Harry Kane meninggalkan Tottenham Hotspur pada Agustus 2023 dengan masygul. Betapa tidak. Kane adalah salah satu penyerang terbaik dunia, pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub, tapi belum pernah memenangkan trofi utama. Tiga tahun kemudian, pemain yang sempat menjadi bahan olok-olok karena ketiadaan gelar itu berdiri di London menerima Ballon d’Or 2026. Sebuah ironi dalam perjalanan sepak bola modern.
Kane kini berusia 33 tahun. Ia menjadi pemain Inggris yang meraih Ballon d’Or sejak Michael Owen pada 2001. Seperempat abad penantian Inggris berakhir melalui seorang pemain yang justru harus meninggalkan Premier League untuk mendapatkan pengakuan tertinggi. Padahal, Liga Inggris selama ini dianggap sebagai salah satu liga paling bergengsi, kompetitif, sekaligus paling kaya di dunia.
Angka-angka Kane memang sulit dibantah. Sepanjang musim 2025/2026, ia mencetak 73 gol dalam 65 pertandingan bersama Bayern Munich dan tim nasional Inggris. Sebanyak 61 gol lahir bersama Bayern, termasuk 14 di Liga Champions. Ia juga membantu klubnya memenangkan Bundesliga dan DFB-Pokal. Namun, Kane tidak menjuarai Liga Champions ataupun Piala Dunia. Inggris terhenti di semifinal.
Di sinilah Ballon d’Or kali ini menjadi menarik. Kane mengungguli Kylian Mbappe dan Lamine Yamal, pemain muda Spanyol yang bahkan berhasil memenangkan Piala Dunia. Pemilih tampaknya lebih menghargai konsistensi individual Kane daripada keunggulan prestasi kolektif para pesaingnya. Sebuah keputusan yang tentu terbuka untuk diperdebatkan.
Selama bertahun-tahun, sepak bola terbiasa mengukur kehebatan melalui trofi. Seorang pemain bisa mencetak ratusan gol, tetapi tetap dianggap belum lengkap jika tidak pernah mengangkat piala. Kane mengalami penghakiman semacam itu ketika membela Tottenham. Kesetiaannya kepada klub yang membesarkan namanya justru membuat ia dinilai sebagai pecundang. Hanya lantaran ia tak pernah mengangkat trofi.
Keputusannya pindah ke Bayern penuh pengorbanan. Kane meninggalkan peluang mengejar rekor 260 gol Premier League milik Alan Shearer. Ketika hengkang, ia telah mengoleksi 213 gol. Rekor itu bukan mustahil ia kejar. Tapi Kane memilih sesuatu yang belum dimilikinya: kesempatan memenangkan gelar bersama tim.
Menariknya, ia justru memperoleh penghargaan individual tertinggi setelah memilih mengejar keberhasilan kolektif. Kane harus meninggalkan kemungkinan mencatatkan rekor pribadi yang monumental demi merengkuh pengakuan yang lebih besar.
Kane menghadirkan kontras dengan wajah sepak bola kontemporer. Ketika industri sepak bola semakin terobsesi kepada pemain muda, popularitas media sosial, dan aksi individual yang spektakuler, Kane menawarkan kehebatan yang relatif bersahaja. Ia tidak memiliki kelincahan menggiring bola seperti Yamal atau kecepatan Mbappe. Kekuatannya justru terletak pada kecerdasan membaca permainan, mencari ruang, dan menyelesaikan peluang.
Analisis statistik Opta memperlihatkan sesuatu yang lebih penting daripada jumlah golnya. Sepanjang musim lalu, Kane mencetak gol dalam 47 pertandingan berbeda dan tidak pernah melewati lebih dari dua pertandingan berturut-turut tanpa mencetak gol. Konsistensi semacam itu barangkali tidak menghasilkan banyak cuplikan viral, tetapi sangat menentukan perjalanan sebuah tim.
Pada usia ketika sebagian penyerang mulai kehilangan ketajaman, Kane justru mencapai puncak. Ia memperlihatkan bahwa pengalaman, disiplin, dan kemampuan beradaptasi dapat mengimbangi keunggulan fisik pemain yang lebih muda.
Tentu Ballon d’Or bukan ukuran mutlak kehebatan. Sepak bola tetap permainan sebelas orang. Seorang gelandang yang mengatur permainan atau bek yang menyelamatkan tim dari kekalahan bisa sama pentingnya dengan pencetak gol. Penghargaan individual selalu mengandung keterbatasan ketika diterapkan pada olahraga kolektif.
Namun, kemenangan Kane memberi pelajaran lain tentang zaman yang kerap berlari cepat. Kita hidup dalam budaya instan. Ingin segera melihat hasil tanpa ikhtiar panjang nan sabar. Pemain muda cepat-cepat dinobatkan sebagai calon legenda, pelatih cepat dianggap gagal, dan karier seorang atlet sering dinilai dari keberhasilan sesaat. Kane tidak. Perjalanannya cukup panjang, termasuk kegagalan berulang, sebelum akhirnya memperoleh pengakuan tertinggi.
Inilah sisi manusiawi. Kane tidak memenangkan Ballon d’Or karena ia tiba-tiba menjadi pemain hebat. Ia sudah hebat jauh sebelum penghargaan itu datang. Yang berubah adalah keadaan, kesempatan, dan cara sepak bola modern memandang pencapaiannya.
Pergi dari Tottenham untuk merebut trofi, Kanw pulang ke London tiga tahun kemudian mengangkat Ballon d’Or. Kota yang sama, tapi dengan cerita yang berbeda. Kane akhirnya memperoleh pengakuan yang selama ini seolah tertunda.
Wibowo Prasetyo
Penulis adalah penikmat sepak bola, Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan
Editor: Muhammad Taufiq


