Orang-orang kadang memberi omelan untuk harga buku-buku garapan Pramoedya Ananta Toer. Buku-buku sering berharga mahal. Buku-buku lawas makin mahal. Di pasar buku dan pergaulan sastra di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer diakui sebagai pengarang besar tapi dimengerti mahal. Keinginan orang-orang khatam buku-buku Pram sering dengan cara meminjam atau membeli edisi bajakan.
Kita tergoda dengan mahal. Hidup itu mahal. Pram tentu tak menghendaki buku-buku dijual mahal. Latar sejarah dan situasi politik mengakibatkan buku-buku itu mahal setelah dicap terlarang. Pram sadar mengalami hidup dikutuk mahal. Dulu, ia pernah menderita dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pokok. Urusan makan dan minum jarang bisa diwujudkan secara wajar. Pertarungan nasib diselenggarakan demi nafkah dan kepantasan hidup.
Pada 1957, Pram mengisahkan lakon hidup para pengarang di Indonesia: "Maka, apabila seorang pengarang hendak hidup dari tulisan-tulisannja wadjiblah ia menulis tjerpen buat madjalah-madjalah paling sedikit 10 buah banjaknja, jakni bila pengarang jang bersangkutan telah mempunjai keluarga ketjil…. dapat menulis 10 tjerpen tiap bulan, maka honoraria jang didapatkannja hanjalah tjukup untuk makan belaka, sedang kenjataan membuktikan bahwa untuk memelihara tenaga menulis ini bukan hanja makan-minum sadja dibutuhkan, tetapi djuga perdjalanan-perdjalanan tamasja, studi jang membutuhkan banjak buku (sedang buku begitu mahal harganja) dan peralatan teknis seperti kertas, karbon, mesintulis jang tidak sedikit memakan biaja.”
Kita mengerti kehidupan pengarang dan keluarga sering dilanda kemiskinan. Mereka lapar terasa wajar. Kesanggupan mencukupi kebutuhan pokok (pangan) memerlukan pertaruhan besar. Pengalaman itu mengakibatkan para pengarang peka dalam mengolah protes sosial ditulis menjadi cerita pendek, novel, dan puisi mengisahkan kemelaratan atau kelaparan. Pada masa 1950-an dan 1960-an, keberpihakan pengarang atas nasib kaum lapar atau kaum miskin kadang bersinggungan ideologi. Lapar mudah ditafsirkan pemicu melawan penguasa atau tata kehidupan kapitalistik.
Lapar dalam cerita digubah Fudoli Zaini (1985) menguak nasib sial. Ia menulis cerita berjudul Kondektur. Pekerjaan berupah rendah. Kondektur tak mampu mencukupi pangan keluarga. Hari-hari sering buruk dan penuh siksaan. Di rumah, ia rutin bertengkar dengan istri. Semua gara-gara pangan.
Kalimat diucapkan istri mengesahkan nasib kejam: “Beras sudah habis.” Kalimat itu biasa disusul kalimat-kalimat panjang jika kondektur mencoba sabar dan bernasihat. Istri bilang: “Lantas apa lagi? Kita tidak makan! Beras tidak ada. Uang juga tidak ada. Semua sekarang sudah mahal sedang penghasilan tetap saja. Apa kita mau makan batu?” Kondektur mengerti omelan mengandung perintah agar ia mendapat uang dalam jumlah besar untuk membeli beras. Gagal! Istri dan anak meninggalkan rumah kontrakan kembali ke orangtua. Kondektur menanggung kalah dan malu.
Uang terkumpul pun tak cukup untuk sewa rumah kontrakan. Kondektur sendiri dan merana. Sisa uang digunakan membeli jajanan penghalau lapar. Ia terus bekerja membawa tumpukan derita. Kondisi lapar berakibat wajah lesu dan pusing. Pada saat bekerja, ia berharap bakal mendapat uang meski kelaparan. Raga lapar dan pikiran semrawut. Kondektur terjatuh ke jalan saat bekerja. Si lapar terkapar dan berdarah.
Fudoli Zaini mengisahkan kelaparan mengakibatkan malu, kalah, sakit, dan sekarat. Ia tampak gamblang menghadirkan tokoh dengan pekerjaan rendahan dan situasi kota. Kesenjangan nasib dimunculkan saat kota tampak milik kaum berduit. Kaum miskin justru jadi penonton dan menanggung derita. Cerita berpesan kelaparan menghancurkan keluarga. Lapar itu petaka.
Pada 1919, Marco Kartodikromo dalam novel berjudul Student Hidjo mengisahkan lapar bukan berkaitan kemelaratan. Ia menampilkan tokoh bernama Hidjo dari keluarga mapan sedang menempuh studi di Belanda. Di negara penjajah, ia “berpuasa” mengikuti petunjuk leluhur. Kondisi perut lapar dianggap laku prihatin. Cara hidup Jawa diterapkan di Eropa. Hidjo memang lapar berpijak capaian-capaian dalam studi dan hidup. Lapar jenis berbeda dari pengamatan Pram dan pengisahan Fudoli Zaini.
Lapar ditanggungkan pelbagai tokoh. Kita paling gampang mengartikan lapar dirasakan pengemis. Sosok memerlukan belas kasih agar bisa makan. Pengertian pengemis masa silam terlalu berbeda dengan masa sekarang. Konon, pengemis-pengemis abad XXI memiliki siasat dan “teknologi” dalam mendapat uang. Kita mengajukan pengemis dalam pengertian silam, merujuk puisi berjudul Pengemis gubahan A Hasjmy (1940).
Kita belajar tentang lapar. Pengemis tak mampu mencari nafkah dengan bekerja. Ia mendatangi orang-orang meminta belas kasih. Kita mengutip: Beri hamba sedekah, o toean,/ Beloem makan dari pagi,/ Tolonglah patik, wahai toean./ Setegoek air, sesoeap nasi. Ia merasakan lapar. Pengemis ingin makan. Jawaban lapar memerlukan sedekah. Lapar ditanggungkan pengemis menjadi tanggung jawab kemanusiaan. Pengemis kelaparan sempat berkata: O toean, djangan kami ditjibirkan,/ Djika sedekah tidak diberi,/ Tjoekoep soedah sengsara badan,/ Djangan lagi ditoesoek hati. Di ajaran agama, orang-orang dianjurkan bersedekah ketimbang mengumbar omelan. Sedekah itu menjawab lapar.
Masalah lapar juga mengandung pengertian berbeda bila bertokoh bocah. Kesukaan bermain berakibat bocah merasa tak lapar. Ia kadang malah “terpaksa” makan mengikuti jadwal dan “perintah” ibu. Bocah tak sadar atau gagal paham lapar berhadapan keputusan ibu. Perbedaan kemauan mencipta peristiwa rutin tapi heboh. Kita mengetahui setelah membaca puisi berjudul Ibu Mendulang Anak Berlari gubahan Cyntha Hariadi (2016).
Di hadapan puisi, kita seperti kembali menjadi bocah merepotkan ibu: Waktu kecil aku didulang, entah sampai usia berapa/siapa yang mendulang, hanya pendulang yang ingat/ karena yang didulang selalu merasa tidak lapar/ dan makanan yang didulang biasanya tawar. Bocah mengaku tak lapar tapi ibu menginginkan bocah lekas makan agar sehat dan kuat. Makan membuat bocah bertumbuh besar. Lapar bukan perdebatan. Kesadaran lapar itu milik ibu sebagai sosok bertanggung jawab meski repot dan lelah.
Kita membaca teks-teks sastra cap lapar saat sadar raga selama Ramadhan. Kita melampaui agenda belajar lapar. Kita berpuasa berbeda dari tokoh buatan Marco Kartodikromo. Kita merasakan lapar berbeda dari cerpen gubahan Fudoli Zaini. Lapar ditanggungkan pun tak setara lapar pengemis seperti puisi gubahan A Hasjmy. Lapar saat berpuasa mungkin terabaikan jika kita berlagak sebagai bocah meski tak semerepotkan dalam puisi gubahan Cyntha Hariadi.
Kita pun mengerti lapar tak sekadar cerita dan puisi. Lapar selama Ramadhan itu kewajiban berpijak iman dan hasrat menjadi hamba berkemanusiaan melalui amalan-amalan kepada sesama. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah
Editor: Kendi Setiawan


