Dark
Light
Dark
Light

Yang Luput dari Perjalanan Haji

Yang Luput dari Perjalanan Haji

Berhaji, dalam pemahaman umum umat Islam adalah menunaikan rukun Islam yang kelima. Rukun yang identik dengan ibadah "puncak" secara syariat. Ibadah yang sedianya tidak semata menuntut kapabilitas materiel, tetapi juga kecakapan spiritual. Ibadah yang dapat mengantarkan tiap diri "kembali" ke firahnya, seperti bayi yang baru dilahirkan.

Sedemikian luhur esensi haji, Islam menekankan beberapa hal. Pertama, sepanjang pelaksanaan ibadah haji tidak diperbolehkan membicarakan hal yang menggiring terhadap dosa. Ada juga yang mengartikan, menghindari "bercinta." Siapa pun yang sedang berhaji disarankan memperbanyak istighfar, mohon ampunan, bersimpuh di hadapan Allah SWT. Bahkan ada yang beranggapan bahwa ibadah haji sebetulnya juga ibadah untuk menghapuskan dosa-dosa. 

Kedua, tidak boleh menciptakan kefasikan, perilaku maksiat dan mecaci maki sesama. Sepanjang ibadah haji ditunaikan, meminjam istilah Alquran (QS. al-Maidah : 2), tiap diri mesti "ajeg" dari dan untuk kebajikan, mulai dari sekadar dzikir, doa, dan ta'awanu ala al-birri wa al-taqwa. Sesuatu perbuatan yang dikategorikan dapat merusak mentalitas dan jiwa tiap hamba, harus dihindari sejauh mungkin. Termasuk "jidalan", perdebatan yang tidak produktif, disorientatif, apalagi yang destruktif.

Kepasrahan ubudiyah
Ibadah haji senantiasa menekankan totalitas penyembahan. Itulah wujud kepasrahan ubudiyah, salah satu "kunci" ibadah haji. Dan tak jarang umat juga meyakini bahwa menunaikan ibadah haji itu medium kembalinya diri kepada Ilahi Rabbi. Wajar setiap yang hendak berangkat haji, banyak yang menuliskan surat wasiat untuk keluarga, kerabat, dan tetangga dekat. 

Karena bagian kepasrahan ubudiyah, ibadah haji pun dikategorikan sebagai "latihan kematian." Yakni, olah diri guna mematikan egoisme, keangkuhan, kemunafikan, kefasikan, kecongkakan, kedzaliman dan semacamnya. Dalam praktik ibadah haji, hal-hal yang berbau "iblisisme" harus dilempari agar terbunuh meski melalui kerikil-kerikil yang telah ditentukan jumlahnya. Sehingga yang akan mengaliri sekujur tubuh dan jiwa kita adalah sifat maupun karakteristik "malaikatiyah," "al-rosuliyah," dan kebersahajaan berbasis Nur Muhammadiyah serta Nur Ilahiah.

Dalam kepasrahan ubudiyah, yang wajib diinternalisasi itu ketulusan, keterbukaan hati, kebesaran jiwa, dan kematangan nurani. Sehingga sikap males, riya', kikir, bakhil, pelit, zalim, munafik, benar-benar terjauhkan dari hakikat diri. Semua tidak merasuki kekhusyukan kita beribadah, bahkan tak merusak konstruksi spiritualitas yang dipersiapkan selaku hamba untuk menyembah kepadaNya dan "muhasabah" di hadapan Ka'bah. Sebab kepasrahan ubudiyah merupakan pengosongan tubuh dan jiwa dari selain kehadiran Sang Kekasih, Rabbul Alamin. 

Meminjam filosofi ajaran Buddha, kepasrahan ubudiyah, adalah "meditasi ruhaniah;" menyelami batin, melihat melalui jiwa yang bening ke dalam diri agar berpadu dengan Sang Dzat Mahatunggal. Dalam perspektif penyelaman ini, aliran napas pun mesti bersih dari kebusukan orientasi materialitas-parsialistik. Artinya, dalam konteks kepasrahan ubudiyah, yang layak ada dan melejit hanya "esensi kedirian" yang tiada henti melaju-lebur bersama "Diri Tuhan." Sulit memang. Tapi kerja sepenuh hati, akan mengantar walau perlahan. Inilah dimensi ibadah yang substansial dalam berhaji.

Pengasahan ilmu
Di luar keluhuran ibadah, berhaji sebetulnya cara luhur mengasah ilmu, khususnya ilmu menata ulang kehidupan, mendewasakan kemanusiaan, dan menghangatkan keberagamaan. Sebelum dan setelah berhaji, tiap diri dituntut memahami tata cara, tatakrama, tatafisik, tatabatin, tata mentalitas, dan tata keikhlasan atas apa yang dialami. Ini membutuhkan sekaligus melahirkan ilmu. 

Dari pelaksanaan ibadah haji, jelas tiap-tiap diri dipastikan punya pengalaman, pemahaman, dan memperoleh ilmu, terutama terkait penyembahan, pertobatan sekaligus harapan baru kepada Allah SWT. Tiap diri akan tahu kelemahan dan kelebihan ikhlas dalam berbuat, tulus beribadah, jernih menyikapi interaksi dengan sesama. Tiap diri juga (mungkin) menemukan ilmu baru mengelola "emosi," menetralisir "egoisitas," menumbuhkan simpati, menyuburkan empati, dan mengilapkan kesadaran ilahiah dalam pelbagai perilaku. Ini ilmu yang langsung didapat dalam ibadah haji. Ilmu "terapan" yang edukatif-transformatik.

Di sisi lain, ajaran Islam telah menegaskan antara ibadah dan ilmu saling bersentuhan. Ibadah tanpa ilmu kurang terarah dan tidak integralistik. Sebaliknya, ilmu tanpa penguatan ibadah juga sering "lepas kendali," bahkan tak jarang memutus mata rantai spiritualitas, religiusitas, dan mudah "berkonflik" dengan Allah SWT. Tak berlebihan jika al-Ghazali mensinyalir, "naumul 'alim afdhalu min 'ibadati al-jahil."

Ala kulli hal, ilmu yang diraih dan diasah selama beribadah haji, akan menjadi ilmu yang mengantar tiap diri ke gerbang kemabruran. Ilmu yang tertempa dari dan atas nama kepasrahan ubudiyah, disadari atau tidak, akan menjadi ilmu yang penuh cahaya. Sebab tiap diri yang berhaji, doa dan perilakunya akan artistik, esensialistik, rekonstruktif, emansipatorik, dan reproduktif. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Masmuni Mahatma
Wakil Rektor II IAIN SAS Kep. Babel


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo