Belakangan ini, istilah rojali dan rohana kembali membahana. Dua akronim lawas untuk rombongan jarang beli dan rombongan hanya nanya itu muncul kembali menyusul kabar lesunya perekonomian dalam negeri. Bagi sebagian orang, kabar ini sulit dipercaya sebab pusat-pusat perbelanjaan tetap ramai dikunjungi orang, sejumlah kafe dan tempat nongkrong juga masih sesak dipadati pedagang; hanya saja, orang-orang itu ternyata memang hanya datang, bukan membeli barang. Mereka mengais sedikit senang, sambil sesekali memberanikan diri menyentuh sejumlah dagangan, mencoba bertanya harga, lalu keluar dengan tangan hampa.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk protes lemah kelas menengah. Sebuah perlawanan kecil-kecilan, dilakukan dalam diam, tetapi jelas digerakkan oleh resah yang tak bisa terus-terusan dipendam. Bisa saja, upaya untuk terus mendatangi pusat-pusat perbelanjaan adalah perjuangan untuk tetap tampak bahagia, meski di dompet nyaris tak ada uang tersisa. Dengan berjalan di lorong mal, menatap etalase, lalu mengunggah swafoto berlatar gemerlap lampu toko, mereka mengirimkan penanda bahwa hidup masih baik-baik saja.
Morfologi Kata
Bahasa Indonesia merekam fenomena ini dengan sangat baik melalui dua istilah bernuansa peyoratif; rojali dan rohana. Secara morfologis, rojali dan rohana dibentuk melalui proses akronimisasi, yakni pemadatan frasa menjadi satuan bentuk kata. Pola ini mirip dengan cara bahasa Indonesia membentuk akronim formal seperti pemilu (pemilihan umum) atau puskesmas (pusat kesehatan masyarakat), bedanya, rojali dan rohana bukan produk birokrasi, melainkan lahir dari kreativitas kolektif sehingga sifatnya lebih cair, adaptif, dan mengandung muatan jenaka. Proses ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia bersifat adaptif dan produktif dalam menciptakan kosakata baru, terutama melalui singkatan dan akronim.
Namun, kekuatan istilah ini tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada lapisan makna yang dikandungnya. Di balik kesan jenaka, tersimpan kritik sosial yang menganga. Menyebut seseorang sebagai rojali atau rohana bukan sekadar mendeskripsikan aktivitas “melihat-lihat tanpa membeli” atau “sekadar bertanya harga”, tetapi sekaligus menegaskan paradoks kelas menengah: hasrat untuk tetap tampak mapan di ruang publik berhadapan dengan realitas finansial yang berantakan. Humor, dalam konteks ini, berfungsi sebagai mekanisme peredam ketegangan antara citra yang ingin dipertahankan dan keterbatasan ekonomi yang sulit disembunyikan.
Seperti dikemukakan oleh Brown & Levinson (1987) dalam teori kesantunan, humor kerap berperan sebagai strategi komunikasi mitigasi—cara untuk menyampaikan teguran atau sindiran tanpa merusak harmoni sosial. Dalam ruang digital, istilah ini memberi ruang bagi masyarakat untuk menertawakan diri sendiri (self-mockery) sekaligus mengisyaratkan frustrasi kolektif terhadap kondisi ekonomi. Dengan kata lain, rojali dan rohana adalah wujud “katup pengaman linguistik”: melampiaskan ketegangan sosial dengan cara yang jenaka, tidak konfrontatif, dan dapat diterima bersama.
Dimensi Sosiolinguistik
Rojali dan rohana juga mengandung dimensi sosiolinguistik yang menarik. Kedua istilah ini tidak lahir di ruang formal, melainkan di arena digital yang kini menjadi laboratorium utama bagi kelahiran kosakata baru. Awalnya, istilah ini bersirkulasi di komunitas belanja daring, forum jual-beli, dan obrolan media sosial, lalu menyebar melampaui ruang virtual untuk akhirnya masuk ke percakapan sehari-hari. Fenomena ini menegaskan pandangan Holmes (2013) bahwa bahasa gaul bukan sekadar permainan kata, melainkan sarana untuk membangun identitas kelompok. Dengan kata lain, siapa yang memahami istilah ini otomatis menjadi bagian dari komunitas yang sama—kelompok yang memiliki pengalaman kolektif dalam menghadapi paradoks gaya hidup modern.
Selain sebagai penanda identitas, istilah ini juga berfungsi sebagai saluran ekspresi sosial. Ia memampatkan kegelisahan ekonomi menjadi humor yang dapat dibagi bersama. Dalam perspektif sosiolinguistik, hal ini dapat dibaca sebagai bentuk “protes lemah” (soft protest): kritik terhadap realitas yang kian tak ramah, disampaikan tanpa konfrontasi, tanpa demonstrasi, tetapi melalui tawa yang bergaung di linimasa. Mekanisme ini sejalan dengan gagasan bahwa bahasa sering kali menjadi katup pengaman sosial (safety valve), memungkinkan masyarakat melampiaskan ketegangan tanpa merusak harmoni (Attardo, 1994).
Yang lebih menarik lagi, penyebaran istilah ini mengilustrasikan bagaimana teknologi mengubah ekologi bahasa. Jika dahulu variasi bahasa lahir dalam ruang fisik tertentu, kini media sosial mempercepat proses kreasi, replikasi, dan standardisasi kosakata informal. Akibatnya, istilah seperti rojali dan rohana tidak hanya menjadi produk komunikasi, tetapi juga simbol zaman: sebuah era ketika bahasa tidak lagi menunggu legitimasi dari kamus untuk menjadi sah, melainkan memperoleh pengakuan melalui viralitas.
Cerminan Zaman
Pada akhirnya, rojali dan rohana bukan sekadar permainan kata. Ia adalah potret sebuah zaman, ketika bahasa menjadi cara menertawakan kenyataan. Di balik kelucuan akronim itu, tersimpan narasi getir tentang kelas menengah yang berjuang mempertahankan citra bahagia di tengah tekanan ekonomi yang kian menggila. Humor hadir bukan untuk meniadakan luka, melainkan untuk membuatnya terasa lebih dapat diterima. Bahasa merekam semuanya—dengan cara yang lincah, jenaka, sekaligus merana.
Dalam dua kata itu, dunia sosial dan dunia bahasa saling bersisian: yang satu memproduksi realitas, yang lain mendandani realitas agar tampak lebih ringan. Di sini, bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga mekanisme survival—cara manusia mengolah paradoks antara ingin dan mampu, antara citra dan fakta. Dan mungkin, di situlah letak kekuatan bahasa Indonesia: selalu menemukan jalan untuk relevan, bahkan ketika daya beli menurun dan pusat perbelanjaan hanya menjadi panggung pencitraan.
Khoirul Anam
Pengajar dan Pegiat Tata Bahasa
Editor: Muhammad Zunus


