Dark
Light
Dark
Light

Perpindahan Kiblat Sholat dan Kemandirian Syariat Islam

Perpindahan Kiblat Sholat dan Kemandirian Syariat Islam

Arina.id - Bulan Sya‘ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan penting dalam kalender Islam. Selain dikenal sebagai waktu diangkatnya amal-amal manusia, bulan ini juga menjadi saksi terjadinya beberapa peristiwa besar dalam sejarah kenabian. 

Di antara peristiwa paling monumental yang terjadi pada bulan ini adalah peralihan arah kiblat umat Islam, dari menghadap Baitul Maqdis di Palestina menuju Ka‘bah (Baitullah) di Makkah. 

Mayoritas ulama tarikh menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan bulan Sya‘ban (Nisfu Sya‘ban) tahun ke-2 Hijriyah. Hal ini ditegaskan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya:

وكان تحويل القبلة في شعبان من السنة الثانية من الهجرة

Artinya: "Perpindahan kiblat terjadi pada bulan Sya‘ban tahun kedua Hijriyah.” (Tafsir Ibn Katsir, QS. al-Baqarah: 144)

Ketika Rasulullah pertama kali hijrah ke Madinah, beliau melaksanakan sholat dengan menghadap Baitul Maqdis selama kurang lebih 16 atau 17 bulan. Setelah masa tersebut, Allah menurunkan wahyu yang memerintahkan agar arah kiblat dipindahkan ke Baitul Haram di Makkah.

Fakta sejarah ini juga dicatat dalam kitab Fathul Bari syarh Sahih Bukhari. Hadits tersebut bersumber dari riwayat Barra' bin Azib:

عن البراء بن عازب رضي الله عنهما قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى نحو بيت المقدس ستة عشر أو سبعة عشر شهرا وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحب أن يوجه إلى الكعبة فأنزل الله قد نرى تقلب وجهك في السماء فتوجه نحو الكعبة 

Artinya: “Dari Al-Bara’ ibn Azib, ia berkata: Rasulullah sholat menghadap baitul maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Padahal Rasulullah sangat suka menghadap Ka'bah. Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah melihat wajahmu menghadap ke langit.” Kemudian Rasulullah diperintah menghadap ke arah Ka'bah dan diikuti oleh para sahabat."

وقال السفهاء من الناس وهم اليهود ما ولاهم عن قبلتهم التي كانوا عليها قل لله المشرق والمغرب يهدي من يشاء إلى صراط مستقيم 

"Orang-orang bodoh dari kaum Yahudi, berkata: “Apa yang membuat mereka (umat Islam) berpaling dari kiblat biasanya?” Maka katakanlah (Muhammad): “timur dan barat adalah milik Allah. Dia membimbing siapapun yang  dikehendaki ke jalan yang lurus.”

فصلى مع النبي صلى الله عليه وسلم رجل ثم خرج بعد ما صلى فمر على قوم من الأنصار في صلاة العصر نحو بيت المقدس فقال هو يشهد أنه صلى مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنه توجه نحو الكعبة فتحرف القوم حتى توجهوا نحو الكعبة

"Lalu seorang laki-laki sholat bersama Nabi hingga selesai, kemudian ia keluar dan melewati sebagian kaum Anshar yang sedang sholat Ashar menghadap baitul maqdis. Laki-laki itu berkata: “Aku bersaksi bahwa aku sholat bersama Rasulullah dan beliau menghadap Ka'bah.” Maka orang-orang (sebagian kaum Anshar) pun berbalik hingga menghadap Ka'bah." (Fathul Bari, juz 1, 598)

Perpindahan Kiblat: Kemandirian Syariat Islam

Perlu diketahui pada masa itu, kondisi Makkah masih berada dalam fase kegelapan akidah. Mayoritas penduduknya menganut paganisme, dan Ka‘bah yang sejatinya dibangun oleh Nabi Ibrahim sebagai pusat tauhid telah dipenuhi oleh berbagai berhala. 

Di antara berhala terbesar yang ditempatkan di dalam Ka‘bah adalah Hubal. Ibn Hisham dalam sirahnya menuturkan:

وكان في جوف الكعبة وحولها ثلاثمائة وستون صنما 

Artinya: "Di dalam kabah dan di sekitarnya terdapat 360 berhala."

Sebaliknya, Kota Yatsrib (Madinah) dihuni oleh masyarakat yang telah mengenal agama samawi, seperti kaum Yahudi dari Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa‘, serta komunitas Nasrani dari wilayah sekitar.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa sebagian kaum Yahudi berupaya mempengaruhi Rasulullah agar tetap menjadikan Baitul Maqdis sebagai satu-satunya kiblat, dengan dalih bahwa tempat tersebut adalah tanah suci para nabi terdahulu.

Dalam Tafsir Qurthubi dijelaskan:

وكان اليهود يفرحون باستقبال النبي ﷺ بيت المقدس، ويقولون: تابع قبلتنا

Artinya: "Kaum Yahudi bergembira ketika Nabi Muhammad berkiblat ke arah baitul maqdis. Mereka berkata: Muhammad mengikuti kiblat kita."

Namun demikian, Rasulullah tidak terpengaruh oleh bujuk rayu tersebut. Sebab dalam hati beliau tumbuh kerinduan yang mendalam untuk kembali menghadap Ka‘bah, kiblat Nabi Ibrahim. Beliau pun kerap menengadah ke langit, menantikan petunjuk Allah SWT terkait arah kiblat yang diridhai-Nya.

Peristiwa batin Nabi ini diabadikan Allah dalam QS. Al-Baqarah: 142:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا ۚ قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Ayat ini turun sebagai jawaban terhadap ejekan dan keberatan kaum Yahudi, sekaligus menegaskan bahwa Allah adalah pemilik seluruh arah, dan hanya Dia yang berhak menentukan syariat dan petunjuk bagi hamba-Nya.

Imam Thabari menafsirkan:

فيه بيان أن الله يفعل ما يشاء، لا اعتراض لأحد عليه

Artinya: "Ayat ini sebagai pernyataan bahwa Allah berhak melakukan apa yang Dia kehendaki, dan tidak seorang pun dapat menentang-Nya."

Selanjutnya, Allah mengobati kerinduan Rasulullah dengan turunnya wahyu yang secara tegas memerintahkan perpindahan kiblat dalam QS. Al-Baqarah: 144:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: "Sesungguhnya Kami telah melihat wajahmu menghadap ke langit, maka Kami pasti akan mengarahkanmu ke arah kiblat yang akan kamu senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram."

Ini menunjukkan kasih sayang Allah terhadap Rasul-Nya, serta menjadi penanda resmi bahwa Ka‘bah ditetapkan sebagai kiblat umat Islam hingga akhir zaman.

Ibn Katsir menegaskan:

وفي هذه الآية دليل على شدة محبة النبي ﷺ للكعبة

Artinya: "Ayat ini menunjukkan betapa cintanya Rasulullah kepada Ka'bah."

Dengan demikian, perpindahan kiblat di bulan Sya‘ban bukan sekadar perubahan arah fisik dalam ibadah, melainkan sebagai:

  1. Simbol kemandirian syariat Islam
  2. Pemisahan identitas umat Islam dari Yahudi dan Nasrani
  3. Penguatan hubungan spiritual dengan warisan tauhid Nabi Ibrahim
  4. Ujian ketaatan total kepada perintah Allah
  5. Kecintaan Rasulullah kepada ka'bah.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo