Apa saja halal untuk kepentingan belajar. Prinsip ini berlaku juga dalam hal mencanggihkan kemampuan bahasa Inggris—dan bahasa asing lainnya, terutama karena tuntutan membaca literatur sumber.
Di zaman itu, di akhir 1990-an, setahu saya, anak-anak muda NU bahkan sudah menuntut dirinya sendiri bukan hanya membaca Das Capital-nya Karl Marx, tetapi juga karya-karya kontemporer, untuk menyebut beberapa, seperti Of Gramatology-nya Jacques Derrida, the Archaeology of Knowledge karya Michel Foucault, Wretched of the Earth karya Frantz Fanon, bahkan dalam versi bahasa Prancisnya.
Bagaimana itu mungkin? Kemampuan bahasa Inggris juga sudah pasti pas-pasan, dan apalagi bahasa Prancis yang tidak dimungkinkan bisa dikuasai dengan cepat. Jangan salah, mereka semua ini adalah santri, bila belajar bahasa secara regular tidak cukup efektif untuk menumbuhkan kemampuan membaca literatur-literatur asing tersebut, maka jalan pintasnya adalah dengan cara wirid.
Kisah ini benar-benar terjadi, subyek utamanya adalah Mas Anom Surya Putra. Di masa itu, ia adalah satu-satunya orang éLSAD yang dianggap fasih berbahasa Prancis, dan buku yang sering ditenteng ke mana-mana adalah Of Gramatology-nya Jacques Derrida. Saya mendengar sendiri bahwa ia menemukan metode wirid dari seorang kiai muda, dari Alas Tengah, Probolinggo. Namanya Kiai Saleh.
Pesantrennya memang khusus mengajarkan wirid agar para santri bisa menguasai banyak bahasa. Konon, di masa itu, Kiai Saleh sendiri tengah belajar menguasai bahasa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Saya sendiri sering mendapat demontrasi langsung, bagaimana Mas Anom membaca buku-buku berbahasa Prancis, terutama terkait Hermeneutika, dan seketika itu juga menjelaskan isi bukunya dengan sangat jernih. Terutama, karena saya—dan mungkin teman-teman yang lain memang tidak bisa berbahasa Prancis dan tidak menemukan buku-buku tersebut dalam versi terjemahan Indonesia.
Semua orang terperangah menyaksikan kemampuan Mas Anom. Bahkan, ia sendiri memposisikan dirinya sebagai orang kepercayaan Kiai Saleh dan memberikan akses kepada siapa saja yang mau mengamalkan wirid bahasa itu, dengan cara nyantri langsung ke Alas Tengah, atau sekadar membayar mahar dan mendapat ijazah dengan sekali tatap muka dengan sang Kiai.
Saya pernah bereksperimen, mengirimkan kader-kader mahasiswa saya, pergi ke Alas Tengah, mewiridkan ijazah Kiai Saleh, meski pada akhirnya semua orang gagal. Tetapi wirid itu, benar-benar nyata adanya. Sesudah mendapatkan ijazah, para pengamal biasanya seperti orang ‘kesurupan,’ setiap mendapat stimulus bahasa asing dari film yang tampil di televisi atau radio (atau media lain), subyeknya selalu terpicu untuk merapalkan semua kosa-kata bahasa asing tanpa disadari.
Ada tahapan, semua bahasa asing itu menjadi tumpang-tindih, dalam kesadaran maupun dalam artikulasi subyek. Tapi bila wirid dijalankan dengan istiqamah, maka lama-kelamaan semua bahasa asing akan terklasifikasi dengan alamiah, sehingga sampai pada tahap ketika penuturnya fasih berkomunikasi dengan banyak bahasa asing, termasuk kemampuan menulis dengan bahasa-bahasa tersebut.
Hingga saat ini, kisah kesuksesan belajar bahasa asing dengan cara wirid itu, bagi saya sendiri masih seperti dongeng, karena kader-kader yang saya kirim ke Alas Tengah, tidak ada satu pun yang berhasil. Di éLSAD sendiri, lebih banyak orang yang tidak percaya dengan metode ini. Dalam kasus kemahiran Mas Anom berbahasa Prancis misalnya, orang seperti Maulidin, sang Direktur, tidak pernah mempercayainya sebagai hasil dari wirid.
Bagi Maulidin, kemampuan Anom dalam bahasa Prancis ya, semata-mata tebentuk karena dia mengikuti kursus regular bahasa tersebut di Pusat Kebudayaan Prancis, di Surabaya. Kisah ini sengaja saya tuturkan kembali setelah dua puluh tahun berselang, semata-mata untuk menggambarkan betapa, semua cara belajar dianggap sah dan halal bagi anak-anak muda NU, yang memikul beban kesejarahan sebagai kaum sarungan, dalam proses pembuktian dirinya sebagai seorang intelektual.
Tengkulak Informasi
Berbekal metode wirid atau tidak, satu hal yang pasti, di masa itu orang mau tidak mau harus mampu menjadi bagian dari perbincangan intelektual yang dipengaruhi oleh pesona filsafat kontinental yang begitu menyihir. Sekali lagi, mampu menjadi bagian dari perbincangan tentang dekonstruksinya Derrida, kritik pengetahuan ala Foucault, dan sederet metode yang diintrodusir oleh filsul lainnya, seolah-olah menjadi standar ‘keadaban’ tersendiri bagi anak-anak muda itu.
Belum lagi pengaruh dari pemikiran kontemporer Islam. Selain harus bisa cas-cis-cus berbicara tentang dekonstruksi dan hermeneutika, orang juga dituntut ngeh dengan perbincangan tentang metode kritik nalar ala Arkounian, pembebasan ala Hassan Hanafi, hingga kritik tradisi ala Abed Al-Jabiri, untuk menyebut beberapa diantara mereka. Bila ada yang tidak mampu mengikuti tema-tema tersebut, maka bersiap-siaplah menjadi pendengar pasif di lingkaran itu.
Menariknya, dalam circle seperti ini, semua orang memacu dirinya untuk mencari jalan pintas paling cepat, hanya dalam rangka bisa mengikuti obrolan. Tidak penting lagi, mau baca buku utuh atau sepotong-sepotong, membaca sumber primer atau hanya review-nya, orang dipaksa untuk mampu satu frekuensi dengan obrolan yang mengalir dan menggelinding, tiap hari, tiap saat.
Pada periode awal ketika saya mulai berkiprah di éLSAD misalnya, saya ingat betul betapa tiap hari, kami sesungguhnya lebih banyak membaca review daripada buku-buku primernya. Bila mau disampaikan dengan jujur, saya sendiri sesungguhnya, tidak pernah paham membaca Of Gramatology dalam versi aslinya. Saya baru sedikit memahami sesudah membaca sejumlah review para ahli.
Dan, mendapatkan review yang otoritatif pun bukan perkara mudah di masa itu. Akses terhadap internet sangat terbatas, dan di éLSAD, satu-satunya ‘penguasa’ atas akses tersebut adalah Maulidin, sang Direktur. Maka, untuk sekadar mendapatkan sumber-sumber tersebut, kami biasanya menunggu ‘kemurahan’ hati sang Direktur, atau Direktur memang sedang punya agenda menulis yang membutuhkan banyak sumber, lalu kami (bisa berlima atau lebih orang) mendapatkan print-out-an buku atau review buku tersebut, sebelum akhirnya semua orang diminta menerjemahkannya secara bebas.
Butuh waktu seminggu penuh, bahkan lebih untuk menerjemahakan sumber-sumber tersebut. Itu juga karena kemampuan bahasa Inggris rata-rata kami, memang benar-benar pas-pasan. Meski begitu, prinsip dasarnya adalah, membaca dan menerjemah. Soal kesahihannya, itu urusan kedua puluh tujuh. Ini adalah bagian dari metode “hantam krama” yang sudah saya singgung di awal.
Bayangkan, hampir tiap hari, pekerjaan kami di éLSAD hanyalah membaca dan menerjemah. Saya tidak tahu bagaimana metode yang digunakan di ‘padepokan’ lain ya, tapi begitulah kami melalui proses harian ketika mengelola jurnal Gerbang. Membaca sumber-sumber informasi baru dan menerjemahkannya adalah pola yang standar.
Sampai, bila tiba momennya, sesudah satu minggu berselang, maka mulailah digelar diskusi bebas. Biasanya, Maulidin kembali yang mengumpulkan orang-orang, dan dalam pertemuan yang tidak pernah menghitung jam itu, setiap orang diminta untuk menceritakan hasil terjemahan dan hasil bacaannya. Tidak menghitung jam karena dalam praktiknya, diskusi seperti ini bisa berlangsung semalaman. Bisa juga berganti hari, masih dengan tema obrolan yang sama.
Lama sekali saya merefleksikan metode belajar seperti ini. Sudah pasti Maulidin akan menjadi pengepul informasi dan pengetahuan, satu-satunya. Cara ini sesungguhnya sudah berlangsung sejak éLSAD berdiri tahun 1996, dan tetap bertahan hingga saya menjadi bagian di tahun 2000an. Tentu saja tidak ada yang salah dengan semua itu, karena secara faktual setiap orang juga pasti mendapat ‘berkah’ dari proses belajarnya sendiri-sendiri, tetapi satu hal yang pasti, pengepul informasi dan pengetahuan itu, pastilah akan menjadi orang yang paling otoritatif—setidaknya menurut dirinya sendiri.
Di ruang publik bebas hambatan itu, semua orang harus berbicara canggih. Ini bagian dari ‘kegenitan’ zamannya. Ada adagium yang lumrah bagi orang-orang di masa itu, “makin ruwet, makin ilmiah.” Prinsip ini berlaku sama, di saat berdiskusi maupun menuliskannya. Dengan gaya kritisisme yang khas santri (karena bagaimana pun sebagian besar orang dibekali dengan mantiq), kami berdiskusi serumit mungkin, bahkan melebihi kerumitan gagasan induknya.
Saat mendiskusikan ruang publik Habermasian, misalnya, diskusi itu bisa mendendang-dendang sampai batas tidak ditemukan kembali di dalam teks rujukannya. Misalnya, apakah bahsul matsail dalam tradisi pesantren itu bisa disebut sebagai ruang publik seperti dirumuskan oleh Jürgen Habermas? Selain mekso, diskusi tepi jurang seperti ini juga pasti tidak bisa dikonfirmasi kembali kepada sumber-sumber primernya.
Konfirmasi intelektual untuk medapatkan kesahihan, bukan lagi hal penting. Orang-orang di zaman itu, dibesarkan oleh keberanian, kenakalan, dan kegenitan-kegenitan tersengaja karena, keadaan memang menuntut demikian.
Akhol Firdaus
Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR) UIN SATU Tulungagung
Editor: Muhammad Zunus


