Usai pandemi, dunia pendidikan di Indonesia mengalami pergeseran besar yang tidak hanya menyentuh sisi teknis, tetapi juga sisi maknawi. Perkuliahan daring yang awalnya darurat kini menjadi permanen bagi sebagian kalangan. Kemudahan akses informasi melalui gawai membuat sebagian besar mahasiswa merasa cukup “tahu sedikit” tanpa merasa perlu mendalami. Budaya membaca merosot drastis. Lebih parah lagi, semangat menulis sebagai ekspresi pemahaman dan pengabdian juga ikut memudar. Ilmu dijadikan formalitas administratif belaka, bukan sebagai jalan menempuh kedewasaan akal dan ketulusan jiwa.
Fenomena ini tampak nyata di ruang-ruang kuliah. Permintaan agar kuliah tetap dilakukan secara daring kian marak, bahkan untuk mata kuliah yang sejatinya menuntut perjumpaan dan dialog. Nilai-nilai akademik melambung tinggi, namun tidak dibarengi dengan kedalaman ilmu dan integritas diri. Standar akreditasi dipenuhi, tetapi ruh keilmuan kian menipis. Di balik kecanggihan sistem, tersembunyi krisis yang lebih dalam: kita kehilangan ruh dari aktivitas belajar.
Pergeseran Budaya dalam Menuntut Ilmu
Lebih dari sekadar dampak teknis, ini adalah pergeseran budaya. Belajar yang dulunya merupakan bentuk pengabdian dan perjalanan spiritual kini berubah menjadi transaksi instan. Keengganan untuk membaca dan menulis menunjukkan bahwa ilmu tidak lagi dihargai sebagai amanah, tetapi hanya sebagai syarat lulus atau meraih pekerjaan. Lebih menyedihkan lagi, perubahan ini ikut memutus mata rantai ruhani antara murid dan guru, antara anak dan orangtua.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu selalu ditempatkan sebagai jalan menuju hikmah dan kedekatan kepada Tuhan. Para ulama menekankan bahwa ilmu tanpa adab adalah kesia-siaan. Imam Malik bahkan pernah berkata, “Ibuku memakaikan aku pakaian terbaik sebelum aku berangkat belajar kepada Imam Rabiah, dan berkata, ‘Pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.’” Tetapi kini, di tengah hiruk-pikuk informasi digital, adab justru menjadi hal yang paling tercecer.
Relasi Ruhani yang Semakin Renggang
Relasi ruhani dalam proses belajar menjadi rapuh. Mahasiswa tidak lagi merasa perlu hadir secara fisik maupun batin dalam proses pembelajaran. Guru hanya dianggap penyampai materi, bukan lagi sebagai figur panutan yang menyampaikan hikmah melalui keteladanan. Di sisi lain, orangtua pun semakin jauh dari anak dalam hal mendampingi proses belajar, sebab masing-masing tenggelam dalam dunia layar sentuh. Maka lahirlah generasi yang cerdas secara teknis, tetapi kosong secara ruhani.
Padahal, dalam konsep pendidikan nasional, hubungan batiniah menjadi bagian penting. Ki Hajar Dewantara menegaskan, “Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek), dan tubuh anak.” Ketika kekuatan batin ini tak lagi menjadi perhatian utama, maka pendidikan kehilangan makna sejatinya.
Digital dan Ruhani Harus Seimbang
Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kita memerlukan kebangkitan cara pandang terhadap pendidikan sebagai sebuah perjalanan ruhani. Pendidikan bukan sekadar alat pencapaian sosial, tetapi laku penghambaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Belajar harus kembali ditempatkan sebagai ibadah, bukan proyek. Guru harus kembali dimuliakan, bukan disubordinasikan oleh sistem daring yang dingin. Dan mahasiswa harus kembali diajak menempuh jalan ilmu sebagai jalan kehidupan, bukan sekadar kebutuhan administratif.
Pendekatan hybrid dalam pembelajaran sejatinya bisa menjadi jembatan jika dijalankan dengan kehati-hatian. Namun tetap perlu ditegaskan: teknologi tidak boleh menggantikan relasi ruhani. Justru teknologi harus dikelola dengan prinsip pendampingan, baik oleh dosen, orangtua, maupun komunitas belajar, agar tak terjebak menjadi ruang asing yang tanpa nilai.
Kearifan Pesantren: Ruang untuk Menimba Makna
Pesantren, dengan segala tradisinya, sesungguhnya menyimpan kearifan ini. Di sana, ilmu tidak hanya diajarkan, tetapi diwariskan melalui keteladanan, adab, dan kebersamaan dalam waktu yang panjang. Santri tidak hanya belajar kitab, tetapi juga belajar makna kesabaran, ketekunan, dan penghormatan kepada guru.
Di pesantren, gawai bukan raja, melainkan alat. Guru bukan fasilitator, melainkan pemberi berkah. Kultur ini penting diangkat bukan untuk romantisme, tetapi sebagai pengingat bahwa pendidikan sejati tumbuh dalam relasi dan keteladanan.
Menyalakan Cahaya Ilmu Kembali
Tulisan ini adalah ajakan untuk menengok ulang makna belajar. Sebab, jika ilmu tidak lagi mengantarkan pada kebaikan, tidak lagi ditapaki dengan akhlak, dan tidak lagi dikaitkan dengan ibadah, maka pendidikan hanya akan melahirkan manusia-manusia yang kehilangan orientasi. Mereka mungkin unggul secara teknologi, tetapi hampa secara nilai. Dan bangsa yang tercerabut dari nilai-nilai keilmuannya adalah bangsa yang akan berjalan tanpa cahaya.
Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita belajar tanpa ruh. Kita tidak bisa membiarkan mahasiswa menulis tanpa dzikir. Kita tidak bisa membiarkan guru mengajar tanpa rasa cinta. Karena sejatinya, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya itu tidak bisa lahir dari ruang-ruang yang kosong dari makna dan penghayatan.
Abdul Wachid B.S.
Guru Besar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor: Kendi Setiawan


