Dark
Light
Dark
Light

Keris: dari Mitologis ke Teologis (Bagian 1 dari 3)

Keris: dari Mitologis ke Teologis (Bagian 1 dari 3)

Keris atau tosan aji lainnya, adalah satu di antara produk budaya yang usianya berada dalam hitungan abad. Ia tumbuh dan berkembang bersama pertumbuhan dan perkembangan masyarakatnya. Dalam ukuran tertentu, secara ontologis, keris merupakan perlambang dan simbol. 

Dari perspektif lain, keris secara ekonomis juga bisa bermakna produk kerajinan yang dijualbelikan. Dalam konteks ini, keris tidak bermakna tunggal. Tapi, inilah salah satu produk budaya yang keberadaannya kerap dipersepsi kurang berimbang. Bahkan, atas nama norma agama, keris harus dijauhi karena dikuatirkan mendegradasi iman.

Terjadinya shifting pemikiran dan kehidupan keagamaan masyarakat, hanyalah salah satu penyebab kenapa keris dituding sebagai sumber kemusyrikan. Setelah berabad-abad hidup dalam kegelapan, munculnya cahaya aufklarung, enlightening, pada dekade abad pencerahan, telah mengantarkan masyarakat ke dalam dunia ideas of progress. Akibatnya, kadar ketergantungan manusia kepada alam agak berkurang. Secara perlahan, masyarakat mulai menempatkan alam sebagai objek dari yang sebelumnya sebagai subjek. Ironisnya, dalam sudut pandang tertentu, keris dinilai sebagai indikasi ketergantungan manusia kepada alam. 

Demikian juga dengan dialektika pemahaman dan pemaknaan yang dialami keris dan ragam senjata lainnya yang merupakan ekspresi budaya. Ia sempat menjadi subjek tetapi dalam kurun tertentu justru menjelma objek. Sosok keris dengan segala komponennya, termasuk proses pembuatannya, serta nilai-nilai yang menyertai pembuatannya, telah melengkapi alasan keris pantas dituding sebagai biang keladi menjamurnya mitos, sakralitas dan dunia mistik. Kalau dulu diagungkan karena diyakini jadi sumber perbawa, dalam komunitas tertentu, keris direkayasa agar kehilangan kekuatan subjektifnya. 

Perspektif teologis

Keris, karena itu, dipulangkan kepada asal-muasalnya, semata salah satu produk besi-besian. Padahal besi-besian sebagai asal muasal keris memiliki landasan teologis yang tidak mungkin diragukan, karena dikonstansi dalam kitab suci Al-Qur’an. 

Dari kitab Al-Mu’jamul Mufahros Li Alfaadzil Qur’an karangan Muhammad Shidqi Al-’Aththor diketahui, Allah tidak kurang menyebut mufrodat “besi” sekurang-kurangnya enam kali dalam enam surah berbeda. Besi dalam bahasa Arab disebut dengan “al-hadidd”. Menariknya, besi menjadi salah satu nama surah di antara 104 nama surah dalam Al-Qur’an. Al-Hadiid adalah surah ke-38. Sementara kelima surah yang menyimpan istilah besi ini terdapat di : (1). QS Al-Kahfi ayat 96. (2). QS Al-Hajj ayat 21. (3). QS Sabaa’ ayat 10. (4). QS Qoof ayat 22 dan (5). QS Al-Isro’ ayat 50. 

Pada QS Al-Hadiid ayat 25, dengan gamblang Allah menyebut kekuatan dan manfaat besi. Ayat itu berbunyi: ”...Wa Anzalnaal Hadiida, Fiihi Ba’sun Syadiidun Wa Manaa-fi’u Linnaas--…dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia.” 

Tanpa perlu bersandarkan pada tafsir hermeneutika sekalipun, firman Allah SWT ini dengan terang-benderang menyebutkan kekuatan besi serta manfaatnya bagi manusia. Keris hanya salah satu dari "keturunan" dan manfaat besi, di samping begitu banyak manfaat besi lainnya. 

Dalam konteks turunnya ayat tersebut, besi dengan segala proses diversifikasinya, diubah manusia menjadi senjata yang paling mematikan bagi lawan dan menjelma tameng sebagai alat pelindung diri dari sergapan musuh di medan perang. 

Sheikh Muhammad Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, yang masyhur mengutip Tafsir Al-Muntakhab mengatakan bahwa ayat “besi” di surah Al-Hadiid dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa besi mempunyai kekuatan yang dapat membahayakan tetapi dapat pula menguntungkan manusia. 

Bukti paling kuat tentang hal ini adalah lempengan besi, dengan berbagai macamnya, secara bertingkat-tingkat memiliki keistimewaan bertahan menghadapi panas, tarikan, kekaratan, dan kerusakan, di samping juga lentur sehingga dapat menampung daya magnet. Karena itu, masih kata Quraish Shihab, besi adalah logam paling cocok untuk bahan senjata dan peralatan perang, bahkan merupakan bahan baku berbagai macam industri berat dan ringan yang dapat menunjang kemajuan peradaban. Selain itu, besi juga mempunyai banyak kegunaan untuk makhluk hidup. 

Komponen besi, misalnya, masuk dalam proses pembentukan klorofil yang merupakan zat penghijau tumbuh-tumbuhan (terutama daun) yang terpenting dalam fotosintesis (proses pemanfaatan energi cahaya matahari) yang membuat tumbuh-tumbuhan dapat bernafas dan menghasilkan protoplasma (zat hidup dalam sel). Dari situlah zat besi lalu masuk ke dalam tubuh manusia dan hewan.  

Nabi Daud AS: Sang Empu 

Pada sisi lain, karena besi muncul sebagai salah satu di antara begitu tak terhingga firman-Nya, maka pengucapannya oleh manusia ibarat mengulang-ulang firman-Nya yang agung. Sebagai firman, ia tak berbeda dengan kata-kata Tuhan lainnya dalam Al-Qur’an. Allah memerintahkan gunung-gunung dan burung-burung untuk melantunkan tasbih yang biasa dilafalkan oleh Nabi Daud As. 

Dalam banyak tafsir, Al-Qur’an menjelaskan bahwa Nabi Daud tak membutuhkan api dan martil untuk melunakkan besi. Banyak ulama menyebut, Nabi Daud adalah manusia pertama yang diilhami Allah untuk dapat melunakkan dan melelehkan besi. 

Begitu agungnya nilai besi, Allah berketetapan menjadikannya sebagai salah satu mukjizat untuk Nabi Daud As. “Dan sesunggunya Kami telah anugerahi Daud  --dari Kami--  anugerah (yang besar). Hai gunung-gunung dan burung-burung, ulang-ulangilah bersama dia (tasbihnya), dan Kami (juga) telah melunakkan besi untuknya. Buatkah baju besi yang besar-besar…” (QS Sabaa’ : 10). 

Ahli tafsir Al-Biqaa’ie memperoleh kesan bahwa alasan penyebutan gunung karena inilah salah satu makhluk paling kokoh sehingga Allah menjadikannya sebagai tiang-tiang penyangga bumi. Gunung, dengan begitu, sama-sama memiliki kekuatan sebagaimana besi. 

Tetapi, kedua makhluk terkuat ini tetap saja “takluk” dalam kreasi manusia. Dari tangannya, atas kehendak Allah SWT, besi bisa menjadi lunak dan Nabi Daud membuat berbagai macam produk kerajinan, termasuk menjadikannya senjata. Nabi Daud memproduksinya secara massal, lalu meminta pembantunya menjual senjata-senjata itu ke pasar.

Kalau beliau hidup di era peradaban manusia modern, tentu orang akan menyebut Nabi Daud sebagai empunya empu. Ratusan atau bahkan mungkin ribuan senjata berkomponen besi telah lahir dari tangan Nabi Daud As. 

Anehnya, entah kebetulan atau tidak, dari sinilah sisilah nabi yang raja, karena di antara bagitu banyak nabi, hanya sedikit yang Allah berikan kepadanya kerajaan untuk menunjang tegaknya ayat-ayat Allah di atas dunia. Nabi Sulaiman AS adalah yang paling masyhur. Siapakah beliau? Tak lain adalah putra Nabi Daud. 

Di tangan Nabi Sulainman, angin, binatang serta makhluk non-materi lainnya bisa ditundukkan. Nabi Sulaiman penakluk kelas dunia. Namanya terkenang di dalam banyak kitab suci di samping nama Dzulqarnain. Nama terakhir dikaitkan pula dengan besi-besian, sebagaimana tertera dalam surah Al-Kahfi. 

 


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ishaq Zubaedi Raqib
Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi (LTN) PBNU


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Perspektif Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo