Dark
Light
Dark
Light

Teladan Kemanusiaan Lintas Iman: Warisan Paus Fransiskus dalam Sudut Pandang Islam

Teladan Kemanusiaan Lintas Iman: Warisan Paus Fransiskus dalam Sudut Pandang Islam

Arina.id - Tanggal 21 April, umat Katolik kehilangan sosok pemimpin tertingginya. Paus Fransiskus, beliau wafat di Vatikan dalam usia 88 tahun. Kepergian beliau tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi umatnya, tetapi juga meninggalkan jejak yang patut diteladani dalam sejarah dialog antaragama dan kemanusiaan global.

Salah satu upaya nyata beliau menjunjung isu humanitarian adalah keikutsertaannya dalam penandatanganan dokumen bersejarah di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Bersama Grand Syaikh Al-Azhar, Syaikh Ahmad Tayyeb, Paus Fransiskus menandatangani sebuah dokumen perjanjian yang diberi judul “The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together” (Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama)

Dokumen ini menjadi sejarah simbol penting bahwa dua tokoh besar dari agama yang berbeda dapat berdiri bersama untuk memperjuangkan nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan kasih sayang antarumat manusia.

Teladan kemanusiaan yang tercermin dalam sosok Paus Fransiskus sejatinya selaras dengan ajaran Islam. Meskipun agama kita berbeda, setiap agama pada dasarnya mengajarkan perdamaian dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Jika Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Islam pun mengajarkan hal yang selaras. Rasulullah SAW, sebagai tonggak teladan umat Islam, telah memberikan contoh sikap tersebut. Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah berdiri memberi penghormatan ketika ada iringan jenazah seorang Yahudi.

Sahabat pun protes dan bertanya mengapa Nabi melakukan itu. Nabi kemudian menjawab, “Bukankah ia juga manusia seperti kita?”

مَرَّتْ بِالنَّبِيِّ ﷺ جَنَازَةٌ، فَقَامَ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ. فَقَالَ: أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟

Artinya: “Suatu ketika ada iringan jenazah melewati Nabi SAW, lantas beliau pun tiba tiba berdiri. Para sahabat di samping beliau pun bertanya: “Bukankah itu iringan jenazah Yahudi.” Maka beliau pun menjawab dengan bersabda, “Bukankah dia juga sama seperti kita, sama sama manusia (seorang jiwa)?”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Lebih jauh dalam Al-Qur’an, sebagai sumber utama pedoman Islam, Allah secara tegas memberi penghormatan dan memuliakan manusia. Ini mengartikan bahwa Allah secara tidak langsung memerintahkan hamba-Nya untuk menghargai dan saling menghormati antar sesama manusia tanpa memandang perbedaan suku, ras atau agama. 

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan,” (QS. Al Isra’ ayat 70)

Tak berhenti di situ, selain Islam menjunjung tinggi kemanusian ia memerintahkan pengikutnya untuk juga menjalin kasih sayang saling mengasihi sesama makhluk tuhan tak terbatas pada manusia saja.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : "الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَٰنُ، اَرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Artinya: ”Dari Abdullah bin Umar Ra, beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda, "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang ada di langit,” (Mawa’idz Ushfuriyyah, halaman 5)

Dari hadits ini, terdapat sebuah kisah menarik tentang Khalifah Umar bin Khattab yang disebut masuk surga karena tindakannya mengasihi seekor burung pipit. Dikisahkan, beliau melihat seekor burung yang sedang dimainkan oleh seorang anak kecil, lalu ia membebaskannya. 

Perlu diingat, perbuatan Khalifah Umar ini ditujukan bukan kepada manusia, melainkan kepada seekor hewan. Jika kasih sayang kepada makhluk kecil seperti itu saja mendapat balasan dari Allah, apalagi jika kita menunjukkan kasih sayang dan kepedulian kepada sesama manusia, tentu ganjarannya jauh lebih besar.

Kisah ini menggambarkan betapa Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan. Dalam konteks ini, keteladanan yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus sejatinya selaras dengan semangat ajaran Islam.

Oleh karena itu, meskipun agama-agama di dunia memiliki perbedaan dalam ajaran dan praktiknya, kita tetap bisa bertemu di satu titik yang sama yakni nilai kemanusiaan dan kasih sayang. Inilah ruang bersama yang seharusnya dirawat dan diperkuat demi perdamaian dan kehidupan yang lebih harmonis. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo