Baru-baru ini, kita dihebohkan kejadian Miftah Maulana Habiburrohman, seorang pendakwah kondang, dan Sonhaji, penjual es teh di pengajian. Dalam sebuah momen spontan, Miftah melontarkan kata "goblok" kepada Sonhaji, yang meskipun mungkin disampaikan tanpa niat buruk tetapi tetap memicu perdebatan besar di media sosial. Video itu viral. Sonhaji mendapat banyak dukungan, mulai dari bantuan materi hingga hadiah umroh. Fenomena ini menyimpan banyak pelajaran berharga, terutama bila kita melihatnya dari tasawuf.
Dalam tasawuf, manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan. Bahkan para wali dan ulama tidak luput dari kesalahan. Ibn ‘Arabi, seorang tokoh sufi, mengatakan, "Kesempurnaan manusia terletak pada kemampuannya menerima kekurangannya sendiri."
Ucapan ini mengingatkan kita untuk tidak serta-merta menghakimi, melainkan mencari hikmah dari setiap kejadian, termasuk yang terlihat sebagai kesalahan. Apa yang dilakukan Miftah secara etika publik salah, tetapi ia juga manusia. Dalam tradisi tasawuf, kesalahan adalah cerminan sifat manusiawi yang sejatinya memanggil kita kepada introspeksi, bukan penghakiman. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap anak Adam adalah pendosa, dan sebaik-baik pendosa adalah mereka yang bertaubat” (HR. Tirmidzi).
Sonhaji, sebagai pihak yang disinggung, menunjukkan sikap yang luar biasa. Alih-alih membalas atau menunjukkan rasa sakit hati, ia tetap rendah hati dan melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Dalam tasawuf, sikap sabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian dianggap sebagai jalan menuju kedekatan dengan Allah.
Ujian yang diterima dengan hati lapang akan melahirkan keberkahan tak terduga. Apa yang terjadi setelah kejadian tersebut menunjukkan kebenaran prinsip ini. Dukungan moril dan materiil yang mengalir kepada Sonhaji menjadi bukti nyata bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya direndahkan. Alquran mengingatkan, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6). Kejadian ini menjadi ilustrasi indah tentang bagaimana Allah mengangkat derajat hamba-Nya melalui cara yang tidak terduga.
Lisan memiliki posisi yang sangat penting. Kata-kata bukan sekadar ucapan, tetapi cerminan hati. "Lisan adalah cermin hati. Jika hati penuh cahaya, maka ucapan yang keluar adalah kebaikan. Jika hati gelap, maka lisan menjadi sumber kerusakan." Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin menulis. Ucapan Gus Miftah, meskipun mungkin tidak dimaksudkan melukai atau menghina, menjadi pelajaran pentingnya menjaga lisan. Nabi bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa setiap kata memiliki konsekuensi, baik bagi yang mengucapkan maupun yang mendengar.
Namun, yang juga menarik dari kejadian ini adalah respons masyarakat. Dukungan yang diberikan kepada Sonhaji menunjukkan bahwa solidaritas dan kasih sayang masih hidup di tengah masyarakat kita. Ini mencerminkan salah satu nilai penting dalam tasawuf: ihsan, atau berbuat baik kepada sesama. Namun, penting juga diingat bahwa bantuan materi yang melimpah bukanlah satu-satunya bentuk dukungan.
Tasawuf mengajarkan kita selalu melihat ke dalam: apakah dukungan kita murni karena Allah, ataukah sekadar ikut arus? Maulana Jalaluddin Rumi berkata, "Tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta sejati lebih besar daripada perbuatan besar yang dilakukan tanpa ketulusan." Ini menjadi refleksi bagi kita untuk memastikan niat di balik setiap tindakan.
Tasawuf mengajarkan setiap kejadian adalah cermin melihat diri. Ketika kita tergesa menghakimi Miftah atau memuji Sonhaji, sejatinya kita sedang menilai diri kita sendiri. Apakah kita sudah menjaga lisan kita? Apakah kita sudah cukup sabar dan ikhlas seperti Sonhaji? Kejadian ini, bila direnungkan dengan hati terbuka, menjadi pelajaran perbaikan diri. Sebagaimana diajarkan tasawuf, fokus utama bukanlah kesalahan orang lain, tetapi pengembangan diri. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, "Berhentilah melihat aib orang lain, dan sibukkan dirimu dengan memperbaiki aibmu sendiri."
Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan segala sesuatu yang terjadi, baik atau buruk, sejatinya takdir Allah. Takdir tidak untuk disesali, melainkan diterima dengan hikmah. Kejadian ini menunjukkan bagaimana Allah mengubah sebuah momen menjadi pelajaran besar bagi banyak orang. Bagaimana Sonhaji, seorang pedagang kecil, mendapatkan perhatian yang luar biasa. Nabi bersabda, “Sungguh, Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian” (HR. Muslim).
Sebagai masyarakat, tugas kita bukanlah menghakimi, melainkan mengambil pelajaran. Dalam Islam, mencela atau menghujat seseorang secara berlebihan bukanlah solusi, tetapi hanya menambah luka. Kritik yang membangun dengan tetap menjaga adab lebih membawa manfaat daripada ujaran yang menyakitkan.
Syaikh Ibn Atho’illah mengingatkan, “Barang siapa sibuk dengan aib orang lain, dia akan buta terhadap aib dirinya sendiri.” Kejadian ini menjadi pengingat kita untuk lebih bijak dalam berbicara, lebih lembut dalam menegur, dan lebih sabar dalam menilai.
Kisah Miftah dan Sonhaji adalah cerminan indah tentang kompleksitas kehidupan. Di satu sisi, kita belajar tentang pentingnya menjaga lisan dan memohon ampunan atas kesalahan.
Di sisi lain, kita diajarkan tentang kesabaran, ketulusan, dan solidaritas. Semua ini, bila dilihat dari perspektif tasawuf, membawa kita kepada pemahaman bahwa Allah selalu memiliki rencana indah di balik setiap kejadian.
Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki diri, menjaga hati, dan mempererat kasih sayang di antara sesama. Karena pada akhirnya, seperti yang diajarkan para sufi, "Semua yang terjadi adalah panggilan untuk kembali kepada-Nya."
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM.
Editor: Fajar WH


