Dark
Light
Dark
Light

Memahami Oligarki Melalui The Godfather Karya Mario Puzo

Memahami Oligarki Melalui The Godfather Karya Mario Puzo

Mario Puzo menerbitkan The Godfather pada 1969, sebuah novel yang segera menjadi ikon dalam literatur populer Amerika, bahkan lebih melegenda setelah diangkat ke layar lebar oleh Francis Ford Coppola pada 1972. Buku ini tidak hanya berkisah tentang mafia Sisilia di New York, tetapi juga menyingkap logika kekuasaan, politik kekerasan, dan keluarga dalam dunia modern.

Lewat novel itu Puzo merekam bagaimana negara, hukum, dan kriminalitas bisa berkelindan, merajut hubungan simbiosis mutualisme yang saling menopang. Membaca The Godfather dalam konteks Indonesia bisa dikatakan menikmati intrik keluarga Corleone, melainkan juga menelusuri refleksi bagaimana kekuasaan, patronase, loyalitas, dan kekerasan hadir dalam sejarah politik kita.

Sebagaimana Don Vito Corleone membangun “negara dalam negara” lewat jaringan patron-klien, Indonesia juga mengenal pola kekuasaan serupa dari zaman Orde Baru hingga oligarki pascareformasi.

The Godfather berpusat pada keluarga Corleone, salah satu “lima keluarga” mafia besar di New York. Don Vito Corleone, sang patriark, adalah figur karismatik, bijak, namun tidak segan memakai kekerasan bila diplomasi gagal. Novel ini membuka mata tentang bagaimana mafia membangun tatanan paralel. Mereka memiliki pengadilan sendiri, aturan sendiri, dan sistem “keadilan” sendiri yang sering lebih dipercaya dibanding hukum negara.

Ketika Don Vito menolak masuk ke bisnis narkotika, terjadi konflik besar antar keluarga mafia. Penolakan itu dilandasi alasan moral sekaligus politik. Narkoba dianggap akan mengundang perhatian negara yang lebih keras dibanding bisnis judi atau minuman keras.

Bagi Corleone, narkoba akan merusak generasi muda sekaligus institusi keluarga. Keputusan ini memicu serangan terhadap keluarga Corleone, yang akhirnya memaksa Michael Corleone, anak bungsu yang tadinya ingin hidup di luar dunia kriminal dengan menjadi marinir justru masuk dan mengambil alih kepemimpinan.

Michael berkembang menjadi Godfather baru yang lebih dingin, kejam, dan strategis daripada ayahnya. Di sinilah moralitas, loyalitas, dan kekuasaan cambur baur.

Mafia, Negara, dan Kapitalisme

Novel Puzo sering dianggap kisah kriminalitas. Namun jika dibaca lebih kritis, The Godfather adalah alegori tentang kapitalisme modern. Mafia dalam cerita bukanlah penjahat, tetapi representasi dari bentuk awal oligarki. Mereka mengatur pasar, mengendalikan politik, bahkan menyuap aparat dan anggota parlemen.

Fenomena mafia di Amerika lahir dari sejarah migrasi Italia Selatan. Kaum imigran miskin, terdiskriminasi, dan dipinggirkan hukum, membangun sistem solidaritas sendiri. Dari situ lahir Cosa Nostra yang berarti ”urusan kita”, yang berkembang jadi sindikat kriminal global. Dalam konteks ini, The Godfather juga adalah kisah tentang survival, tentang kelompok tertindas yang membangun kekuasaan alternatif ketika negara gagal memberi perlindungan.

Jika ditarik ke Indonesia, kita bisa melihat kesamaan. Banyak kelompok sosial-politik yang termarjinalkan membangun jaringan informal untuk bertahan. Misalnya, jaringan premanisme urban berkedok ormas (organisasi masyarakat) yang berkembang sejak era kolonial hingga Orde Baru, sering kali dilegitimasi atau dipelihara negara demi stabilitas politik. Dalam sejarah kita, kekuasaan formal dan informal saling membutuhkan.

Salah satu kekuatan The Godfather adalah kemampuannya menggambarkan patronase politik. Don Vito Corleone dikenal sebagai “Godfather” bukan karena teror semata, melainkan karena ia memberi “jasa” kepada banyak orang. Bisa dalam bentuk perlindungan, bantuan hukum, kepastian usaha, bahkan pekerjaan. Sebagai imbalan, mereka wajib loyal.

Ini sangat relevan dengan Indonesia. Budaya patronase dan klientelisme mengakar sejak lama, baik dalam politik maupun ekonomi. Dari masa kerajaan, patronase menjadi pola utama kekuasaan. Raja atau bangsawan memberi tanah atau perlindungan, rakyat memberi loyalitas. Orde Baru melanjutkan pola ini dengan gaya modern. Negara memberi konsesi ekonomi, kroni memberi dukungan politik.

Novel ini menyuguhkan refleksi bahwa kekuasaan jarang berdiri di atas hukum semata, melainkan pada jaringan relasi personal, utang budi, dan loyalitas.

Don Vito selalu mengedepankan kompromi dan negosiasi, tetapi pada titik tertentu kekerasan dipandang sah. Filosofinya terkenal, “I’m gonna make him an offer he can’t refuse.” Kalimat ini tidak semata dilihat sebagai ancaman, tetapi logika kekuasaan, tawaran yang secara formal terlihat wajar, namun di baliknya ada kekerasan yang tak kasat mata.

Dalam konteks Indonesia, kita sering menjumpai logika serupa. Kekuasaan di negeri ini juga banyak dijalankan lewat kombinasi “tawaran” dan “ancaman”. Dari praktik politik uang hingga kriminalisasi lawan politik, semuanya menunjukkan bahwa kekuasaan tidak pernah steril dari kekerasan.

Kritik Puzo di sini sangat relevan. Hukum formal sering kali kalah oleh hukum informal yang diatur oleh elite.

Dari Orde Baru ke Oligarki

Membaca The Godfather di Indonesia terasa seperti membaca sejarah gelap negeri ini. Orde Baru dengan jelas memperlihatkan bagaimana patronase, kekerasan, dan kapitalisme berjalin. Jaringan militer, pengusaha, dan preman menjadi semacam “keluarga besar” yang menguasai negara.

Dalam transisi reformasi, banyak yang berharap sistem mafia ini runtuh. Namun kenyataannya, oligarki malah menguat dengan wajah baru. Partai politik berubah menjadi kendaraan keluarga atau kelompok bisnis. Pemilu menjadi arena distribusi patronase, bukan ideologi.

Seperti halnya Michael Corleone yang tampil lebih modern daripada Don Vito, oligarki di Indonesia kini lebih canggih. Mereka tidak selalu memakai kekerasan fisik, tetapi kekuasaan finansial, media, mengatur aparat dan hukum. Namun esensinya sama. Jaringan kekuasaan informal lebih dominan daripada hukum formal.

Salah satu kritik terbesar terhadap The Godfather adalah kecenderungan meromantisasi mafia. Don Vito digambarkan sebagai sosok bijak, penuh etika, bahkan lebih manusiawi daripada politisi atau aparat negara. Hal ini membuat pembaca sering terjebak dalam glorifikasi mafia.

Namun, Puzo sebenarnya sedang menyindir. Dengan membuat mafia terlihat lebih bermoral dibanding negara, ia justru menunjukkan betapa bobroknya sistem hukum dan politik Amerika. Bahwa orang lebih percaya pada mafia ketimbang negara adalah kritik paling tajam terhadap kegagalan kapitalisme dan demokrasi liberal.

Di Indonesia, kita juga menyaksikan hal serupa. Banyak warga yang lebih percaya pada tokoh informal, kyai, jawara, preman, bahkan “orang kuat lokal” daripada aparat negara. Sebab, mereka merasa tokoh-tokoh itu lebih cepat memberi solusi konkret ketimbang birokrasi negara.

Kesimpulan

Kini, lebih dari 50 tahun sejak novel ini terbit, The Godfather tetap relevan. Dunia masih menyaksikan bagaimana jaringan kekuasaan informal, oligarki, dan kriminalitas transnasional beroperasi. Dari kartel narkoba Meksiko, mafia Rusia, hingga sindikat keuangan global, semua bekerja dengan logika yang sama, yaitu patronase, loyalitas, dan kekerasan.

Di Indonesia, pola ini terlihat dalam bagaimana elite politik membangun dinasti, menguasai sumber daya, dan memakai hukum sebagai alat kontrol. Dalam hal ini, The Godfather bukan hanya novel kriminal, tetapi manual membaca politik kuasa di mana pun.

The Godfather karya Mario Puzo adalah novel kriminal yang melampaui genre. Ia adalah kritik sosial, refleksi politik, dan alegori tentang kapitalisme modern. Bagi pembaca Indonesia, novel ini bukan hanya hiburan, melainkan juga refleksi sejarah. Dari patronase kerajaan ke oligarki kontemporer, kita menemukan pola Corleone di negeri ini.

Novel ini layak dibaca kembali dengan kacamata tajam dan kritis, bukan cuma karena mengagumi kebesaran Don Vito atau Michael, tetapi memahami bahwa kekuasaan, di manapun, sering lebih mirip mafia daripada institusi yang demokratis.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Abi S Nugroho
Pengurus Lakpesdam PBNU


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo