Dark
Light
Dark
Light

Superman 2025: Dari karya Asli Pemuda Yahudi Kini ‘Membelot’ Menyerang Israel

Superman 2025: Dari karya Asli Pemuda Yahudi Kini ‘Membelot’ Menyerang Israel

Superhero paling legendaris dalam sejarah komik dan perfilman, Superman, resmi kembali menyapa para penggemar di layar lebar. Film terbaru Last Son of Krypton ini mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada pekan pertama di bulan ini, dan langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sinema.

Disutradarai dan ditulis langsung oleh James Gunn, Superman (2025) menjadi penanda dimulainya era baru bagi semesta sinematik DC. Gunn—setelah sukses menggarap Guardians of the Galaxy—bukan hanya sutradara. Kini dia adalah Co-CEO DC Studios, sosok yang memegang kendali penuh atas arah dan nasib jagat superhero DC ke depan. Dari tangan dinginnya, semesta superhero DC yang baru akan tercipta— setelah pada dekade sebelumnya hancur lebur gara-gara konflik tak henti berbagai lini di Warner Bros Pictures.

Superman versi terbaru menghadirkan David Corenswet sebagai Clark Kent alias Superman, Rachel Brosnahan sebagai Lois Lane, dan Nicholas Hoult sebagai Lex Luthor. Ketiganya menjadi wajah baru dalam proyek ambisius yang bukan sekadar menghidupkan kembali Superman, tetapi juga membuka gerbang bagi semesta sinematik DC; lebih segar, lebih rapi. 

Film ini memang menjanjikan sesuatu yang berbeda dari Superman edisi sebelumnya. Ini langsung tampak saat adegan pembuka. Tidak ada adegan Bayi Superman dimasukkan ke kapsul roket dan dikirim ke bumi. Cerita langsung dibuka dengan sosok Superman yang jatuh dari langit. Badannya payah. Mukanya bersimbah darah: Superman baru saja kalah! Dia bukan Superman seperti di cerita lain yang kekuatannya serupa dewa. Versi terbaru, Superman diceritakan memiliki beberapa kelemahan. Inilah yang membuat sosok Superman tampak “manusiawi”. Yang tentu saja, membuatnya menjadi lebih dekat dengan penonton.

Garis besar kisahnya menceritakan Superman yang menghadapi tindakan dengki dari Lex Luthor. Superman dicintai rakyat, sebaliknya, Luthor sangat dibenci. Beragam cara dilakukan Luthor agar image Superman rusak, dari menyewa pendengung hingga menyusup ke Fortress of Solitude untuk mencari informasi penting terkait kehidupan Superman. 

Upaya Luthor tak sia-sia. Ratusan buzzer—berwujud monyet— bekerja di semua perlintasan media, termasuk membuat tagar kampanye kebencian, menyusun narasi stereotip, dan membangun saluran televisi. Luthor berhasil menggeser opini publik yang selama ini telah mapan tentang sosok Superman. Keberhasilan Superman menyelamatkan Jarhanpur dari serangan negara tetangganya, Boravia, justru menerima kecaman.

Sutradara memang menjanjikan Superman lebih “manusiawi”. Tujuannya agar lebih dekat dengan penonton. Usaha lain yang dilakukan Gunn adalah membangun konflik antara negara fiktif bernama Jarhanpur dan Boravia. Konflik kedua negara memantik diskusi panjang di jagad maya karena dinilai berhasil menyajikan konflik Israel vs Palestina dalam ilustrasi berbeda.

Superman diceritakan berhasil menghalangi serangan Borivia ke Jarhanpur. Borivia adalah negara termiliterisasi, berteknologi maju, dan bersenjata lengkap. Sementara Jarhanpur adalah negara miskin sumber daya yang warganya melawan melalui ayunan tongkat dan lemparan batu. Borivia berencana menggusur penduduk asli Jarhanpur. Mereka ingin memperluas wilayah dengan membangun koloni pemukiman. Lihat, betapa mirip dengan yang dilakukan Israel terhadap Palestina, bukan?

Banyak pihak turut menganggap pemimpin Boravia, Vasil Glarkos, layaknya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Lex Luthor juga dianggap penjelmaan Donald Trump. Luthor menjadi murka saat Superman berhasil menggagalkan serangan Borivia ke Jarhanpur. Di bagian akhir cerita terungkap bahwa Luthor diam-diam menjual senjatanya untuk memperkuat militer Jarhanpur. Terdengar familiar dengan hubungan ini?

Cara Gunn menghadirkan Superman sontak menggegerkan penonton di berbagai penjuru dunia. Reviewers situs-situs film ramai memberikan skor. Jurnalis dari berbagai negara riuh membahasnya. Banyak pihak setuju dengan pilihan Gunn menghadirkan cerita. Tak sedikit yang kontra, terutama mereka yang dekat dengan negara jahat yang disangkakan. Dalihnya banyak. Beberapa menganggap Gunn menciptakan anomali. Mereka menuduh Superman anti-Israel. Padahal Superman diciptakan anak imigran Yahudi.

Duo Pemuda Yahudi 

Superman pertama kali terbit melalui Action Comics pada 18 April 1938. Kreatornya adalah Jerry Siegel dan Joe Shuster. Keduanya bertemu di SMA Glenville, Cleveland, pada tahun 1931. Siegel dan Shuster merupakan anak dari keluarga imigran Yahudi. Keluarga Siegel dari Lithuania, sementara keluarga Shuster dari Belanda dan Ukraina.

Kesuksesan awal Superman dipengaruhi oleh cara Siegel menulis isu-isu nyata yang mempengaruhi masyarakat umum. Seiring waktu, Siegel-Shuster mulai memasukkan kisah-kisah Superman yang melawan orang-orang anti-Semit. Yang paling populer adalah ketika Superman menghadapi Hitler. Pada 27 Februari 1940, Siegel-Shuster menerbitkan sebuah cerita imajinatif sepanjang dua halaman dalam majalah Look, yang menggambarkan bagaimana Superman akan mengakhiri perang. 

Dalam cerita itu, Superman digambarkan menerobos Garis Siegfried—garis pertahanan Jerman yang katanya mustahil ditembus antara Jerman dan Prancis. Ia memelintir para kader Nazi, menendang jatuh pesawat-pesawat, serta menangkap Hitler dan Stalin sambil mencengkeram tengkuk mereka.

Dahulu Superman dibuat anti-Nazi. Kini, Superman ganti dibuat anti-Israel, wilayah yang penghuni awalnya merupakan korban Nazi. Bagaimana ini bisa terjadi?

Tergantung Bagaimana Publik

Sebenarnya karakterisasi Superman yang berubah bukanlah hal yang aneh. Lumrahnya produk budaya populer, Superman hadir seturut dengan kebutuhan dan keinginan penggemarnya. Kecenderungan publik akan menentukan bagaimana Superman dibentuk. Dan, itu sudah terjadi selama hampir seabad karakter Superman hidup.

Superman lahir saat masa depresi besar berlangsung. Pada masa tersebut Perang Dunia II juga tengah menjelang. Siegel-Shuster menciptakan Superman sebagai simbol harapan. Superman datang menyelamatkan warga yang lemah. Dia adalah penyelamat di tengah situasi sosial yang tidak menentu.

Memasuki tahun 1950-an sampai 1960-an, Superman ganti menjadi lambang The American Way. Kala itu Perang Dingin tengah terjadi. Superman dikonstruksi sebagai alat ideologis Amerika. Dia adalah lambang demokrasi, kekuatan militer, dan keunggulan moral Amerika.

Masuk tahun 1980-an sampai 1990-an, Superman ganti menjadi figur yang rapuh. The Death of Superman (1992-1993) mencerminkan kegelisahan masyarakat terhadap krisis identitas, kejenuhan akan pahlawan sempurna, dan perubahan zaman pasca-Perang Dingin.

Tahun 2010-an sampai sekarang Superman ganti menjadi simbol krisis eksistensial. Man of Steel (2013) yang disutradarai Zack Snyder menunjukkan Superman yang penuh dilema moral, mengalami situasi mental yang kompleks, hingga dipertanyakan legitimasinya di bumi. Isu ini muncul di era post-truth, di mana tak ada lagi kebenaran tunggal. Sosok Superman bisa ditafsirkan sebagai penyelamat atau malah justru musuh, tergantung bagaimana gelombang opini publik terarah.

Wajar saja karakter Superman bisa terutak-atik. Selayaknya produk budaya populer lain, Superman diproduksi secara berulang, mengikuti logika pasar, dan menciptakan ilusi harapan. Superman adalah karya yang dibuat dengan mengikuti selera masyarakat. Dia merupakan salah satu sekrup industri. Dia akan terus diproduksi dengan berbagai macam penceritaan selama Warner Bros dan DC Studios butuh mengisi pundi-pundi.

Meski demikian, kita tidak bisa serta merta bersikap culas belaka. Superman memang diciptakan seturut bagaimana minat khalayak. Akan tetapi, kita tidak melulu perlu melihatnya secara sinis. Terkadang kita bisa mengambil sudut pandang lain yang lebih kritis.

Para kreator baru Superman tetaplah manusia biasa. Mereka tentunya memiliki semangat humanisme yang ingin mereka bagikan kepada masyarakat. Ambil contoh yang dilakukan Zack Snyder dalam Zack Snyder’s Justice League. Snyder tidak hanya meletakkan Superman beserta rekan superheronya yang lain sebagai simbol harapan penonton. Dia juga memanfaatkan filmnya sebagai kampanye pencegahan bunuh diri. Ini adalah kampanye yang dia lakukan dengan hati terdalam karena putrinya, Autumn Snyder, meninggal bunuh diri saat filmnya tengah diproduksi.

Pun yang dilakukan Gunn dengan Superman terbaru. Apa yang terjadi di Gaza tak luput dari perhatiannya. Tragedi kemanusiaan terbesar dekade ini, namun negara adikuasa beserta kawan-kawannya memilih bergeming demi melindungi kepentingan bisnis dan politiknya. Sebagai warga Amerika, Gunn memberikan kritik tajam terhadap negaranya melalui karakterisasi Superman.

Kita perlu sadar bahwa produk budaya populer seperti Superman memiliki kekuatan besar. Dia dicintai pasar. Oleh karena itu, dia memiliki potensi untuk mempengaruhi publik. Adalah wajar ketika dekade berganti, Superman hadir dengan semangat yang berbeda-beda, tergantung bagaimana posisi politis kreatornya. Ada kalanya dia mesra dengan negara. Di waktu lain dia sinis terhadap presidennya. Dulunya mendukung kampanye anti-semit. Kini ganti melakukan kampanye anti-Israel.

Kita tak perlu kaget dengan wujud Superman terbaru. Bisa jadi di masa depan Superman akan lahir dengan sikap “anti-anti” yang lain. Mungkin kita akan bersorai saat Superman sejalan dengan kita. Di lain waktu, mungkin juga kita akan marah saat Superman berseberangan dengan pilihan hati kita.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Daniel Fahmi Rizal
Penggemar dan Pembuat Komik. Alumni Pesantren Ciganjur, Jakarta.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo