanatisme personal hari ini justru banyak muncul dalam ruang keberagamaan modern. Di era sosial media, sebagian masyarakat terjebak dalam keberagamaan berbasis figur. Ustaz, dai, atau pendakwah diperlakukan bak ikon yang tak boleh dikoreksi. Potongan ceramah di TikTok lebih dipercaya ketimbang kitab. Judul video clickbait dianggap lebih otoritatif daripada tradisi intelektual yang panjang. Fanatisme digital ini kadang jauh lebih berbahaya dari tradisi pesantren yang dituduh kolot, karena ia bekerja secara masif tanpa filter epistemik.

Bias Membaca Tradisi
Mengapa ta’zim mudah dicurigai sebagai praktik keagamaan yang irasional? Karena ada cultural bias dalam melihat tradisi. Standar yang digunakan adalah rasionalitas modern yang menolak simbolisme. Dalam kacamata inilah muncul apa yang disebut Miranda Fricker sebagai ketidakadilan epistemik,di mana sebuah komunitas tidak diberi kesempatan menjelaskan makna dunianya sendiri karena telah lebih dulu dihakimi.

Di sinilah media perlu berhati-hati. Stuart Hall mengingatkan bahwa media bukan sekadar menyampaikan realitas, tetapi membingkai realitas. Ketika kamera hanya merekam bentuk tanpa menjelaskan makna, yang lahir adalah prasangka. Liputan yang viral bukan berarti benar; ia hanya cepat.

Relasi Ilmu, Adab, dan Nalar Sehat
Dalam psikologi pendidikan, Thomas Lickona menegaskan pentingnya penghormatan kepada otoritas moral dalam pendidikan karakter. Itu sebabnya, ta’zim dalam tradisi Islam tidak pernah dimaksudkan untuk menutup pintu kritik atau membangun relasi kuasa. Justru sebaliknya, ia memuliakan ilmu dan menanamkan kedisiplinan spiritual.

Selama penghormatan tidak menghapus daya nalar, selama guru tetap manusia yang bisa dikritik dengan adab, maka tidak ada yang salah dalam tradisi ta’zim. Justru yang harus diwaspadai adalah fanatisme yang tumbuh dari ketidaktahuan, apalagi jika dibungkus dengan jargon agama.

Pada akhirnya, yang berbahaya bukan tradisi, melainkan sikap intelektual yang malas memahami. Yang merusak kehidupan beragama bukan penghormatan, tetapi pemujaan. Yang melemahkan peradaban bukan warisan tradisi ulama, tetapi keberagamaan instan yang terputus dari akar keilmuan.

Penutup
Agama tidak pernah meminta manusia memuja manusia. Tetapi agama juga tidak pernah melarang penghormatan kepada guru. Tradisi ta’zim adalah jalan adab, bukan jalan kultus.

Hal kita perlukan hari ini bukan saling menuduh sesat atau kolot, tetapi kedewasaan berpikir. Jangan biarkan logika viral menggantikan logika ilmiah. Sebelum menilai, belajarlah memahami.

Muhammad Haramain, Dosen dan Ketua LPPM IAIN Parepare


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo