Dark
Light
Dark
Light

Detik-detik Proklamasi: Kala Hatta Mendikte Sukarno

Detik-detik Proklamasi: Kala Hatta Mendikte Sukarno

Keadaan tetap menegangkan, karena masih ada kekhawatiran akan kemungkinan tindakan Jepang baik terhadap Sukarno dan Hatta maupun terhadap para pemuda. Para pemuda itu bersiaga lagi untuk mengadakan perlawanan bersenjata, yang dibayangkan tidak akan sanggup menandingi kekuatan militer Jepang yang besar.

Maeda bersungguh-sungguh dengan segala cara untuk menghindarkan meruncingnya situasi yang ada. Karena dia tidak ingin memikul tanggung jawab pelaksanaan proklamasi itu sendiri, maka Maeda bersama Sukarno dan Hatta mengunjungi Komandan Tentara Yamamoto. 

Namun, Yamamoto tidak dapat dihubungi karena sementara itu sudah jelaslah bahwa penjajah Jepang telah menerima instruksi dari pihak pemenang perang, tentara Sekutu, untuk mempertahankan status quo. Dia tidak diizinkan lagi membantu persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dengan sikapnya tidak menanggapi, Yamamoto menghindar dari tuduhan Sekutu bahwa dia tidak mematuhi perintah mereka.

Kemudian ketiga orang itu menuju rumah besar rekan terdekat Yamamoto, Mayor-Jenderal Nishimura Otoji, yang bertugas di bagian Urusan Umum. Dengan enggan dia menerima kedatangan ketiga orang itu. Dalam pembicaraan, dia bersikukuh di belakang pendirian Yamamoto. Otoji juga mengeluarkan pernyataan larangan pelaksanaan pertemuan PPKI yang direncanakan tanggal 18 Agustus.

Lelah dan frustasi, Sukarno dan Hatta mengeluhkan bahwa mereka tidak mendapat peluang dari pemimpin tentara Jepang. Pada petang hari mereka mendatangi residensi Maeda. Di sana juga ada Miyoshi, penasihat Nishimura, sebagai pengawas dan informan aparat militer. Miyoshi hampir tidak memainkan peran apa-apa. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur sebagai akibat banyaknya alkohol yang ditenggak pada hari-hari terakhir karena ketegangan yang dirasakan. Rumah Maeda semakin ramai ketika berbagai kurir dan utusan dari golongan-golongan ke luar-masuk.

Di pelbagai bagian wilayah di kota kelompok-kelompok pemuda berkumpul. Aksi bersenjata pada saat terakhir dibatalkan dan tokoh-tokoh golongan pemuda diminta untuk datang ke rumah Maeda. 

Setelah dipanggil oleh Soebardjo, sebagian besar anggota PPKI juga berkumpul di sana. Sekira pukul dua malam datang pula rombongan sejumlah lima puluh sampai enam puluh laki-laki dan perempuan. Mereka untuk sementara harus menunggu, karena orang-orang terpenting–Sukarno, Hatta, Soebardjo, dan Maeda, Nishijima, Yoshizumi rekan kerjanya, staf intelijen Maeda, dan Miyoshi yang ruai–sedang berapat di ruang kerja Maeda di tingkat tiga. Maeda segera menarik diri ke ruang pribadinya, tetapi mendapat informasi lengkap dari para penasihatnya. Ia memiliki suara yang menentukan pada penetapan teks akhir proklamasi.

Keenam orang itu pada akhirnya sepakat dengan teks pendek yang lugas:

‘Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara jang saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.’

Sukarno kepada Hatta: ‘Kau saja yang mendikte, karena bahasa Indonesiamu lebih bagus, kemudian saya yang menuliskannya.’

Teks pernyataan yang nyata dan singkat ini kurang disetujui oleh tokoh-tokoh pemuda yang hadir, tapi mendapat dukungan luas dari anggota-anggota PPKI. Soekarni mengajukan rumusan kalimat kedua dari golongan pemuda yang menyatakan bahwa "dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Segala badan pemerintah yang ada harus direbut oleh rakyat dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya.’"Akan tetapi, teks yang militan ini tak mendapat dukungan. Para anggota PPKI dan Maeda tidak setuju.

Usulan agar Proklamasi ditandatangani oleh semua yang hadir tidak diterima oleh golongan pemuda. Jika anggota-anggota PPKI ikut menandatanganinya, maka dianggap ada cap Jepang pada proklamasi itu.

Usulan agar teks ditandatangani oleh enam tokoh golongan pemuda di bawah nama Sukarno dan Hatta juga tidak disetujui oleh mayoritas anggota PPKI. Pada akhirnya, diputuskan hanya Sukarno dan Hatta yang menandatangani teks Proklamasi tersebut. 

Sementara itu, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari pada Jumat titimangsa 17 Agustus 1945. Subuh itu Sukarno yang letih bersepeda menggonceng Hatta pulang ke rumahnya. Masih belum jelas bagaimana pada hari itu Proklamasi akan dilaksanakan.

Penguasa militer melarang semua manifestasi umum yang berkelindan dengan Proklamasi. Mereka mengirimi pasukan-pasukan berjaga di jalanan dan memblokir penyiaran berita melalui radio dan koran.

Meskipun demikian, berita Proklamasi berhasil disebarkan dalam bentuk pamflet melalui kantor angkatan laut. Berita itu juga berhasil diumumkan melalui radio dan kantor berita Jepang Domei.

Rencana semula untuk menyelenggarakan Proklamasi di Lapangan Ikada pada saat terakhir dilarang oleh penguasa militer Jepang. Walaupun begitu, sekira pukul sembilan pagi di sana telah berkumpul massa yang dihadang oleh tentara-tentara Jepang. 

Sementara itu, di Pegangsaan Timur tempat Proklamasi akan dilaksanakan pada pukul sepuluh, berdatangan ribuan pejuang revolusi. Mereka ialah tentara-tentara PETA, Barisan Pelopor dari Banten dan Tangerang yang mendapat tugas untuk berjaga-jaga menghadapi kemungkinan serangan Jepang. Di luar halaman juga banyak orang yang berkumpul menonton.

Arkian, Proklamasi yang ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta ‘atas nama bangsa Indonesia’, tidak bisa lebih singkat lagi dan menampakkan jejak pengaruh Jepang. Teks itu bertanggal ‘Djakarta, 17-8-‘05’, dan angka tahun itu menunjukkan tahun 2605 menurut perhitungan tahun Jepang. Pembacaan Proklamasi dan beberapa kalimat pembuka dan penutup berlangsung lima menit.

Kalimat-kalimat pembuka menunjukkan pada perjuangan panjang mencapai kemerdekaan. Dalam pembuka itu ada bagian kalimat yang defensif dan mencolok. Sukarno menyatakan seakan Indonesia, termasuk dirinya sendiri, mendukung Jepang selama masa pendudukannya. Namun, dalam kenyataannya kekuatan mereka yang selalu diperkuat dan mereka memercayai kekuatan itu. Akhirnya dia menyerukan:

Kita sekarang telah merdeka! Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara merdeka, Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!

Lalu bendera Indonesia dikibarkan, yang pada malam itu dijahit oleh Fatmawati, dan sesudah itu lagu kebangsaan dinyanyikan. Sebagai penutup Sukarno menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih.

Dalam keadaan letih dan demam dia mengundurkan diri pulang ke rumah. Hatta masih berbicara dengan orang-orang yang datang terlambat dan tidak menyaksikan pembacaan Proklamasi, di antaranya beberapa tokoh ternama dari PPKI.

Pasca upacara semenjana itu berakhir, para hadirin bergegas pulang, atau menuju alamat persembunyian. Suasananya tidak hanya lebih nyenyat daripada biasanya karena bulan Ramadan, tetapi juga ada ketakutan bisa ditahan oleh tentara Jepang.

 

============  
Baca artikel terkait PERSPEKTIF atau kumpulan tulisan dari MUHAMMAD IQBAL


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo