Arina.id - Di tengah derasnya arus komunikasi digital hari ini, kita hidup dalam era di mana kata-kata meluncur begitu cepat, sering kali mendahului nalar dan nurani. Media sosial telah mengubah wajah interaksi manusia; dari ruang refleksi menjadi ruang reaksi. Banyak orang lebih dahulu menulis sebelum berpikir, lebih dahulu berkomentar sebelum memahami.
Di tengah atmosfer yang demikian bising ini, kita seperti kehilangan satu prinsip dasar dalam berkomunikasi: bahwa kata bukanlah sekadar bunyi, melainkan pancaran hati. Dalam khazanah sastra Arab klasik, terdapat bait syair yang penuh makna dan hingga kini relevan dijadikan renungan:
إِنَّ الْكَلَامَ لَفِي الْفُؤَادِ وَإِنَّمَا جُعِلَ اللِّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ دَلِيلً
(Sesungguhnya kata-kata itu berada di dalam hati, dan lidah hanyalah petunjuk bagi hati.)
Bait ini dinisbatkan kepada al-Aṣmaʿī seorang sastrawan dan ahli bahasa Arab ternama pada abad ke-2 Hijriah. Ia hidup di masa keemasan Abbasiyah dan dikenal sebagai perawi serta pengumpul syair-syair Arab badui yang sarat makna. Syair ini menjadi salah satu kutipan penting dalam diskursus linguistik klasik, karena menyampaikan gagasan filosofis bahwa hakikat kalām (perkataan) bukan semata pada bunyinya, tetapi pada maknanya yang tertanam dalam hati.
Maka, lidah—atau dalam konteks era digital: jari dan layar—hanyalah instrumen atau representasi dari niat dan isi batin. Pemikiran ini kemudian dikembangkan oleh para pakar nahwu, salah satunya Ibn Hishām al-Anṣārī (w. 761 H), dalam karya terkenalnya Mughnī al-Labīb, ketika beliau membedah perbedaan antara lafaz dan makna dalam ilmu kalām.
Dalam konteks saat ini, bait tersebut seakan menjadi cermin bagi zaman yang kerap kehilangan kedalaman makna. Kata-kata di media sosial lebih sering menjadi alat untuk melukai, menertawakan, atau mendominasi, daripada menyampaikan kebenaran, hikmah, atau kasih sayang.
Banyak orang merasa bebas berbicara tanpa merasa perlu bertanggung jawab atas dampaknya. Padahal, jika lidah atau jari tidak lagi menjadi petunjuk hati, melainkan menjadi senjata ego, maka komunikasi tidak lagi menjadi jembatan kemanusiaan, melainkan jurang perpecahan.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali menengok hikmah klasik tersebut, agar komunikasi kita kembali memiliki ruh, bukan sekadar gema. Sebab sejatinya, menjaga kata adalah menjaga hati, dan menjaga hati adalah menjaga kemanusiaan itu sendiri.
Bait syair yang yang dikutip ini menyampaikan pesan mendasar: bahwa komunikasi sejati bukanlah dimulai dari lidah, melainkan dari hati. Kata-kata yang benar lahir dari ruang batin yang jernih, bukan dari dorongan emosi sesaat atau sekadar ingin tampak berpendirian.
Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama bahasa seperti Ibn Hishām al-Anṣārī menegaskan bahwa hakikat kalām, yang dalam istilah nahwu berarti ucapan bermakna, sesungguhnya adalah ekspresi dari makna batin yang terletak di dalam fu’ād (hati), bukan hanya bunyi yang terdengar oleh telinga. Maka, sebelum kata diucapkan atau diketik, seharusnya ia telah melewati proses perenungan dan penyaringan di dalam hati.
Dalam perspektif ini, lisan, sebagaimana disebut dalam bait tadi, hanyalah petunjuk atau duta dari hati. Ia tidak memiliki otoritas untuk berbicara sendiri, kecuali jika hati telah menyetujui dan menanamkan makna di baliknya. Maka, sejatinya manusia tidak berbicara dengan mulutnya, tetapi dengan hatinya.
Inilah sebab mengapa Islam memberi perhatian besar terhadap penjagaan lisan. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.”(HR. al-Bukhārī no. 6018 dan Muslim no. 47)
Sabda ini menekankan bahwa lisan hanyalah perpanjangan dari tanggung jawab spiritual: jika hati bersih, lisan akan menyampaikan kebaikan; jika hati kotor, lisan bisa menjadi alat penyesatan.
Namun, realitas hari ini justru sering kali menunjukkan sebaliknya. Lidah, atau dalam dunia digital: jari-jemari di atas layar, sering kali menjadi alat pelampiasan emosi. Kata-kata dilemparkan tanpa berpikir, komentar dilontarkan tanpa memahami, dan unggahan dibuat tanpa menyaring niat.
Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi kita sering tidak lagi merepresentasikan kejernihan hati, melainkan sekadar ledakan batin yang tak terkontrol. Jika hati dikuasai oleh amarah, iri, atau sakit hati, maka kata-kata yang keluar pun akan menyakitkan. Namun bila hati terisi kasih, pengertian, dan niat baik, maka bahkan kata-kata sederhana pun bisa menjadi obat bagi sesama.
Karena itulah, menjaga lisan bukan hanya soal adab sosial, melainkan latihan spiritual. Di zaman yang semakin bising dan penuh provokasi ini, manusia dituntut untuk kembali memurnikan niat sebelum berbicara, menyaring emosi sebelum menulis, dan menghidupkan rasa sebelum menyampaikan pendapat.
Kata-kata yang tidak berpijak pada hati tak akan membekas, apalagi menyentuh. Sebaliknya, kata-kata yang lahir dari kedalaman hati, dari keikhlasan dan empati, akan selalu menemukan jalannya ke hati yang lain. Dan itu hanya bisa terjadi bila kita menjadikan lisan sebagai petunjuk dari hati, bukan pengkhianatnya.
Di era media sosial yang serba cepat, kita menyaksikan semakin banyak kata-kata yang dilontarkan bukan untuk membangun, melainkan untuk menjatuhkan. Komentar yang menyakiti, fitnah yang menyebar tanpa ampun, hingga ujaran kebencian yang dilumrahkan atas nama kebebasan berekspresi menjadi pemandangan sehari-hari. Fenomena seperti cancel culture, doxing, dan penyebaran misinformasi adalah bukti nyata dari kegagalan kita menjaga “lisan digital.”
Kata-kata yang seharusnya menjadi jembatan justru berubah menjadi senjata yang melukai banyak orang, bahkan mematahkan hidup seseorang dalam sekejap mata. Di balik semua itu, bukan hanya lisan atau jari yang kehilangan kendali, tetapi juga hati yang tak lagi dijaga dengan baik.
Salah satu penyebab utama dari kerusakan ini adalah hilangnya filter batin. Dalam dunia nyata, kita diajarkan sopan santun, menimbang kata, dan menjaga perasaan orang lain. Namun di media sosial, semua batas seolah menguap. Orang merasa bebas berkata apa saja tanpa merasa perlu bertanggung jawab. Identitas yang tersembunyi di balik akun anonim atau jarak virtual membuat banyak orang kehilangan kepekaan.
Kata-kata yang seharusnya dipikirkan matang sebelum diketik justru dilemparkan secara impulsif. Maka tak heran jika luka digital yang timbul lebih dalam dari sekadar kesalahan teknis, ia menyentuh sisi paling personal dan emosional dari manusia.
Lebih jauh lagi, kegagalan menjaga lisan di media sosial juga ditandai oleh makin menipisnya empati dan meningkatnya misrepresentasi. Dalam komunikasi digital, banyak nuansa yang hilang: tidak ada intonasi, ekspresi wajah, atau bahasa tubuh yang menyertai. Akibatnya, pesan yang sebenarnya biasa bisa terdengar sinis, dan yang bercanda bisa terbaca sebagai penghinaan.
Banyak konflik di media sosial tidak lahir dari perbedaan pendapat yang substansial, melainkan dari kesalahpahaman yang berakar pada ketiadaan konteks. Ketika hati tidak hadir dalam komunikasi, yang tersisa hanyalah teks kering yang mudah disalahtafsirkan.
Hal ini menunjukkan bahwa kita tengah menghadapi krisis bukan hanya pada level komunikasi, tapi juga pada kedalaman relasi antarmanusia. Media sosial yang awalnya dimaksudkan untuk mendekatkan justru menciptakan jarak ketika digunakan tanpa kesadaran batin. Kita menjadi cepat dalam menanggapi, namun lambat dalam memahami. Cepat menuding, namun enggan menengok ke dalam.
Oleh karena itu, perlu ada kesadaran baru bahwa menjaga lisan bukan hanya tugas di dunia nyata, melainkan juga tanggung jawab penuh dalam dunia maya. Sebab kata-kata yang dilontarkan tanpa empati akan kehilangan makna, dan hati yang tidak dihadirkan dalam komunikasi akan terus menjauh dari kemanusiaannya.
Islam menempatkan lisan sebagai cerminan hati dan salah satu organ paling berisiko dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, menjaga ucapan bukan hanya perkara kesopanan, melainkan bagian dari iman. Rasulullah melalui haditsnya telah mengajarkan etika komunikasi Islam.
Beliau mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diungkapkan, dan diam bisa menjadi pilihan terbaik ketika kebaikan tidak mampu diucapkan. Ucapan bukanlah hak tanpa batas, melainkan amanah yang harus dijaga agar tidak melukai, menyesatkan, atau memperkeruh keadaan.
Di era media sosial, prinsip ini menjadi semakin mendesak untuk dihidupkan kembali. Menulis dan memposting di platform digital sejatinya adalah bentuk lain dari berbicara, namun dengan jangkauan yang lebih luas dan konsekuensi yang lebih permanen. Apa yang ditulis bisa dibaca ribuan orang, disimpan, dikutip, dan disebarkan jauh lebih cepat dari lisan.
Maka, menulis dengan bijak adalah bentuk baru dari menjaga lisan. Kita harus belajar menahan jemari sebagaimana kita diperintahkan menahan lidah.
"Jangan mengetik saat marah, jangan berkomentar tanpa pemahaman, dan jangan menyebarkan sesuatu yang tidak bermanfaat."
Menulis dengan hati berarti menjadikan setiap unggahan sebagai pantulan nilai-nilai batin, bukan sekadar pelampiasan emosi atau demi keterkenalan. Sebelum memposting, tanyakan: apakah ini memberi manfaat? Apakah ini mendamaikan atau justru memecah belah? Apakah ini akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah? Dalam dunia yang dibanjiri informasi, justru kata-kata yang lahir dari ketulusan akan paling diingat dan paling menyejukkan. Jangan biarkan hasrat untuk viral mengalahkan adab dan akhlak dalam bermedia.
Maka, menjaga lisan hari ini juga berarti menjaga “lidah digital” yakni jari-jemari yang dengan mudah memproduksi kalimat di ruang publik. Dalam setiap tulisan, kita sedang memperlihatkan isi hati kita. Jika hati kita jernih, maka yang lahir adalah kalimat yang menenangkan. Namun jika hati kita keruh, maka yang muncul adalah kata-kata yang melukai. Menjaga hati dan lisan adalah tanda bahwa iman hidup dalam diri kita. Dan siapa yang mampu menjaga kata, sesungguhnya ia telah menjaga dunia dari banyak luka.
Di tengah banjir kata dan hiruk-pikuk narasi yang membanjiri media sosial hari ini, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: apakah kata-kata kita masih mewakili kejernihan hati, atau justru telah menjadi senjata dari ego dan emosi yang tak terkendali? Bait klasik dari al-Aṣmaʿī di atas tidak sekadar menjadi petuah sastra, melainkan cermin yang menyorot hakikat komunikasi manusia.
Bahwa sesungguhnya kata bukanlah apa yang keluar dari mulut atau tertulis di layar, melainkan apa yang tumbuh di dalam hati dan terbit dari niat yang jujur. Dalam dunia yang makin riuh dan reaktif, kesadaran ini menjadi kompas moral agar kita tidak ikut hanyut dalam banjir kata yang kosong makna dan rawan luka.
Media sosial, dengan segala potensinya untuk kebaikan, juga menjadi arena ujian besar bagi integritas batin kita. Setiap status, komentar, dan unggahan bukan hanya mencerminkan wawasan dan opini, tetapi juga mengungkapkan siapa diri kita yang sesungguhnya: apakah kita masih membawa cahaya hati dalam berucap, ataukah hanya memantulkan bayang-bayang hasrat untuk diakui?
Di sinilah pentingnya menjaga lisan—baik yang bersuara maupun yang diketik—sebagai bentuk tanggung jawab ruhani. Sebab pada akhirnya, kata-kata yang kita keluarkan hari ini bisa menjadi saksi yang membela atau mencelakakan kita di hari pengadilan. Kata-kata tidak pernah netral; ia selalu membawa niat, dampak, dan pertanggungjawaban.
Maka, saat dunia semakin cepat dan penuh distraksi, mari kita belajar memperlambat langkah sebelum berkata. Hadirkan hati dalam setiap komunikasi. Biarlah setiap kata yang kita tulis atau ucapkan menjadi jalan cahaya, bukan bara yang menyala.
Di era digital ini, menjaga kata berarti menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Menyaring kata berarti menyucikan niat. Dan menata kalimat berarti menata kembali jiwa. Kita mungkin tak bisa mengendalikan dunia, tapi kita bisa mengendalikan diri. Dan dari situlah peradaban dibangun: dari manusia-manusia yang menulis dan berbicara dengan hati yang dijaga.
Puji Raharjo Soekarno
Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan Ketua Tanfidziyah PWNU Provinsi Lampung
Editor: Muhammad Faizin


