Dark
Light
Dark
Light

Politik: Kata dan Joget

Politik: Kata dan Joget

Politik itu kata-kata. Di lakon politik, orang-orang memberi ribuan kata. Konon, kata-kata itu mengungkapkan identitas, kekuasaan, kemenangan, kehormatan, dan lain-lain. Kaum politik ingin mendapat pujian dan tepuk tangan wajib mahir dalam mengumbar kata. Gagal dalam pilihan dan tatanan kata, kaum politik berhak menerima kecaman, kritik, dan perlawanan. 

Di Indonesia, politik dengan ribuan kata biasa memunculkan jenuh. Orang-orang menganggap kata-kata mengandung bujukan dan tipuan. Politik tetap saja kata-kata. Pada hari-hari menjelang hajatan demokrasi, serbuan kata makin menimbulkan keramaian. Kita sulit menutup telinga. Kata-kata itu terus berdatangan dari segala arah. Mata pun membaca kata-kata meski mengalami bosan dan lelah. 

Di pinggir jalan, kata-kata itu terbaca bersama pameran foto dan logo partai politik. Kita sulit terhindar dari kata-kata dalam perkamusan politik. Kita kadang memilih melihat wajah kaum politik. Di hitungan detik, mata kita penuh curiga. Wajah-wajah itu sering meleset dari imajinasi ketulusan berpolitik atau ejawantah kebajikan berdemokrasi. Di sepanjang jalan, kata-kata dan foto kaum politik menambah ketegangan saat berharap selamat dan sampai tujuan.

Politik pun raga. Pada saat orang-orang hidup bergawai, raga makin mendapat perhatian. Raga itu pesona dalam politik. Raga menebar pesan-pesan “berkelanjutan” saat dirancang serial. Raga diajukan dalam “teater politik” bersaing dengan imajinasi industri hiburan. Kini, politik memang raga.

Perdebatan paling seru tak cuma kata tapi raga. Di acara-acara politik, kita sering melihat tokoh-tokoh menampilkan raga dalam kenecisan. Selera berbusana itu tak selesai dalam sodoran pamrih-pamrih politik. Mereka berlanjut dengan berjoget. Raga dalam joget meraih tepuk tangan dan pujian. Joget melampaui gerak raga. Joget itu kekuatan. 

Kita bukan tiba-tiba dibujuk raga-raga berjoget demi kemenangan dalam hajatan demokrasi. Dulu, raga sudah turut menentukan lakon politik dan hiburan di Indonesia. Di majalah Panji, 3 Oktober 2001, kita membaca: “Bayangkan saja, mulai dari acara-acara resmi yang dihadiri pejabat, hingga ke kafe-kafe, gang-gang sempit, lagu ini terdengar kencang ditingkahi tarian sekelompok orang sembari tersenyum-senyum riang.” Kita diingatkan poco-poco. Kaum politik ikut poco-poco. Kebersamaan dan kegembiraan diwujudkan di pelbagai tempat. Indonesia sedang berpoco-poco. 

Pada 2023, kita sering melihat tokoh-tokoh berjoget dalam acara-acara politik. Joget mulai dipentingkan dalam berpolitik. Kita lekas paham jika politik itu raga. Politik itu raga bergerak disempurnakan tertawa dan tepuk tangan. Kata-kata sudah mengalir sampai jauh. Joget pun dipentaskan di panggung politik bermaksud mengajak senang. Demokrasi ingin dijelaskan dengan senang. Joget itu senang meski mengandung maksud pamer atau mengejek lawan politik. 

Pada saat jenuh kata, orang-orang melihat raga. Semula, “tarian kata” mengajak publik mengerti politik menggunakan nalar. Pada situasi berbeda, joget tak terlalu menuntut pemikiran dan keseriusan berargumentasi. Joget masuk dalam perkamusan politik. Kita tentu boleh “meragukan” pengertian-pengertian lama dalam kamus-kamus bahasa Indonesia, sejak masa kolonial sampai sekarang. 

Kita membuka Baoesastra Djawa (1939) susunan WJS Poerwadarminta, CS Hardjasoedarma, dan J.C. Poedjasoedira, joget berarti “tledek”, “beksa”, solah bawa sing tinata manoet wiramaning gending.” Di Jawa, joget itu tarian atau gerak raga diiringi musik. E St Harapap dalam Kamoes Indonesia (1942) mengartikan joget: “perempuan penari” atau “tari bumi putera”. Kita mengingat sekian pengertian joget dalam masalah seni atau tradisi. Puluhan tahun berlalu, joget akrab dalam politik. 

Pada 2018, joget belum mengandung pengertian politis bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di halaman 702, joget berarti “tari”, “tari dan lagu Melayu yang agak rancak iramanya”, “andak”, atau “ronggeng”. Para pembuat kamus masa lalu mungkin tak menduga bakal muncul pengertian-pengertian baru tentang joget. Kata itu lestari sampai sekarang tapi tak sekadar tari. Joget menjadi kata laris pada akhir 2023 dan awal 2024: menimbulkan pengertian-pengertian baru dalam politik. Kita sedang dibingungkan joget setelah jenuh kata-kata. Begitu. 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo