Dark
Light
Dark
Light

Analisis Debat Ketiga Capres: ​​Anies-Prabowo Masih Saling Cubit, Ganjar Menguasai Panggung

Analisis Debat Ketiga Capres: ​​Anies-Prabowo Masih Saling Cubit, Ganjar Menguasai Panggung

Seperti debat pertama, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto saling serang. Ganjar Pranowo – belajar dari debat sebelumnya, malah menguasai panggung dengan baik. Pertarungan demi menggaet swing voter.
 

Dalam debat ketiga pemilihan presiden, yang diselenggarakan di Istora Senayan, Minggu malam, 7 Januari 2024, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto kembali berseteru. Seperti tengah menyanyikan lagu Koes Plus, Cubit-cubitan –mereka saling serang. Tak hanya itu mereka senggol-senggolan dengan beragam sindirian. Walhasil, debat kali ini nyaris tak ada yang berbeda dengan yang terjadi sebelumnya, Desember lalu.

Dengan mengambil tema tentang pertahanan, keamanan, hubungan internasional, globalisasi, geopolitik dan politik luar negeri, Anies – seperti kata anak muda sekarang, langsung ngegas. Tak lama setelah kandidat nomor tiga Ganjar Pranowo menyampaikan visi dan misinya – salah satunya dekolonisasi Palestina, capres nomor wahid ini langsung menyerang Prabowo.

Dalam paparannya, Anies menekankan pentingnya Indonesia untuk menjadi aktor aktif dalam percaturan politik global – yang tidak lagi hanya menjadi penonton. Salah satunya adalah dengan aktif memperjuangkan kepentingan Palestina di panggung internasional.

Ibarat pantun, pernyataan itu layaknya sampiran belaka. Poin selanjutnya, Anies menyenggol mengenai kinerja Kementerian Pertahanan yang dipimpin Prabowo Subianto. Menurut dia, sungguh ironis jika kementerian yang memiliki anggaran paling besar ini justru anggarannya hanya dihabiskan untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) bekas. Selain itu, separuh anggota militer belum memiliki rumah dinas, padahal menterinya memiliki ratusan ribu hektar tanah.

Serangan itu ternyata tak menggoyahkan Prabowo.  Capres nomor dua ini lebih fokus pada visi-misinya, yakni pentingnya pertahanan negara sebagai upaya melindungi rakyatnya.  Dia juga menyinggung sikap politik bebas aktif yang mengamanatkan Indonesia harus bisa berkawan dengan semua kekuatan dunia demi kepentingan rakyat seluruhnya. Prabowo mengutip peribahasa untuk memperkuat argumennya ini, satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit.

Prabowo Jadi Sasaran Tembak

Aksi jual beli serangan itu justru terjadi pada sesi berikutnya. Setelah Anies kembali mengusiknya dengan tema serangan di sesi pertama, Prabowo kemudian merespons serangan ini dengan menyebut pernyataan Anies keliru. 

Dia pun menggunakan istilah “omon-omon” untuk menggambarkan lawan debatnya yang terkesan banyak bicara tapi keliru secara data. Prabowo bahkan mengajak Anies untuk diskusi langsung di luar forum debat perihal persoalan yang dipermasalahkannya.

Serangan Anies kepada Prabowo memang lebih gencar dalam debat ketiga ini. Anies hampir selalu membantah pernyataan Prabowo dan menyindir kinerjanya selama menjabat Menteri Pertahanan. Hal itu terlihat jelas ketika Anies diminta Ganjar memberi penilaian terhadap Kementerian Pertahanan. Anies memberi nilai 11 dari 100.

Angka ini tentu terbilang sangat rendah untuk menjadi ukuran kinerja pemerintahan. Wajar kemudian jika Prabowo tampak emosional setelah mendengar pernyataan Anies.

Ganjar awalnya cenderung pasif ketika Anies dan Prabowo saling ‘cubit’ dalam debat. Prabowo malah beberapa kali justru menyetujui argumentasi Ganjar dalam memaparkan gagasannya soal pertahanan.

Namun, Ganjar mulai berbalik arah ketika memasuki sesi terakhir debat. Dia kemudian ikut menyerang Prabowo. Bahkan secara terbuka, dia mengkritik kinerja Kementerian Pertahanan yang tidak maksimal.

Respons Prabowo terhadap serangan Ganjar tak beda dengan yang disampaikan pada Anies. Prabowo menyebut data Ganjar salah dan mengajak Ganjar untuk diskusi di luar forum guna menjelaskan data yang sebenarnya.

Ganjar Menguasai Panggung

Penampilan Prabowo bisa dikatakan berbanding terbalik dengan performa cawapresnya Gibran Rakabuming Raka dalam debat sebelumnya yang cenderung bisa mendominasi jalannya debat. Dalam debat ketiga, Prabowo seperti menjadi bulan-bulanan dua kandidat lain. Jawaban-jawaban yang disampaikan Prabowo beberapa kali tidak mampu untuk membantah narasi yang disampaikan kandidat lain kepadanya. 

Serangan-serangan semacam itu sebenarnya wajar mengingat Prabowo adalah representasi dari petahana atau kelompok yang ingin melanjutkan pemerintahan. Dengan begitu, beban pembuktian kinerja ada di pundak si petahana tersebut. 

Ketika kandidat lain menyerang kinerja, keadaan itu bisa dimengerti karena memang itu tugas mereka untuk menguji gagasan dari pihak yang ingin melanjutkan pemerintahan. Esensi perdebatan memang terletak disitu.

Hasilnya pun bisa segera terlihat dalam percakapan netizen di ranah media sosial. Berdasar data drone emprit yang menganalisis percakapan netizen di twitter/X, Prabowo mendapat sentimen negatif paling tinggi dari dua capres lain. Sekitar 54% netizen menilai negatif penampilan Prabowo dalam debat. Sedangkan Anies dan Ganjar masing-masing hanya mendapat angka sentimen negatif di kisaran 14% dan 11%.

Anies dan Ganjar juga sama-sama mendapat sentimen positif yang jauh meninggalkan Prabowo. Menurut data drone emprit, Anies mendapat sentimen positif sebesar 76%, Ganjar 74%, dan Prabowo hanya 40%.

Meski kalah dalam sentimen positif, namun Ganjar menjadi capres yang sentimen negatifnya paling rendah. Dibanding kandidat lain, Ganjar menunjukkan kesiapan dalam menyampaikan ide dan programnya. Meskipun tidak berlatar belakang militer, tapi Ganjar mampu tampil lugas, runtut, dan meyakinkan dalam menyampaikan gagasan soal pertahanan keamanan.

Ganjar sering mengutip data. Ia juga kerap memberi contoh dari apa yang ia maksudkan. Seperti ketika Ganjar mengulas soal diplomasi budaya, Ganjar menguatkan idenya dengan menyebut contoh-contoh orang-orang yang bisa menjadi duta diplomasi budaya, seperti musisi Rich Brian.

Hal ini sedikit berbeda dengan Anies yang malah lebih banyak mengoreksi pemerintahan sekarang daripada fokus pada penyampaian apa yang ingin dilakukan ketika menjadi presiden.

Ganjar fokus pada visi-misinya tanpa perlu ikut narasi untuk menyerang pihak-pihak lain. Selain itu, tak seperti Anies yang sering menyerang Prabowo. Kuantitas serangan Ganjar kepada Prabowo masih jauh di bawah Anies. 

Kalau kemudian sentimen negatif publik terhadap Ganjar paling kecil, kondisi itu bisa dimengerti. Penampilan Ganjar dalam debat memang luar biasa. Ganjar menguasai panggung dengan baik. Sepertinya dia belajar banyak dalam debat sebelumnya, yang cenderung di bawah Anies. Di debat ketiga Ganjar berhasil menunjukkan kualitasnya.

Hasil Debat Menentukan Pilihan?

Namun, apakah performa Ganjar bakal membuatnya bisa memenangkan pemilu? Tidak ada yang bisa memastikan. Apalagi dari pemaparan tiap capres, ketiganya cenderung berbicara secara makro dan normatif.

Anies misalnya. Dia menekankan perlunya Indonesia menjadi pemain utama dalam dinamika politik global, tapi bagaimana cara menjadikan Indonesia bisa berperan aktif itu tidak disampaikan oleh Anies.

Prabowo yang mengatakan bakal memperkuat sistem pertahanan negara juga tidak menyampaikan secara jelas cara mewujudkannya. Apakah lewat pembelian alutsista baru atau bekas? Apakah dengan mengembangkan industri pertahanan? Atau memperbanyak jumlah militer? Prabowo sama sekali tidak menyampaikan hal itu.

Ganjar juga sama saja. Meski menyebut banyak data dalam pemaparan visi-misinya namun dia tidak memberi informasi jelas bagaimana cara mewujudkan semua gagasannya.

Saat semuanya berlalu biasa saja. Penampilan dalam debat yang bisa  membuat publik punya dasar tambahan untuk memilih dalam pemilu. Pasalnya, dalam pilpres 2024 ini suara pemilih yang masih belum menentukan pilihan jumlahnya sangat banyak.

Merujuk survei Litbang Kompas Desember 2023 lalu, jumlah mereka yang belum menentukan suara mencapai 28,7%. Ini angka yang sangat besar untuk jumlah pemilih. Ganjar dan Anies perlu menggaet suara kategori pemilih ini apabila ingin mengejar Prabowo-Gibran. Walhasil, penampilan selama debat seharusnya bisa menjadi strategi untuk meraih suara mereka yang belum menentukan pilihan pada hari pencoblosan nanti, 14 Februari kelak.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Willy Vebriandy
Alumni UIN Sunan Kalijaga. Penulis lepas. Salah satu penulis dalam Antologi Esai berjudul, Menatap Lukisan Gus Dur (Yogyakarta: 2021).


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo