Titimangsa 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara besar ke Iran. Lebih dari 200 jet tempur IAF menyerang sekitar 100 target militer dan nuklir Iran, termasuk fasilitas pengayaan uranium Natanz, laboratorium nuklir Esfahan, dan koridor misil di Kermanshah dan Tabriz.
Agen Mossad juga melancarkan operasi rahasia dengan penempatan pangkalan drone untuk melumpuhkan pertahanan udara Iran terlebih dahulu. Ini adalah serangan paling luas sejak Perang Iran-Irak.
Serangan ini menewaskan sejumlah figur puncak: Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Bagheri, Komandan IRGC Hossein Salami, serta sejumlah ilmuwan nuklir, termasuk Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi. Taktik decapitation ini dirancang untuk mematahkan sentral komando Iran dan menghentikan laju program nuklir mereka.
Iran membalas dengan peluncuran lebih dari 150 misil balistik dan 100+ drone dalam “Operation True Promise III”. Meski banyak diperuntukkan sasaran militer, beberapa misil menghantam permukiman sipil seperti Bat Yam, Haifa, dan Rehovot. Hal ihwal ini mengakibatkan puluhan korban dan ratusan luka.
Semua serangan ini mencatat ratusan korban jiwa dan ribuan terluka. Terdapat evakuasi massal dari ibu kota Teheran. Diperkirakan lebih dari 100.000 orang meninggalkan kota menjelang peringatan langsung terhadap zona militer. Lonjakan harga bahan pokok dan kelangkaan bahan bakar memperparah tekanan ekonomi yang telah memburuk akibat embargo lama.
Iran juga melancarkan misil balistik “Haj Qassem” teranyar–diberi nama untuk mengenang komandan Quds yang terbunuh tahun 2020–dalam serangannya ke Israel. Di sisi liyan, pasukan Mossad menggunakan drone tingkat tinggi untuk menonaktifkan sistem pertahanan misil Iran sebelum serangan udara.
Sikap telak Israel mengancam nyawa negosiasi nuklir Iran-Amerika Serikat yang sedang berjalan. Teheran secara resmi menyatakan tidak akan berunding selama ancaman militer berkelanjutan. Pengeboman ini memperkeruh dinamika eksistensi nuklir dan melemahkan ruang diplomasi.
Komunitas global, dari Rusia hingga negara-negara Teluk, serta Uni Eropa, menyuarakan keprihatinan dan desakan agar konflik tidak menyebar. G7 dan Sekjen PBB menyerukan de-eskalasi segera. Inggris juga mengimbau warganya tinggalkan Israel sambil mengantisipasi implikasi lebih luas bagi keamanan regional.
Pendekatan keras dilakukan Benjamin Netanyahu dengan peringatan bahwa operasi ini jauh dari selesai, dan zona “jalur ke Teheran” masih terbuka. Bagi Iran, konflik ini meruncingkan tekanan internal; khalayak sipil semakin muak terhadap harga ekonomi dan propaganda. Apakah resistensi dan konfrontasi masih relevan, atau sudahkah waktu tiba untuk redefinisi strategi nasional?
Ingatan Kolektif dan Luka Imperial
Iran bukanlah negeri yang hidup dalam damai, melainkan sebuah medan siaga abadi, sebuah panggung tempat sejarah mementaskan episode-episode kekuasaan dan kehancuran. Negeri ini tidak pernah benar-benar bebas dari hasratnya akan kebesaran, juga tidak pernah benar-benar sembuh dari luka kolonial yang menancap dalam di tubuh geopolitiknya. Setiap ledakan bom di Gaza, setiap serangan udara di Aleppo, setiap peluru nyasar di Beirut, menyentuh urat syaraf Republik Islam, membangunkan kembali ilusi kemenangan dan paranoia kekalahan. Sejarah tidak tersimpan dalam arsip museum di Iran. Ia tidur di bawah bantal para jenderal, dibaca ulang oleh para Ayatollah, dan digubah dalam nyanyian propaganda militer.
Perang bukanlah masa silam. Ia adalah hari ini, kemarin, dan kemungkinan besok. Di tengah pusaran itulah, lahirlah sebuah strategi besar: bukan sekadar dokumen kebijakan, tetapi cara berpikir, cara bertahan, dan cara bermimpi tentang masa depan yang terus-menerus terancam.
Buku Iran’s Grand Strategy: A Political History (Princeton University Press, 2025) karya Sejarawan Vali Nasr menyibak wajah strategi itu, bukan dari kacamata barat yang klise, tetapi dari lensa historis yang menyadari bahwa negeri ini tidak pernah lepas dari cengkeraman kesunyian dan perlawanan sekaligus.
Di balik setiap narasi tentang kekuatan Iran terdapat luka yang belum sembuh: kudeta 1953, perang delapan tahun melawan Irak, intervensi Inggris dan Rusia, serta ketakutan laten akan disintegrasi nasional. Ini bukan paranoia. Perihal ini adalah bentuk hidup dari sebuah bangsa yang telah mengalami terlalu banyak pengkhianatan dalam terlalu banyak dekade. Ingatan kolektif Iran dibangun bukan di atas demokrasi liberal atau hak asasi manusia, melainkan di atas kehormatan yang diinjak, perjanjian yang dikhianati, dan perlawanan yang dirayakan dalam kesenyapan.
Tatkala Inggris dan Amerika menjatuhkan Mohammad Mossadegh demi menjaga ladang minyak dan status quo geopolitik, Iran belajar bahwa demokrasi bisa dihancurkan dengan satu dokumen rahasia. Ketika dunia menutup mata saat Saddam Hussein menyerang dengan gas beracun, Iran belajar bahwa keadilan internasional adalah fiksi imperial.
Ingatan inilah yang kemudian dikodifikasi ke dalam strategi pertahanan, dipatenkan menjadi ideologi “resistensi”, dan diinstitusikan dalam tubuh militer dan politik negara. Negara ini tidak sedang bermimpi tentang kebebasan gaya barat. Ia sedang berusaha tetap hidup dalam sistem internasional yang sejak awal memperlakukannya sebagai objek, bukan subjek sejarah.
Banyak analis luar masih terjebak pada paradigma bahwa Iran adalah teokrasi ideologis yang beroperasi di bawah wahyu dan dogma. Namun mereka lupa bahwa Republik Islam adalah ciptaan sejarah, bukan sekadar hasil revolusi. Dari Khomeini hingga Khamenei, Iran bergerak bukan karena fatwa semata, melainkan karena kalkulasi kekuasaan yang sangat realistis. Islam hanyalah bahasa politik; kontennya adalah ketahanan, otonomi, dan dominasi regional.
Apa yang disebut “resistensi” oleh Iran bukanlah romantisme revolusioner. Itu adalah hasil rasional dari logika negara-bangsa: jika Anda dikelilingi oleh pangkalan militer Amerika, Anda membangun milisi di Lebanon. Jika ekonomi Anda diblokade, Anda membangun jaringan ekonomi bayangan. Dan jika para sekutu Anda dibunuh satu per satu, Anda menyiapkan drone untuk balas dendam.
Buku Vali Nasr meneroka bahwa strategi besar Iran, meskipun berakar pada ideologi revolusi 1979, telah bertransformasi menjadi kebijakan luar negeri yang sangat sekuler dalam praksisnya. Proyek nuklir, intervensi di Suriah, pendanaan untuk Hamas, semuanya bukan bentuk ekspansi Islam, melainkan langkah-langkah mempertahankan posisi tawar di hadapan hegemoni global yang terus berubah.
Strategi Besar di Tengah Bencana
Strategi besar Iran tumbuh di atas reruntuhan: embargo, sanksi, dan keterasingan internasional. Akan tetapi justru dari sana, negara ini membangun otot geopolitiknya. Laksana seorang pejuang gerilya yang dilatih di hutan oleh kebutuhan, Iran menciptakan daya tahan dari isolasi, bukan dari keterbukaan.
Setiap perundingan nuklir gagal menjadi momen propaganda domestik; setiap sanksi dijadikan narasi pengorbanan nasional. Ketika Amerika menyebut Iran sebagai bagian dari “poros kejahatan”, Iran menjadikannya bahan bakar untuk menyatukan nasionalisme dengan religiositas, militerisme dengan identitas.
Namun keberhasilan ini dibayar mahal. Harga makanan melonjak, kelas menengah tergerus, dan generasi muda tumbuh dalam ketegangan antara kehormatan nasional dan frustrasi sosial. Visi 2025 tentang Iran sebagai kekuatan industri dan ilmiah di Asia Barat kiwari tampak seperti ilusi yang dilupakan di antara reruntuhan ekonomi dan emigrasi kaum terdidik.
Perempuan, Protes, Nasionalisme Baru
Peristiwa Mahsa Amini 2022 adalah titik balik yang mengejutkan. Ia mengguncang narasi lama tentang persatuan nasional yang dibangun oleh resistensi eksternal. Untuk pertama kalinya, musuh terbesar bukanlah AS atau Israel, melainkan ketakutan kolektif terhadap perempuan tanpa jilbab. Tubuh perempuan menjadi medan tempur baru di mana negara merasa kehilangan kendali atas simbol-simbol ideologinya.
Namun protes itu juga menunjukkan bahwa generasi baru Iran tidak ingin hidup dalam reruntuhan masa lampau. Mereka tidak membenci negaranya, tapi mereka muak dengan mitos kehormatan yang dibangun dari kesunyian. Mereka menuntut identitas nasional yang tidak lagi dibangun dari resistensi, tetapi dari pengakuan martabat individu.
Bagi para elite Iran, ini adalah ancaman berkanjang. Maka tak heran jika protes itu dikategorikan sebagai “proyek asing” dan “konspirasi Amerika”. Dalam narasi resmi, perempuan tanpa jilbab bukanlah simbol kebebasan, tapi agen dari strategi musuh. Sebuah pengalihan yang elegan tapi rangup.
Melawan Amerika atau Mengulang Sejarah?
Setiap revolusi membawa janji perubahan, tetapi tidak semua revolusi sanggup lari dari bayang-bayang sejarahnya sendiri. Iran hari ini lebih mirip kerajaan Safawi bersenjata nuklir dibandingkan republik modern. Resistensi telah menjadi bentuk liyan dari konservatisme. Ketika elit menggunakan ingatan Mossadegh untuk menjustifikasi represi dan isolasi, maka kita tahu bahwa sejarah telah disulap menjadi alat kontrol, bukan pembebasan.
Amerika mungkin telah lelah bermain di Timur Tengah, tetapi Iran tidak. Di sinilah keunggulannya sekaligus kelemahannya. Strategi untuk melelahkan musuh justru memperlemah tubuhnya sendiri. Tatkala negara menjadikan musuh eksternal sebagai perekat internal, ia cenderung mengabaikan fakta bahwa musuh sesungguhnya mungkin telah berkemah di dalam hati rakyatnya sendiri.
Hari ini, Iran berdiri tegak dengan kepercayaan diri seorang pejuang yang tak pernah kalah dalam narasi sendiri. Ia telah mengalahkan Saddam, bertahan dari sanksi, dan memperluas pengaruhnya di empat ibu kota Arab. Tapi di balik semua itu, ada ketakutan yang tidak terucapkan: bisakah proyek ini bertahan satu dekade lagi?
Kalakian, rakyat Iran tidak bodoh. Mereka tahu bahwa strategi besar telah membawa kebanggaan, tetapi juga kesepian. Mereka sadar bahwa pembangunan militer tidak bisa menggantikan harga roti, dan kemenangan simbolik di Gaza tidak bisa menggantikan kebebasan di Teheran.
Ada kemungkinan bahwa generasi baru akan menuntut strategi lain: bukan resistensi, tetapi reintegrasi; bukan isolasi, tetapi pembukaan. Ketika saat itu datang, bukan Amerika yang harus diajak berdialog, melainkan masa lalu yang harus dinegosiasikan kembali.
Iran bukan korban sejarah, tapi juga bukan pemenangnya. Ia adalah anak sulung dari masa lalu yang tak selesai. Terlalu bangga untuk menyerah, terlalu keras kepala untuk berubah. Strategi besarnya mungkin akan dikenang sebagai salah satu proyek ketahanan negara paling konsisten di dunia pascakolonial. Walakin juga sebagai proyek yang menukar masa depan dengan kehormatan yang didaur ulang.
Di balik semua kalkulasi geopolitik, ada manusia yang menunggu kehidupan yang layak. Ketika mereka bersuara, tidak akan cukup drone atau rudal untuk membungkamnya. Suara itu bukan datang dari barat, tetapi dari dalam: dari sejarah nan letih, dari anak-anak yang tumbuh tanpa harapan, dari perempuan yang menolak diam. Republik Iran, pada akhirnya, harus memilih: mencintai perlawanan selamanya, atau mulai belajar mencintai damai yang tidak pernah sempat tumbuh.
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus


