Pada awal abad ke-XX, mata Kartini diberikan untuk buku-buku berbahasa Perancis. Ia ingin mengerti pemikiran-pemikiran dari Perancis, tak melulu Belanda. Ia memang mahir berbahasa Belanda tapi mengusahakan lancar berbahasa Perancis. Kartini terpikat Perancis tapi kaki tak pernah berjejak di sana. Perancis datang ke rumah melalui bacaan-bacaan.
Buku demi buku disantap dengan gairah. Kartini menerima dan mengakui beragam pokok pemikiran khas Perancis: kebebasan, persamaan, persaudaraan. Ia menilik sejarah. Ia mengagumi kesusastraan. Perancis lekas diakui sebagai “sumber” atau “pusat”. Kartini tetap berada di rumah. Pengembaraan terjadi dengan bacaan-bacaan dan surat-surat ditulis bergerak ke Belanda.
Di lembaran-lembaran surat untuk sahabat di benua jauh, Kartini mengabarkan: “… kami bertiga sekarang mulai belajar bahasa Perancis dari buku-buku Servas de Buijn. Kami telah sempoyongan menghabiskan empat buah buku dan datanglah sekarang waktunya bertanya kepadamu menyebutkan buku-buku Perancis yang sederhana dan mudah.” Ia ingin mahir dan menikmati beragam pemikiran dan imajinasi berasal dari Perancis. Keinginan agar tak sekadar membaca Perancis dalam terjemahan bahasa Belanda. Pramoedaya Ananta Toer (1962) menganggap Kartini memang bereferensi Perancis dalam mengimpikan demokrasi dan melawan feodalisme. Hasrat mengerti Perancis itu tak terselenggara lama akibat kematian.
Seratus tahun setelah Kartini pamit, murid-murid di Indonesia melulu mendapat pelajaran tentang Kartini rajin menulis surat-surat berbahasa Belanda. Buku sering disebut dalam pidato dan omongan diterangkan mula-mula dalam bahasa Belanda: Habis Gelap Terbitlah Terang. Masalah Kartini dan Perancis jarang mendapat pembahasan meski selusin menit atau 3 paragraf. Kita sengaja mengingat Kartini untuk menuju Paris (Perancis). Olimpiade Paris 2024 bakal membuat kita memberi perhatian besar untuk olahraga. Di siaran atau publikasi, kita tentu bakal mendapat imbuhan-imbuhan mengenai pelesiran, sastra, seni, pendidikan, kuliner, dan lain-lain.
Murid-murid tak mengetahui jika Kartini pernah terpikat Perancis. Kartini bukan memikirkan olahraga tapi sejarah, politik, filsafat, dan sastra. Murid-murid di Indonesia diajak mengetahui Perancis melalui buku-buku pelajaran, terutama Ilmu Bumi. Mereka pun membaca Perancis di majalah dan koran. Perancis itu bacaan agar mereka bermimpi bisa menuju Perancis untuk belajar, melancong, atau berdagang.
Pada masa 1950-an, murid-murid di Indonesia berimajinasi dunia. Mereka ingin mengetahui negara-negara di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Buku atlas tak mencukupi untuk memenuhi hasrat pengetahuan. Buku pelajaran pun dianggap “pelit” dalam memberi godaan imajinasi. Murid-murid perlahan menikmati dongeng atau cerita berasal dari Perancis meski dalam terjemahan bahasa Indonesia. Segala hal ingin diketahui perlahan mengantar mereka ke kamus dan ensiklopedia.
Pada 1956, terbit buku berjudul Di Perantjis susunan HJ Lindt. Buku edisi terjemahan bahasa Indonesia itu diterbitkan oleh Ganaco, Bandung. Misi penerbitan buku: “… membawa murid ke negara-negara di dunia ini untuk mengenal negara dan bangsa lain, keadaan tanah, hasil bumi, mata pentjaharian penduduk, adat istiadatnja. Lebih-lebih dalam abad ke-20 ini, jang seolah-olah tidak mengenal batas negara dan bangsa itu, wadjib tiap-tiap bangsa mengenal tetangganja.” Buku sengaja dipersembahkan untuk murid-murid dan para guru SD. Buku itu tipis tapi berkhasiat bagi pembaca ingin mendalami dampak Revolusi Perancis dan pengaruh-pengaruh di Indonesia.
Buku lawas agak mustahil dibaca kembali saat kita menjelang Olimpiade Paris 2024. Murid-murid SD tak perlu lagi mencari atau membaca buku lama. Mereka mudah belajar tentang Prancis melalui siaran-siaran televisi atau beragam pencarian di internet. Perancis “tak terlalu” jauh saat teknologi menggampangkan keinginan mengetahui seribu perkara.
Kita membuka buku lawas untuk mengandaikan kekaguman murid-murid masa lalu: “Di mulut orang asing, kota Paris terkenal sebagai ‘la ville lumiere’ artinja ‘kota tjahaja’. Sesungguhnja, pemberian nama itu beralasan djuga. Paris memang termashur karena keindahan boulevard-boulevardnja – djalan lebar jang dihiasi dengan pohon-pohon di kedua belah pihaknja – dan karena gedung-gedung besar dan pelbagai tugu peringatan jang serba mengagumkan.” Keterangan itu mungkin tak berlaku lagi di Paris abad XXI. Kota itu berubah. Kota itu dalam tegangan zaman berbeda, tak lagi sama dalam bacaan-bacaan lama.
Dulu, murid-murid SD sekadar berimajinasi Paris. Mereka beruntung saat mendapat bacaan dilengkapi foto-foto meski hitam-putih. Paris itu indah. Mereka tak meragu tapi susah mendapatkan pengalaman mengunjungi Paris.
Pada masa lalu, Perancis dibaca dan dipikirkan Kartini. Pada masa 1950-an, murid-murid ingin mengenali Prancis melalui bacaan-bacaan. Pada masa 1920-an, Perancis itu pengalaman biografis Salim. Kita mengetahui dari buku berjudul Rantau dan Renungan (1992). Ia bercerita: “Pertama kali, saya datang ke Paris pada tahun 1928. Umur saya 20 tahun. Saya datang dari Belanda, di mana saya baru tamat belajar di Gymnasium.” Pikat di Paris itu seni rupa. Salim datang bermisi seni.
Ia betah tinggal di Paris. Puluhan tahun tinggal di Paris, menghasilkan lukisan-lukisan. Ia jarang pulang ke Indonesia. Kesaksian disampaikan: “Kota Paris yang saya kenal pada tahun 1920-an dan 1930-an sangat lain daripada Paris sekarang ini (1990-an). Dengan sendirinya, banyak hal-hal konkret telah berubah. Kotanya makin besar dan padat. Teknologinya makin maju. Tetapi, ada juga perubahan lain dalam cara hidup dan sikap orang-orang Paris. Dan, perubahan itu mengarah kepada kemerosotan.”
Pada masa lalu, Salim mengalami hidup di Paris dalam hasrat seni dan pengetahuan. Ia tak mengalami Paris sebagai kota untuk hajatan olahraga terbesar di dunia. Pengisahan dari Salim itu membekali kita saat mengamati Paris abad XXI. Kita memang bakal mendapat kadar besar pemberitaan dan pengisahan olahraga tapi selingan atau imbuhan seni di Paris tetap memberi kekaguman.
Kita menantikan Olimpiade Paris 2024 sambil mengenang tokoh-tokoh dan beragam bacaan lama. Ikhtiar agar tak terlalu kaget. Siasat mengartikan Paris tak selalu dalam berita dan cerita mutakhir. Paris (Perancis) terbukti telah lama dalam pikiran dan imajinasi orang-orang Indonesia, sejak Kartini sampai Salim. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


