Hajatan akbar dinamakan Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat telah berakhir. Kita melihat Chelsea sebagai pemenang setelah mengalahkan PSG. Kita dibuat kaget dalam selebrasi kemenangan Chelsea tampak Donald Trump. Sosok berambut putih itu presiden, bukan pemain bola. Ia hadir tapi kebablasan ambil peran.
Kita masih memiliki ingatan-ingatan tak lengkap mengenai kemenangan dan kekalahan. Semula, PSG berharap bisa menjadi juara setelah sanggup mengalahkan klub-klub besar Eropa. Konon, keampuhan PSG itu terbukti bermain sebagai tim. Kompak dan gairah menjadi penentu. Sekian kemenangan PSG ikut dipengaruhi ketangguhan kiper: Donnarumma.
Pada suatu adegan, ia berhadapan dengan Jamal Musiala (Bayern Muenchen). Detik-detik paling mendebarkan itu menghasilkan cedera parah untuk kaki Musiala. Donnarumma tampak bersedih. Konsekuensi tindakan kiper agar pemain lawan tak mencetak gol. Para pengamat bola berkomentar tentang Donnarumma. Kiper dari Real Madrid memberi kritik keras.
Hari terjanjikan tiba: PSG melawan Real Madrid. Thibaud Courtois menderita setelah pemain-pemaian PSG mencetak gol. Empat kali bola masuk gawang. Kalah mengakibatkan derita. Di kubu PSG, Donnarumma bungah. Gawang selamat dari nafsu mencetak gol para pemain Real Madirid.
Hari penuh kejutan tiba: 14 Juli 2025. Gawang dijaga Donnarumma ternoda. Tiga gol tercipta. Donnarumma tampak sedih dan marah. Ia mungkin merasa dipermalukan di hadapan puluhan ribu penonton dan Donald Trump. Ia mengalami hari tanpa pengampunan. Pertandingan rampung tapi kemarahan Donnaruma tak mau tamat. Kita melihat kejadian seru atas nama kemenangan dan kekalahan setelah pertandingan berakhir.
Semua itu berlalu. Kita bisa menonton ulang meski ketegangan sudah berubah. Kepastian tak terbantah: Chelsea menang dan memberi siksa terhebat untuk PSG. Donnarumma bakal mengenang dan membangkitkan marah agar kalah itu kelak terbalaskan. Kita sudahi memasalahkan Donnarumma atau Courtois. Mereka sudah menunaikan tugas dalam kekalahan memalukan.
Kita istirahat dulu sebagai penonton pertandingan sepak bola. Jeda singkat bisa bermakna dengan membaca puisi-puisi. Di atas meja, terbuka buku berjudul Telimpuh (2009) memuat puisi-puisi gubahan Hasan Asspahani. Buku mungkin jarang mendapat ulasan dan jarang masuk daftar buku puisi terpenting di Indonesia, dari masa ke masa.
Puisi kadang memberi gairah imajinasi melampaui omongan para pengamat bola dan pengakuan para pemain bola. Di puisi berjudul “Malaikat Penjaga Gawang”, kita mengimajinasikan sepak bola itu permainan dalam keterbatasan dan kesederhanaan. Hasan Aspahani menulis:
Di ruang ganti, ada setumpuk kostum dan kaos kaki,/ bersekutu dengan keringat ynng sudah mendingin.// Di tempat lain ada si kulit bundar yang tertidur pulas/ sekali. Ia bermimpi bertemu Malaikat Penjaga Gawang/ dan bertanya, “Kenapa engkau halangi aku menyentuh/ jaring-jaring gawang itu? Kenapa setiap kali aku ada/ di dalam tenteram tanganmu, kau tendang lagi aku/ ke tengah-tengah lapangan untuk diperebutkan?”
Ia menghadirkan malaikat bukan manusia berperan sebagai penjaga gawang. Gawang memang lazim memiliki misteri dan teka-teki.
Kita mengandaikan ada penikmat sepak bola mengutip puisi gubahan Hasan Aspahani untuk dipasang di media sosial. Publik mungkin terkejut dalam urusan sepak bola terselip puisi. Puisi berjudul “Setelah Sebuah Gol” bisa terbaca sambil mengingat derita berulang ditanggungkan Donnarumma. Hasan Aspahani memberi puisi pendek saja:
“Oh, betapa inginnya aku ikut/ bersorak-sorak gembira, tapi,/ untuk siapa?” kata bola di dalam/ gawang. Baru saja ia terjaring jala./ Baru saja ia lolos dari tangkapan/ penjaga gawang, penjaga bola."
Puisi mengenai bola ingin turut dalam selebrasi kemenangan. Puisi belum memihak pujian dan memuliakan penjaga gawang. Setiap gol mengartikan “keburukan” dan “kegagalan” kiper.
Puisi-puisi gubahan Hasan Aspahani mengesankan perhatian untuk nasib kiper. Sosok mengharamkan gol tapi serangan-serangan terus menimbulkan repot dan panik. Gol itu keindahan dan kemenangan. Gol menjadi petaka bagi kiper. Ikhtiar menjaga gawang tak selalu memberi kegembiraan. Tangisan, marah, dan kecewa biasa ditanggungkan kiper. Pada saat mampu menggagalkan kemungkinan-kemungkinan gol, kiper berhak diganjar tepuk tangan dan ketakjuban ribuan penonton.
Pertandingan-pertandingan besar di Amerika Serikat sekian hari lalu mengisahkan kiper-kiper girang dan merana. Mereka terkenal dengan segala capaian dan penghargaan. Penobatan kiper terbaik itu bergengsi. Kiper mendapat kehormatan jika menggagalkan gol lawan atau menampilkan heroisme demi gawang.
Kemuliaan kiper masih bisa terbaca dalam novel meski Mahfud Ikhwan menulis Bek (2024). Kita mengingat kekalahan Real Madrid gara-gara kesalahan fatal bek. Keberadaan bek turut menentukan keagungan dan kehancuran kiper. Kita bisa berharap Mahfud Ikhwan kelak menulis novel berjudul “Kiper”. Novel telanjur terbit mementingkan bek meski tetap memberi ruang bagi kehadiran kiper.
Para tokoh bocah diceritakan Mahfud Ikhwan kaget melihat lapangan besar. Mereka belum terbiasa. Kedatangan di lapangan menghasilkan kebingungan, keraguan, dan penasaran ketimbang nafsu meraih kemenangan. Pengalaman mengagetkan: “Lapangan itu jauh dari ukuran seharusnya lapangan sepak bola, tapi betul belaka kata Muslim, ia tetap saja enam kali lebih luas dari tempat kami biasa bermain. Dan, ketika kami memasukinya dalam keadaan kosong, di hari yang telah mulai panas oleh sinar matahari yang tepat ke pelipis, lapangan itu tiba-tiba jadi dua kali lipat luasnya dari biasanya. Ia luas, lengang, dan karena itu terasa mengancam. Gawang itu alangkah tinggi dan lebarnya. Berkali-kali Wakid mencoba menggapaikan tangannya ke mistar, tapi jangankan sampai, mendekati saja terlihat mustahil.”
Kita berimajinasi bocah itu merana. Makhluk kecil di depan gawang bakal kerepotan mengatasi kedatangan bola dari segala arah. Si kecil harus menunaikan tugas berat agar tak terjadi gol. Di liga-liga Eropa, kita terbiasa melihat kiper-kiper bertubuh tinggi. Di novel gubahan Mahfud Ikhwan, bocah sebagai kiper berharap selalu beruntung dan mendapat mukjizat. Kiper tak mau malu dan dkimarahi teman-teman gara-gara terjadi gol.
Di novel untuk anak dan remaja berjudul Radja Bola (1972) gubahan Mien Resmana, kita membaca impian bocah-bocah di desa itu mencetak gol. Mereka jarang berhasrat menjadi kiper. Kemenangan diraih dengan membuat gol di gawang lawan. Mencipta derita kiper sedang berjaga di gawang memberi kepuasan agar gol-gol mengesahkan menang.
Adegan terbaca dalam novel: “Tendangan melambung memang tidak begitu keras. Setiap pemain melihat ke arah bola yang tepat sekali menuju tengah-tengah gawang. Melihat bola demikian, penonton bersorak-sorak, sedangkan penjaga gawang berusaha menangkap bola yang tinggi datangnya itu. Sia-sia saja ia meloncat sambil mengacungkan kedua tangannya. Bola masuk dengan sempurna.” Di situ, kita membaca ikhtiar kiper tapi teranggap sia-sia. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Muhammad Zunus


