Saya hadir di Muktamar NU Lirboyo pada 1999, saat saya sedang mesantren di situ. Saya kembali menghadiri Muktamar NU Donohudan, Solo, pada 2004, kebetulan lokasinya tak jauh dari tempat saya kuliah.
Muktamar NU Makassar 2010 menjadi pengecualian. Saya melewatkannya karena tak mampu membeli tiket pesawat.
Lima tahun kemudian, saya kembali hadir di Muktamar NU Jombang 2015. Begitu pula pada Muktamar NU Lampung 2021, kali ini sambil mengawal mertua yang ketika itu merupakan Rais Syuriah PCNU.
Pada Muktamar NU Tambakberas 2026, saya kembali datang. Kali ini setelah mendapatkan tumpangan dari seorang kawan dari Ciputat.
Selama lima kali mengikuti muktamar, saya tidak pernah menjadi peserta resmi yang memiliki hak suara. Saya datang semata karena senang berada di tengah kerumunan nahdliyyin. Bertemu orang-orang NU dari berbagai daerah, mendengarkan cerita mereka, dan ikut larut dalam obrolan adalah pengalaman yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Karena itu, rasanya menyenangkan jika pengalaman semacam ini bisa diulang secara periodik.
Saya tidak sendirian. Ada ribuan nahdliyyin datang dengan status serupa. Mereka dengan sadar menyebut dirinya romli—rombongan liar. Belakangan, istilah itu diperhalus menjadi romlah—rombongan lillahi ta'ala. Apa pun namanya, kami adalah orang-orang yang datang ke muktamar tanpa mandat organisasi dan tanpa hak suara, tetapi punya rasa ingin tahu apa yang sedang berlangsung di tubuh Nahdlatul Ulama.
Menariknya, kelompok tak resmi ini difasilitasi dengan baik. Di setiap gelaran muktamar, ada ruang-ruang yang boleh dimasuki siapa saja. Tanpa barcode, atau harus menyesuaikan tekstur wajah dengan kartu. Meski demikian ada ”ruang khusus” yang aksesnya sangat terbatas. Ruang itu biasanya terjaga ketat, tempat para pemilik suara berkumpul untuk menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Di luar itu, romlah-romli ini bisa masuk meski terkadang harus menghadapi pertanyaan tim keamanan.
Forum bahtsul masail, misalnya. Di sana kita bisa menyaksikan para kiai dan ustaz dari berbagai penjuru Nusantara bermusyawarah membahas persoalan-persoalan hukum Islam kontemporer. Ada pula forum diskusi yang mempertemukan banyak gagasan, yang digelar sebagai pendukung acara. Pertunjukan musik dan salawat hadir sebagai hiburan gratis bagi masyarakat. Bazar menawarkan berbagai pernak-pernik NU yang kadang membuat kita pulang membawa sesuatu yang sebenarnya tidak direncanakan untuk dibeli.
Harus diakui daya tarik utama muktamar adalah interaksi dengan sesama nahdliyyin di luar forum-forum resmi. Berbicara tentang apa saja, dari persoalan serius sampai hal-hal remeh, dengan sesekali diselingi guyon khas orang NU.
Obrolan-obrolan semacam itu jelas tidak masuk notulensi muktamar. Tidak pula menentukan siapa yang menjadi Rais Aam atau Ketua Umum. Tetapi, bagi saya, justru di situlah salah satu wajah NU yang paling hidup: perjumpaan antarmanusia, percakapan yang cair, dan tawa yang kelak menjadi memori untuk dibawa pulang, setidaknya sampai lima tahun berikutnya.
===
Setiap kali hendak menghadiri Muktamar NU, saya biasanya berangkat dengan penuh sukacita tanpa overthinking. Namun Muktamar Ke-35 kali ini sedikit janggal.
Sebelum berangkat, seorang kawan dari ormas Islam lain mengatakan, konon, akan ada pengulangan skenario Muktamar Cipasung yang melibatkan istana. Kali ini, katanya, skenario itu akan berhasil. Kawan yang lain ikut memanasi suasana. Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, katanya, NU terancam bubar. Bahkan, ia menambahkan bahwa bubarnya NU bukan sesuatu yang mustahil. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah yang pernah berdiri sedemikian kokoh saja pada akhirnya runtuh, apalagi NU.
Saya tidak terlalu menggubris polemik semacam itu. Bagi saya, menjadi nahdliyyin bisa diwujudkan dalam banyak bentuk. Toh, sudah lama dikenal istilah NU kultural. Ke-NU-an seseorang tidak selalu harus bergantung pada struktur, jabatan, atau posisi formal dalam organisasi. Karena itu, saya tetap berangkat dengan perasaan optimis, meski intensitasnya sedikit meredup dibandingkan muktamar-muktamar sebelumnya.
Di hari pertama, tentu saya tak bisa mendekati venue pembukaan karena sudah disterilkan Paspampres. Saya memilih melipir di basecamp kawan-kawan media dan menyaksikan pembukaan lewat streaming.
Di tengah suasana itu, beredar kasak-kusuk bahwa sejumlah peserta resmi sebelumnya sudah “dikarantina” di Asrama Haji Sukolilo, entah untuk apa. Saya tak terlalu memikirkan.
Saya simak beragam sambutan yang disampaikan dari panggung utama. Ada yang menarik dari pernyataan salah satu tokoh. Ia mengungkapkan frasa “NU Saklawase, PBNU Sakcukupe”. Sebuah frasa yang hingga saat ini sedang coba saya pahami pelan-pelan.
Sebagai warga NU awam, saya menangkap banyak pujian kepada pemerintah dalam rangkaian sambutan pembukaan. Tentu saja hal itu wajar. Hanya saja, menurut saya, kok kadarnya berlebihan. Ibarat minuman yang gulanya kebanyakan.
Selepas pembukaan mulailah saya menghubungi kawan-kawan dari berbagai daerah. Kami bertemu di suatu titik, mengobrol dengan topik apa saja sambil menikmati secangkir kopi atau teh secara perlahan.
Di sepanjang jalan, saya menjumpai banyak stan yang menjual produk khas NU, seperti kaos, gantungan kunci, buku, kitab dan lainnya. Saya membeli beberapa kaos muktamar untuk keluarga di rumah sebagai oleh-oleh.
Yang menarik, kali ini saya juga menemukan stan organisasi keagamaan lain. Muhammadiyah hadir dengan stan yang cukup besar, lengkap dengan fasilitas cek kesehatan gratis. Ada pula stan Partai Amanat Nasional yang membagikan makanan, minuman, bahkan sarung. Mereka bahkan menghadirkan Pasha, pentolan Ungu yang kini jadi anggota dewan, untuk menghibur pengunjung muktamar.
Saya juga menemukan stan yang menjual banyak buku dan kitab dari kalangan salafi. Bagi saya, semua itu menghadirkan sebuah kontradiksi yang menarik. Mungkin justru dari sana saya melihat salah satu wajah NU: ruang yang cukup lapang untuk memperlihatkan khazanah pemikiran.
Keesokan harinya, Jumat, saya berziarah ke makam para pendiri NU, termasuk Mbah Wahab Hasbullah yang makamnya tak jauh dari lokasi muktamar. Tentu saja perjalanan itu saya lengkapi dengan berburu kuliner khas Jombang. Ada tiga menu paling berkesan: nasi kikil, nasi babat, dan rawon.
Menjelang sore, saya membantu kawan dari Jakarta menyiapkan acara bahtsul masail yang digelar selepas magrib. Saya membersamainya hingga tengah malam.
Seperti pada muktamar-muktamar sebelumnya, di forum bahtsul masail itu saya melihat kehebatan diskursus para kiai dan ustadz dari berbagai wilayah di Indonesia dalam menyikapi beragam persoalan kekinian. Salah satu pembahasan soal MBG yang dikaitkan dengan penggunaan APBN yang sedianya dialokasikan untuk dana pendidikan.
Pada saat yang sama, lewat pesan di telepon genggam, saya mendapat kabar bahwa Mbak Alissa Wahid dan kawan-kawan sedang menggodok Peta Jalan NU hingga 2050 melalui sidang komisi program.
Acara bahtsul masail ternyata tidak bisa diselesaikan pada malam itu. Antusiasme yang tinggi dari peserta luar Jawa jadi pemandangan menarik. Selama ini forum biasanya seolah hanya dikuasai peserta dari Jawa, baik sisi kuantitas kehadiran peserta ataupun suguhan wacananya.
Bahtsul masail kemudian dilanjutkan Sabtu pagi hingga siang menjelang adzan dhuhur. Selepas itu saya hendak menghadiri acara bedah buku yang dihelat Lakpesdam, lembaga yang pernah disebut Gus Yahya sebagai Bappenas-nya NU.
Sebelum sampai lokasi acara Lakpesdam, di perlintasan jalan, saya menemukan stan “turats”. Saya memasuki dan dibuat takjub. Ada banyak kitab karya ulama Nusantara yang terpelihara dan dikembangkan untuk masa yang akan datang. Saya juga bersyukur dapat bertemu dengan salah seorang penulis kitab muda di stan tersebut. Dengan sukarela ia menandatangani kitab yang sudah dibeli oleh para pengunjung sambil melayani obrolan mereka dengan sangat antusias. Ia juga memberikan ijazah bagi mereka, semacam kerelaan dari penulis kepada pembaca untuk mempelajari kitab tersebut dan menyebarluaskannya. Tampaknya hal semacam ini hanya ada di kalangan NU. Saya tak pernah melihat “ijazah”an semacam ini di komunitas lain yang menerapkan pola buku dibeli, dibaca, ya sudah.
Selepas menghadiri acara bedah buku di Lakpesdam, saya agak santai, karena menurut saya, “menu utama” kehadiran di muktamar ini hanya forum bahtsul masail. Saya pun kembali mengintari stand pameran, melihat kemungkinan ada buku menarik yang bisa dibeli, atau sekadar memasang badan siapa tahu bisa bertemu kawan. Benar saja, setidaknya saya menjumpai lima kawan lama saat saya sedang berjalan di stan pameran. Menyapa mereka, mengobrol singkat namun penuh makna.
Langkah kaki saya kemudian mengarah pada panggung utama muktamar. Sebuah venue yang bagi “romli” tidak bakal diizinkan masuk. Panggung sidang pleno organisasi. Saya mencoba dengar dari luar melalui sound pengeras suara.
Entah mengapa, bagi saya perdebatan di dalam itu tidak menarik. Sekadar menentukan mekanisme pemilihan saja dibuat ribet bertele-tele. Mungkin karena unsur politiknya terlalu kental, dan itu adalah hal yang wajar bagi para politisi.
Belum tengah malam, saya memutuskan kembali ke tempat istirahat. Tetapi ada kejutan kecil di lobi. Saya bertemu salah seorang tokoh muda NU yang selama ini saya kagumi. Lebih menyenangkan lagi, beliau bersedia mengobrol cukup lama sebelum kembali bertugas.
Berbeda dengan muktamar-muktamar sebelumnya, kali ini saya tidak bertahan sampai Ketua Umum dan Rais Aam terpilih. Orang-orang di kampung mungkin akan menganggap saya rugi. Tetapi saya tidak merasa rugi.
Saya sudah cukup kenyang; bertemu banyak nahdliyyin dan bertukar cerita dengan mereka. Bonusnya berbincang dengan tokoh-tokoh intelektual NU dengan durasi panjang.
Saya menyaksikan tradisi intelektual NU dirawat melalui forum bahtsul masail, bedah buku, dan stan turats. Saya melihat para kiai dan ustaz berdebat dengan referensi keagamaan dalam membicarakan persoalan kekinian. Saya melihat wacana keislaman tetap hidup di ruang-ruang diskusi. Saya juga melihat optimisme pada rancangan program NU ke depan yang digagas Mbak Alissa Wahid dan kawan-kawan.
Maka, bagi saya, ber-NU bukan cuma soal siapa Ketua Umum dan Rais Aam untuk lima tahun ke depan. Mungkin justru ada sesuatu yang lebih panjang dari itu.
Editor: Muhammad Zunus


