Senin malam, 26 Oktober, Dongqiudi menyebut ucapan Kylian Mbappe “tidak pantas” dan “melukai perasaan rakyat China”. Aplikasi komunitas sepak bola yang populer di China itu menjadi pemantik pertama.
Selasa siang, lima dari sepuluh topik terpopuler Weibo memuat nama Mbappe, dan Dongpeng, Mengniu, serta produsen keju Milkground mengumumkan pemutusan kontrak dengan kalimat yang nyaris kembar. China Media Group menghentikan siaran La Liga, Asosiasi Sepak Bola China melayangkan protes keras ke Real Madrid, dan sebelum hari itu berganti Mbappe sudah meminta maaf.
Rabu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan Beijing “menanggapi serius” permintaan maaf tersebut.
Susunan peristiwa itu semuanya berawal dari satu potongan wawancara di The Bridge, acara bincang daring asal Prancis. Ditanya soal meme dirinya yang paling dia sukai, Mbappe menyebut video berisi wajahnya yang ditempel ke tubuh berjas biru milik seorang pria yang dia kira “diktator China”. Dia tertawa dan mengaku sering mengirim video itu ke teman-temannya. Nama Mao Zedong tidak pernah keluar dari mulutnya, tetapi siapa pun yang melihat gambarnya tahu siapa yang dimaksud.
Ada ironi yang luput dari banyak pemberitaan. Pada September lalu, Mbappe sendiri mengeluhkan meme yang menjulukinya diktator sejak Piala Dunia 2026. Dia bilang tidak suka disamakan dengan para pembunuh, sebab dia “tidak pernah membuat jutaan orang menderita”. Pemain yang paham betul bobot kata itu ketika diarahkan kepadanya ternyata santai saja menempelkannya pada pemimpin sebuah bangsa lain, sambil tertawa, di depan kamera.
Penilaian Mbappe atas Mao sebenarnya tidak jauh dari temuan para sejarawan. Kelaparan akibat Great Leap Forward atau "Lompatan Jauh ke Depan" pada 1958 hingga 1962 menewaskan sekitar 30 juta orang menurut estimasi yang paling sering dikutip, dan sebagian peneliti memperkirakan angkanya lebih tinggi. Partai Komunis China mengakui kekeliruan Mao di masa tuanya lewat resolusi sejarah 1981, tetapi menetapkan jasanya tetap jauh lebih besar. Rumusan itu dijaga ketat sampai hari ini. Wajah Mao tercetak di semua pecahan uang kertas yuan dan potretnya masih terpasang di Gerbang Tiananmen, sehingga mengejeknya berarti mengusik dasar legitimasi partai.
Tabu ini berlaku keras bagi warga China sendiri. Pada 2015, Bi Fujian, pembawa acara kondang CCTV, terekam menyelipkan ejekan terhadap Mao saat menyanyikan lagu opera revolusioner di sebuah jamuan makan pribadi. Videonya bocor, dia meminta maaf secara terbuka, CCTV menjanjikan hukuman berat, dan wajahnya lenyap dari layar. Mbappe hanya mengalami versi luar negeri dari disiplin yang sudah lama diterapkan ke dalam.
Pertanyaan yang banyak beredar, apakah partai yang memerintahkan semua ini, lebih mudah dijawab dengan melihat urutan kejadiannya. Pemicunya sebuah forum komersial, disusul warganet, lalu merek-merek swasta, sementara Kementerian Luar Negeri baru bersuara sesudah kontrak-kontrak itu diputus. Jessica Chen Weiss dalam Powerful Patriots(2014) menemukan pola serupa pada protes anti-Jepang dan anti-Amerika di China sejak 1985. Menurut Weiss, Beijing jarang menyulut amarah publik secara langsung. Pemerintah memilih kapan amarah itu dibiarkan tumbuh dan kapan diredam, lalu menjadikan pilihan tersebut pesan bagi negara lain tentang seberapa serius sebuah isu.
Dalam kasus Mbappe, penghentian siaran La Liga oleh China Media Group menjadi tanda bahwa amarah ini direstui. Sesudah tanda itu muncul, menjaga jarak dari Mbappe berubah menjadi kewajiban bagi semua perusahaan yang pernah berurusan dengannya. Contoh paling terang datang dari RedNote. Platform itu ikut mengumumkan bahwa kemitraannya dengan Mbappe sudah berakhir pada 31 Desember 2024, hampir dua tahun sebelum skandal ini, lalu menghapus materi promosinya dan membekukan fitur pengikut di akunnya. Pengumuman tentang kontrak yang sudah lama mati hanya punya satu kegunaan, yakni memastikan publik dan regulator melihat perusahaan itu berdiri di sisi yang benar.
Peran Dongqiudi juga layak diperhatikan. Forum itu hidup dari lalu lintas pengunjung, dan isu yang menyentuh harga diri nasional selalu mendatangkan klik, komentar, serta dukungan dari akun-akun resmi. Media dan pemengaruh yang paling dulu bersuara mendapat panggung, sedangkan yang diam berisiko dituding tidak cinta tanah air. Nasionalisme daring di China tumbuh dari perasaan yang tulus sekaligus dari insentif ekonomi platform, dan negara tidak perlu mengatur keduanya secara rinci untuk menikmati hasilnya.
Merek asing memilih cara yang lebih senyap. Beberapa merek mewah dilaporkan menghapus unggahan bergambar Mbappe dari akun Weibo mereka tanpa pengumuman apa pun. Merek China perlu terlihat patriotik di depan konsumennya, sedangkan merek Eropa cukup memastikan tidak ikut terseret. Pertimbangan keduanya sama. Wajah Mbappé bisa diganti dalam satu musim kampanye, sementara akses ke pasar China tidak punya pengganti.
Permintaan maaf Mbappe patut dibaca sebagai dokumen bisnis. Dia menyebut komentarnya kurang dipertimbangkan dan menyatakan “hormat mendalam kepada rakyat China dan sejarahnya”, tanpa menjelaskan sejarah mana yang dia hormati. Tidak ada koreksi atas penilaiannya tentang Mao, dan tidak ada pula pembelaan. Kalimat seperti itu disusun oleh tim yang menghitung nilai kontrak, dan Beijing paham betul hal tersebut. Kementerian Luar Negeri pun puas dengan kalimat yang tepat di depan publik, apa pun isi kepala orang yang mengucapkannya.
Kasus ini memperlihatkan siapa saja yang kini menjaga tafsir resmi tentang Mao. Penjaganya tidak selalu berseragam atau duduk di kantor propaganda. Penegaknya bisa berupa forum sepak bola, perusahaan susu, atau aplikasi gaya hidup yang mengumumkan pemutusan kontrak yang sudah kedaluwarsa. Negara cukup hadir di ujung, memberi restu lewat televisi dan juru bicara, lalu menerima permintaan maaf sebagai penutup cerita. Biaya politiknya hampir nol, sebab Beijing tidak menerbitkan satu pun aturan dan tetap bisa menyebut semua reaksi itu sebagai suara spontan masyarakat.
Dampaknya merembet jauh ke luar China. LaLiga menyatakan sangat menyesal atas ketersinggungan penggemar China dan berjanji menyusun “protokol komunikasi” bagi pemain dan klubnya. Sebuah liga papan atas Eropa kini menyesuaikan tutur kata para pemainnya dengan kepekaan politik sebuah pasar, padahal ucapan Mbappe terlontar di Prancis, dalam bahasa Prancis, untuk penonton Prancis. Pola serupa pernah menimpa NBA pada 2019 sesudah manajer umum Houston Rockets Daryl Morey mencuitkan dukungan bagi demonstran Hong Kong. Liga bola basket terkaya di dunia itu memilih meredam pegawainya sendiri ketimbang kehilangan siaran di China.
Beijing tidak perlu mengirim satu nota diplomatik pun untuk membuat bintang termahal Real Madrid tunduk. Dalam dua hari, pemain yang biasa mengatur irama laga di Santiago Bernabeu merilis permintaan maaf, liga tempatnya bermain ikut menyatakan penyesalan, dan merek-merek yang dulu memajang wajahnya di stasiun kereta bawah tanah menghapusnya tanpa ragu. Kekuatan China hari ini terletak pada kemampuan membuat dunia menyesuaikan diri sebelum diminta. Mao pernah berkata kekuasaan politik tumbuh dari laras senapan. Penerusnya menemukan alat yang jauh lebih murah, yakni pasar 1,4 miliar orang dan sebuah tagar di Weibo.
Virdika Rizky Utama
Mahasiswa Doktoral Politik China, Nanyang Technological University, Singapura
Editor: Muhammad Zunus


