Dark
Light
Dark
Light

Hal Mengerikan yang Saya Temukan dalam Pesta Pernikahan

Hal Mengerikan yang Saya Temukan dalam Pesta Pernikahan

Kadang-kadang ada saja hal yang tak pernah kita pikirkan akan terjadi, tiba-tiba hadir begitu saja dalam hidup. Salah satunya seperti ini: Sejak dulu saya bercita-cita ingin menjadi guru di sekolah. Keinginan itu saya perjuangkan sungguh-sungguh. Namun, ketika syarat ijazah sudah terpenuhi, saya justru tidak berada di ruang kelas, melainkan gedung pernikahan.

Minggu lalu teman saya memberi kabar bahwa ada salah satu Wedding Organizer yang mencari kru tambahan untuk bekerja paruh waktu pada awal Desember 2024. Saya rasa mencoba ikut terlibat di WO bisa menambah pengalaman menarik. Jadi, dengan reputasi nol di bidang event pesta, saya mantap mengatakan setuju untuk terlibat mengurusi tamu undangan dengan pakaian serupa John Wick: Celana dan jas hitam.

Saya pernah menghadiri pesta pernikahan tapi sebagai tamu bukan pekerja. Aktivitas itu tentu hanya berputar pada siklus datang, duduk, makan, salaman dengan mempelai, lalu pamit. Lain hal ketika menjadi kru WO, saya harus datang lebih awal dan pulang lebih lambat dari para undangan. Lelah! Kaki saya rasanya beku karena harus berdiri berjam-jam, ditambah lagi mulut saya harus cerewet bak robot mengatakan kalimat yang sama pada ratusan tamu: "Selamat siang Bapak, Ibu. Dari keluarga mempelai perempuan atau laki-laki, ya? Oh, mari silakan ke sebelah sini, Bu."

Namun, saya pikir lelah itu setimpal dengan kompensasinya. Bukan tentang uang, tapi apa yang tersimpan di mata. Hampir dalam semua Video Cinematic Wedding, citra acara pernikahan adalah bersih, wangi, indah, rapih, bahagia, dan haru. Begitu yang juga saya yakini. Tapi, setelah melihat acara pernikahan lebih dekat, saya menangkap hal lain yang disembunyikan, ditutup-tutupi atau malah dibiarkan. Ada ambiguitas di dalamnya.

Pesta pernikahan sering disebut bentuk rasa syukur. Ya, saya menyetujuinya. Tapi di dalamnya mengerikan juga. Setelah tamu berbondong-bondong pulang, saya menatap ada lautan air teh di lantai, potongan kue di banyak kertas mika, telur dan potongan kentang di dalam mangkuk, juga sisa-sisa daging bercampur nasi yang memenuhi piring. Semua lekas-lekas dimasukkan begitu saja ke ember besar oleh petugas kebersihan. Makanan itu telah berubah status menjadi sampah.

Bayangkan proses sampainya makanan itu hingga menjadi hidangan di atas piring. Ada peternak, petani, sopir, orang-orang yang memasak dan keterlibatan pihak lainnya. Belum lagi proses mendapatkan uang untuk menghasilkan makanan itu, ada bertetes-tetes keringat yang terjatuh. Sangat disayangkan, hasil usaha itu, sebagian berakhir di pembuangan.

Beragam makanan itu masih tertinggal dalam ingatan saya, paling lekat adalah daging. Rendang itu sangat enak, saya saksi hidup yang sudah mencicipinya. Tapi sayang, ia harus berakhir di tempat sampah bersama makanan lain. Karena peristiwa itu, saya jadi teringat  kisah sosok perempuan pejuang kemanusiaan dan cinta kasih, yaitu Bunda Teresa.

Pada tahun 1979,  Bunda Teresa mendapat Hadiah Nobel Perdamaian sebagai pengakuan atas karya dan pengabdiannya. Acara itu mestinya diikuti jamuan makan malam. Namun, Bunda Teresa menolak pesta itu. Ia lebih memilih anggaran sebesar $192.000 yang diperuntukkan untuk hidangan, dialokasikan untuk masyarakat miskin. Saya menduga, ia tidak mau menyia-nyiakan makanan barang secuil pun. Dalam glamornya pesta, biasanya lekat dengan menghambur-hamburkan pangan. Setidaknya, itu yang saya lihat selama ini.

Indonesia dinobatkan sebagai penghasil sampah makanan terbesar kedua di dunia. Data itu berdasarkan Food Sustainability Index yang dikembangkan The Economist Intelligence Unit. Satu orang diperkirakan membuang hingga 300 kilogram makanan setiap tahun. Saya juga membaca di Kompas (17/3/2019) dalam tulisan bertajuk Jangan Buang-buang Makananmu.., bahwa Waste4change, wirausaha sosial pengelolaan sampah, menyebutkan, berdasarkan pengalaman mereka, pesta pernikahan menyumbangkan sampah makanan terbesar.

Data itu semakin membuat saya bergidik untuk membayangkan berapa ribu orang yang melangsungkan pesta pernikahan di Indonesia per-minggunya. Angka itu tentu berkorelasi dengan banyaknya sisa makanan yang dibuang. Sangat kontradiktif, dalam acara yang diyakini bentuk rasa syukur, terjadi banyak kemubaziran.

Membuang-buang makanan, itu hanya satu persoalan, saya juga menemui permasalahan lain seperti sampah yang berserakan tak karuan. Jumlah sampah bersaing dengan banyaknya tamu yang datang. Mata saya juga tak sengaja menangkap konflik antara penyelenggara dan pihak lain. Kalau tidak salah masalahnya seputar uang yang terkait dengan acara.

Itu salah satu hal yang menjadi keresahan saya sejak lama. Saya kerap melihat orang-orang memaksakan sesuatu pada hal-hal yang tidak wajib, misalnya pesta pernikahan. Saya menjumpai banyak orang berhutang untuk resepsi mewah atas nama agama atau adat. Tentu hajatan mengandung banyak hal baik. Tapi, ketika dilakukan tanpa perhitungan matang, semata demi gengsi, dan berakhir stres karena utang menumpuk, mungkin ada baiknya dipikirkan lagi.

Terkadang saya membatin, kenapa pesta pernikahan menjadi serumit itu? Pernikahan sering kali tidak menyentuh esensi dari rasa syukur dan doa. Yang banyak terjadi, hajatan malah kalah perhatian dari nominal-nominal uang, pakaian mewah, gosip, hutang, pertengkaran, dan mungkin saja penyesalan.
 


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo