Sutan Sjahrir yang secara baik mengikuti berita internasional yakin, bahwa momentum Jepang akan menyerah kalah perang (kapitulasi) tidak akan berlangsung lama lagi. Pada malam yang sama Sjahrir mengunjungi Mohammad Hatta untuk meyakinkannya agar tidak menyia-nyiakan waktu yang ada.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia harus segera mungkin dilaksanakan, tanpa menunggu hasil sidang perdana Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau izin Jepang. Hanya melalui cara itu tuduhan Sekutu bahwa Republik adalah negara boneka Jepang dapat ditangkis.
Sjahrir menyampaikan kepada Hatta bahwa melalui radio aparat pemerintah Belanda yang terusir ke Australia menyatakan akan menindak keras tokoh-tokoh Indonesia yang berkolaborasi dengan Jepang. Reaksi Hatta singkat dan tegas. Dia dan Sukarno sudah menjalin kerja sama dengan Jepang, dan kiwari yang penting adalah tidak membuat konflik dengan Jepang.
Pada malam itu Hatta dan Sjahrir pergi ke Sukarno. Sukarno berpendapat tidak mungkin mencetuskan proklamasi di luar PPKI. Dan dia lebih dahulu bermusyawarah dengan otoritas Jepang. Lalu Sjahrir meninggalkan tempat, memobilisasi para pemuda, dan mulai menulis teks proklamasi kemerdekaan.
Keesokan harinya Sukarno dan Hatta bersama Soebardjo mencoba mencari kepastian tentang kabar desas desus kapitulasi Jepang pada markas besar militer Jepang. Di markas besar militer itu tidak ada seorang pun dapat menjelaskan apa yang terjadi. Semua orang menunggu pidato pengumuman Kaisar.
Soebardjo mengusulkan pergi ke kantor perwakilan angkatan laut untuk mendapatkan lebih banyak informasi. Setiba di sana Laksamana Maeda menuturkan dengan banyak kata dan tidak langsung pada intinya, bahwa pemerintah Jepang telah memberi instruksi genjatan senjata. Akan tetapi, pernyataan resmi belum dia terima. Dia berjanji akan segera memutuskan instruksi-instruksi dari Tokyo.
Di siang hari itu masuklah berita perihal pidato radio Kaisar Jepang yang mengumumkan kapitulasi Jepang. Berita itu menjadi kejutan besar, tidak hanya terlibat dengan persiapan kemerdekaan. Sukarno dan Hatta dengan terkesima menyadari bahwa kiwari rencana mereka untuk mengalihkan kekuasaan secara terkendali di bawah pengawasan Jepang tak dapat dilaksanakan.
Sidang pertama PPKI yang ditentukan tanggal 18 Agustus tampaknya tidak relevan lagi, juga karena pihak Sekutu menginstruksikan tentang Jepang untuk mempertahankan Indonesia dalam status quo. Hilanglah kesempatan untuk membangun struktur pemerintahan sendiri di bawah pengawasan Jepang sambil menunggu akhir perang, dan dengan begitu pihak Sekutu dihadapkan pada keadaan nyata yang harus mereka terima.
Hatta mengusulkan meneruskan PPKI, yang diminta oleh Soebardjo untuk berkumpul titimangsa 16 Agustus 1945, dan Hatta menyusun teks proklamasi kemerdekaan.
Kiwari golongan pemuda juga sudah mendengar ihwal kapitulasi Jepang. Sementara itu, beredar teks proklamasi kemerdekaan yang disusun oleh Sjahrir, yang kemudian di hari itu mencapai Cirebon, dan di sana teks itu dibacakan. Kiwari, arsip teks ini telah raib.
Tanggal 15 Agustus sore hari para wakil pelbagai golongan berkumpul untuk mempersiapkan kemerdekaan yang swatantra dari campur tangan Jepang. Bahwa PPKI masih berperan dalam persiapan kemerdekaan itu, tidak mereka terima. Jika pemimpin-pemimpin golongan yang lebih tua, yakni Sukarno dan Hatta, tetap ragu-ragu dan menolak bekerja sama mengumumkan segera kemerdekaan, maka goloongan pemuda itu akan memproklamasikan sendiri kemerdekaan itu.
Delegasi golongan pemuda sejumlah lima belas orang berangkat ke rumah Hatta. Mereka menuntut agar proklamasi kemerdekaan segera dilaksanakan, disiarkan melalui radio, diikuti oleh pengambilalihan kekuasaan. Hatta menjawab bahwa dia mendukung revolusi, tapi menentang kudeta. Dalam kelindan itu, Hatta mengacu ke kudeta yang gagal dilakukan oleh Hitler di Munchen, Jerman tahun 1923.
Dibarengi dengan Wikana, Chaerul Saleh, Soekarni, dan Adam Malik, tokoh-tokoh golongan pemuda itu pergi menuju kediaman Sukarno. Hatta dan Soebardjo buru-buru juga ke sana setelah diberitahu oleh Wikana, yang sama-sama staf angkatan laut dengan Soebardjo. Sebagai penasihat pribadi Laksamana Maeda, Soebardjo memiliki peran penghubung yang penting dalam menjembatani Jepang dan pemimpin-pemimpin nasionalis. Posisinya di angkatan laut melindunginya dari tindakan tentara Jepang dan kempetai.
Pada waktu bertemu dengan Sukarno, Wikana berindak sebagai juru bicara. Dengan berapi-api Wikana mengulang tuntutan-tuntutan dari para pemuda, tetapi Sukarno dan Hatta menolak menerima itu. Mereka tidak menginginkan adanya risiko dan bersiteguh mengikuti skenario Jepang: prosedur proklamasi harus dijalankan melalui PPKI.
Menurut Wikana, penolakan Sukarno akan mengakibatkan pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran. Terjadi perdebatan nan sengit karena Wikana dan tokoh-tokoh pemuda itu merasa tak dianggap serius. Mereka menyatakan bahwa revolusi berada di tangan mereka dan menginstruksikan Sukarno masih pada malam itu juga memproklamasikan Republik dan kalau tidak ... Dalam kata-katanya sendiri Sukarno menuliskan ini dalam laporan:
‘Lalu mau apa?’, teriak saya dan saya loncat dari kursi diliputi amarah. ‘Jangan berani mengancamku. Jangan berani memerintahku. Kalian lakukan apa yang aku mau. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian memaksaku!’ Saya berdiri di antara pemuda-pemuda bersenjata itu, merundukkan kepala, meregangkan leher saya, dan memberi isyarat seperti orang memenggal leher saya. ‘Ini’, teriak saya. ‘Ini leherku. Boleh potong ... hayo boleh penggal kepalaku ... kalian bisa membunuhku ... tapi aku tidak pernah mau mengambil risiko untuk melakukan pertumpahan darah yang sia-sia, hanya karena kalian hendak melakukan sesuatu menurut kemauan kalian.’ (Adams 1965: 238).
Satu-satunya jalan keluar bagi para tokoh golongan pemuda itu adalah meninggalkan tempat. Tatkala di larut malam itu Wikana menyampaikan laporannya kepada Sjahrir dan para pemuda yang berkumpul, mereka sangat merampang terhadap penolakan Sukarno dan Hatta. Para pemuda itu merasa sangat terhina dan memutuskan untuk melakukan aksi. Sjahrir tidak setuju, tapi juga tidak menentangnya.
Ketika pada Kamis pagi titimangsa 16 Agustus 1945 para anggota PPKI berkumpul untuk rapat, ternyata Sukarno dan Hatta tidak hadir. Tidak seorang pun tahu di mana mereka. Di hari itu pagi-pagi buta Hatta dan Sukarno, bersama Fatmawati istrinya dan Guntur putra sulungnya, dijemput di rumah oleh Soekarni dengan dalih bahwa keamanan mereka dalam bahaya.
Kabarnya hampir pecah pemberontakan oleh tentara Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho melawan pimpinan tentara Jepang, dan dikabarkan juga bahwa tentara-tentara Jepang akan membunuh para pemimpin nasionalis. Rombongan itu dibawa dengan mobil ke Rengasdengklok, delapan puluh kilometer di sebelah timur Jakarta, tempat komandan PETA menangkap beberapa tentara Jepang dan mengibarkan bendera Indonesia. Komandan PETA juga menyerukan sebuah proklamasi pendek. Chaerul Saleh dan Wikana ditugaskan mengatur para pemuda untuk siap siaga di Jakarta.
Sukarno dan Hatta dipaksa menunggu apa yang akan terjadi.
Dalam percakapan dengan pemuda-pemuda yang menculik mereka, tampak jelas bahwa Sukarno dan Hatta tidak berubah pikiran tentang proklamasi. Mereka bertanya dengan nada sarkastis apakah sudah ada hasilnya revolusi pemuda di Jakarta.
Sementara itu, para pemuda di Jakarta menunggu sia-sia kabar perihal aksi bersenjata melawan Jepang. Ternyata di Jakarta dan sekelilingnya sama sekali tidak ada koordinasi, sehingga hanya pasukan-pasukan kecil tentara PETA dan Heiho saja yang dapat dimobilisasi.
Sementara itu, Soebardjo dengan Nishijima, asisten Laksamana Maeda, melakukan pencarian terhadap kedua pemimpin nasional itu. Juga pemimpin tentara Jepang mencari mereka. Namun, Nishijima mencari Wikana, yang akhirnya menjanjikan akan membawa kembali Sukarno dan Hatta ke Jakarta, setelah Nishijima atas nama Maeda menyetujui akan membantu pelaksanaan proklamasi.
Selanjutnya, di tempat Soebardjo mereka bertemu dengan seorang utusan Sukarno dari Rengasdengklok, yang menginginkan penegasan tentang kapitulasi Jepang dan memberitahu susunan Sukarno dan Hatta yang tidak berubah.
Bersama dengan utusan ini Soebardjo berangkat menuju Rengasdengklok di bawah kawalan Jepang. Setiba di sana Soekarni diyakinkan oleh jaminan Maeda bahwa Kempetai tidak akan melancarkan aksi dan bahwa rumah dinas Maeda terbuka untuk musyawarah selanjutnya.
Tanggal 16 Agustus menjelang petang seluruh rombongan kembali ke Jakarta. Sekira pukul delapan mereka tiba di residensi Maeda nan bahari.
============
Baca artikel terkait PERSPEKTIF atau tulisan lainnya dari Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.
Editor: Muhammad Zunus


