Dark
Light
Dark
Light

Panggung Ketakutan Israel: Politik Ancaman dan Restu Amerika Serikat

Panggung Ketakutan Israel: Politik Ancaman dan Restu Amerika Serikat

Di langit yang dibelah oleh suara sirene dan gemuruh rudal di atas Tel Aviv, konflik yang dahulu hanya dibisikkan kiwari menggema dalam dentuman ledakan. Israel dan Iran tidak lagi hanya saling menatap dalam cermin retak diplomasi, tetapi saling menghunuskan bayangan. Setelah serangan udara terhadap fasilitas militer di Isfahan pada awal 2025 yang diduga dilakukan oleh Mossad, dan balasan drone Iran ke arah kota Haifa dan Dimona, pertarungan senyap itu meletup menjadi konfrontasi terbuka. Dunia gemetar menyaksikan dua kekuatan regional saling mencakar dengan semangat keberadaan yang dibungkus dalam bahasa eksistensi nasional.

Tangan kekuasaan yang lebih halus namun tidak kalah menentukan sedang menata lakon di balik panggung kekerasan itu. Pemerintah Amerika Serikat yang secara resmi bersikap “menahan diri namun siap membela sekutu”, diam-diam terus mengisi tabung senjata Israel dan mengerahkan kapal induknya ke perairan Mediterania Timur. Washington tidak menyulut api, demikian kata para juru bicara, tetapi ia terus menyiram bensin ke bara. Dalam medan perang yang dirancang sebagai pertahanan dari ancaman, sekuritisasi telah menjadi bukan hanya strategi, tetapi ritual politik, sebuah liturgi baru di altar nasionalisme dan dominasi regional.

Dalam situasi inilah, buku Israel: National Security and Securitization: The Role of the United States in Defining What Counts (Springer, 2023) karya Ori Wertman dan Christian Kaunert hadir tidak sekadar sebagai telaah akademik, tetapi sebagai peta kognitif terhadap apa yang selama ini digerakkan oleh imajinasi kekuasaan: ketakutan yang dijadikan kebijakan, ancaman yang dijadikan alasan untuk mendominasi, dan sekutu yang dijadikan dewa pemberi restu. 

Buku ini membongkar lapisan demi lapisan bagaimana keamanan tidak lagi menjadi hak dasar, tetapi menjadi industri, menjadi alat, menjadi justifikasi abadi untuk melanggengkan kekuasaan yang mengklaim dirinya sebagai perisai demokrasi, seraya menutup mulut yang menolak tunduk.

Buku ini berdiri kokoh di atas argumen bahwa Israel bukan hanya negara dalam kondisi darurat permanen, tetapi juga negara yang menjadikan ancaman sebagai dasar dari seluruh kontrak sosial-politiknya. Setiap tetesan tinta dalam dokumen keamanan nasional, setiap sidang kabinet dalam waktu krisis, bahkan setiap pidato perdana menteri di depan kongres Amerika, semua adalah bagian dari narasi besar yang disebut “sekuritisasi”. 

Wertman dan Kaunert menyusun fondasi teoritis dengan meminjam dari kerangka kerja Copenhagen School, tetapi dengan sentuhan berbeda: mereka menyorot pentingnya “audiens” dalam menyetujui transformasi ancaman menjadi kebijakan luar biasa. Di sinilah AS muncul bukan hanya sebagai sekutu, melainkan sebagai aktor penentu moral dan politis dari apa yang dianggap sebagai ancaman eksistensial oleh Israel.

Dalam satu kutipan kunci, para penulis menulis bahwa “dukungan Amerika Serikat bukanlah pilihan, melainkan syarat eksistensial bagi legitimasi tindakan keamanan Israel”. Kalimat ini membuka jendela besar pada struktur realitas geopolitik kontemporer: bahwa Israel, walau dilukiskan sebagai negara mandiri dengan teknologi militer unggul dan intelijen terdepan, pada kenyataannya mengandalkan legitimasi moral dari Washington untuk setiap langkah ofensifnya. Operasi militer, perjanjian damai, bahkan negosiasi dengan musuh bebuyutan sekalipun, semua dihitung dalam parameter apakah Amerika akan menyetujui, menahan diri, atau mengutuk.

Empat studi kasus yang dikaji secara mendalam dalam buku ini (Perang Enam Hari 1967, Perjanjian Oslo 1993-1995, Operasi Defensive Shield 2002, dan serangan terhadap reaktor nuklir Suriah pada 2007) menyajikan satu pola konsisten: keberhasilan sekuritisasi Israel hampir selalu bergantung pada dukungan atau diamnya Amerika. Dari sini, pembaca disadarkan bahwa hubungan ini bukan hubungan bilateral biasa, melainkan persekongkolan ideologis yang menjadikan ketakutan sebagai mata uang dan persetujuan sebagai alat tukar utama. 

Buku ini, dengan nada ilmiah yang tenang namun telak, membongkar bagaimana keputusan untuk menyerang atau berdamai bukan soal prinsip moral atau konstitusi, melainkan tentang siapa yang dianggap cukup berkuasa untuk diyakinkan bahwa sebuah ancaman itu nyata.

Namun kehebatan buku ini bukan hanya pada analisis kebijakan dan politik luar negeri. Nilai sejatinya terletak pada tawaran konseptual yang berani: pembagian antara “audiens legal” dan “audiens politis”. Audiens legal, dalam kerangka ini, merujuk pada lembaga-lembaga formal seperti parlemen dan kabinet Israel yang sah menentukan kebijakan. Akan tetapi audiens politis yang lebih sering tidak resmi dan tak tertera dalam konstitusi adalah entitas yang harus diyakinkan demi legitimasi eksternal. Dalam hampir semua kasus, audiens itu adalah AS.

Konseptualisasi ini membuka ruang baru dalam studi hubungan internasional. Ia menunjukkan bahwa politik keamanan bukan hanya soal siapa menembak siapa, tetapi juga siapa berbicara kepada siapa, dan siapa yang mendengar dengan setuju atau dengan curiga. Dalam konteks Israel, keberadaan ancaman tidak cukup; ancaman harus dibingkai, dikemas, dan dipromosikan kepada audiens yang tepat agar bisa diterima sebagai alasan untuk bertindak. Ketika Perdana Menteri Israel berbicara di hadapan Kongres AS dan menyebut Iran sebagai “ancaman eksistensial” itu bukan hanya pidato, melainkan tindakan sekuritisasi dalam bentuk paling murni.

Empat studi kasus yang dianalisis dalam buku ini membentuk narasi besar tentang bagaimana ketakutan diubah menjadi doktrin, dan bagaimana doktrin tersebut diubah kembali menjadi tindakan melalui mekanisme persetujuan. Dalam Perang Enam Hari tahun 1967, misalnya, Israel mengkonstruksikan pengerahan pasukan Mesir di Sinai sebagai isyarat awal genosida yang akan datang. 

Namun yang menentukan bukan hanya tafsir ancaman oleh Israel, melainkan bagaimana tafsir itu diterima atau diabaikan oleh Washington. Penundaan serangan, diskusi panjang di kabinet Israel, dan lobi diplomatik yang intensif di Amerika memperlihatkan bahwa tindakan militer hanya bisa dilakukan setelah audiens di seberang Samudra Atlantik menunjukkan lampu kuning nan cukup samar untuk dibaca sebagai lampu hijau.

Demikian pula pada Perjanjian Oslo. Buku ini menunjukkan bahwa Israel tidak hanya menandatangani perjanjian perdamaian karena kalkulasi strategis domestik, melainkan juga karena tekanan moral dan politis dari Amerika. Ancaman yang diciptakan di sini bukan dalam bentuk bom atau pasukan, melainkan dalam bentuk demografis: kekhawatiran bahwa Israel akan kehilangan status sebagai negara Yahudi jika gagal membatasi pertumbuhan populasi Palestina di bawah kendalinya. Dengan membingkai ancaman sebagai krisis identitas nasional, Israel berhasil menggeser debat dari isu penjajahan ke isu keberlanjutan negara-bangsa, dan sekali lagi Amerika menyetujui kerangka tersebut, menjadikannya kebijakan.

Bab berikutnya dalam buku ini mengangkat Operasi Defensive Shield tahun 2002, yang dilakukan menyusul gelombang serangan bunuh diri yang mengguncang Israel selama Intifada Kedua. Di balik kebrutalan jalanan, terlihat kerangka naratif yang rapi: Yasser Arafat dan Otoritas Palestina diposisikan sebagai aktor teror yang mengancam eksistensi Israel, bukan sebagai mitra damai yang gagal. 

Namun lebih dari itu, nilai kasus ini dalam buku bukanlah sekadar kronologi militer, melainkan penjelasan rinci bagaimana opini publik Amerika dimobilisasi, media internasional dimanipulasi, dan akhirnya restu dari Washington diperoleh untuk melancarkan operasi militer berskala penuh di kawasan-kawasan yang secara teknis dan hukum masih diduduki.

Pada momen inilah, menurut Wertman dan Kaunert, keterlibatan Amerika Serikat bukan hanya pasif sebagai audiens politis, tetapi aktif sebagai mitra konstruksi ancaman. Arafat tidak hanya diasingkan secara fisik oleh tank dan tembok beton, tetapi juga secara simbolik didegradasi dari tokoh nasional menjadi figur teroris di panggung global. 

Penyebutan “teroris” di podium Gedung Putih memiliki bobot yang lebih besar dari puluhan tembakan di Jenin. Dalam logika ini, Amerika menjadi pencetak konsensus global tentang siapa yang boleh hidup, siapa yang layak disingkirkan, dan siapa yang tidak berhak memiliki narasi.

Kasus keempat, dan mungkin yang paling simbolik, adalah operasi rahasia penghancuran reaktor nuklir Suriah tahun 2007 yang masyhur sebagai Operasi “Outside the Box.” Di sinilah sekuritisasi mencapai bentuk penuhnya: ancaman belum nyata, belum tampak di permukaan, tetapi cukup diantisipasi untuk dibenarkan dalam tindakan militer sepihak. 

Israel menyerang bukan karena senjata telah diaktifkan, melainkan karena imajinasi tentang kehancuran telah dibangun dengan cukup kuat. Buku ini menggambarkan bagaimana intelijen Israel menyajikan laporan ancaman kepada Washington, dan setelah diplomasi diam-diam, serangan dilaksanakan.

Akan tetapi yang lebih penting dari ledakan bom di padang pasir Suriah adalah diamnya Amerika. Tidak ada kutukan, tidak ada kecaman, hanya keheningan strategis. Wertman dan Kaunert meneroka bahwa dalam konteks sekuritisasi, diam bisa lebih mematikan dari deklarasi. Tatkala AS memilih untuk tidak bereaksi, itu menjadi bentuk persetujuan yang paling jernih. Dalam keheningan itu, Israel mendapatkan legitimasi paling sempurna karena restu tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata, melainkan dalam bentuk pengabaian.

Empat kasus ini, jika dibaca bersamaan, membentuk semacam simfoni ideologis. Dari perang konvensional ke perdamaian semu, dari invasi terbuka ke operasi rahasia, pola sekuritisasi tetap sama: ancaman harus disampaikan, audiens harus diyakinkan, dan tindakan harus dikeraskan. Sepanjang waktu, satu audiens tetap dominan: Amerika. Ia bukan sekadar penonton, tetapi pengarah panggung, produser yang menentukan apakah lakon berlanjut atau panggung ditutup. Buku ini membongkar ilusi bahwa Israel bertindak sendiri. Tidak. Ia bertindak dalam orbit yang dikendalikan oleh dinamika strategis, ekonomi, dan simbolik dengan Washington sebagai pusat gravitasinya.

Apa yang disuguhkan Wertman dan Kaunert bukanlah cerita tunggal tentang Israel atau AS. Hal ihwal ini adalah cerita tentang bagaimana ketakutan diproduksi, disebarkan, dan dibeli oleh masyarakat yang ingin percaya bahwa keberadaan mereka memang selalu dalam ancaman. Di balik setiap kebijakan militer, ada konstruk naratif; di balik setiap naratif, ada kebutuhan untuk meyakinkan; dan di balik keyakinan itu, ada audiens yang harus dirayu, digertak, atau dipuaskan. Dalam buku ini, Amerika menjadi representasi dari kekuatan hegemonik yang memegang kendali atas perangkat narasi tersebut.

Walakin, tulisan ini juga ingin mengajukan pertanyaan liyan: bagaimana jika audiens mulai bosan? Bagaimana jika publik Amerika, yang telah lama disuguhi narasi ketakutan dan keamanan mutlak, mulai mempertanyakan logika intervensi diam-diam mereka? Bagaimana jika sekutu terdekat mulai kehilangan wibawa moral karena terus melanggengkan ketakutan sebagai basis kebijakan luar negeri?

Dalam dunia yang kian terfragmentasi oleh populisme, krisis iklim, dan perang informasi, logika sekuritisasi yang bergantung pada pengesahan tunggal dari satu kekuatan hegemonik mungkin sedang menuju masa senja. Namun buku ini tetap penting: bukan karena ia memberi kita jawaban, tetapi karena ia memaksa kita untuk melihat bahwa setiap perang, setiap perdamaian, dan setiap lema “ancaman” yang dikumandangkan pemimpin dunia, tidak pernah berdiri sendiri. Mereka semua lahir dari panggung politik yang kita biarkan terus berdiri, tanpa kita pertanyakan siapa penulis naskahnya.

Bila suatu hari nanti, Israel kembali membombardir Gaza atau menyerang titik strategis di Lebanon atau Iran dengan dalih keamanan nasional, buku ini akan berbisik lirih di telinga sejarah: siapa yang meyakinkan siapa, untuk apa, dan dengan konsekuensi bagi siapa?
 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo