Arina.id - Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang mulia dan teladan bagi umat Islam. Beberapa riwayat hadits mengungkapkan bagaimana beliau sangat romantis terhadap istri-istrinya, terutama kepada Sayyidah Aisyah, yang saat itu masih muda. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh para ulama seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, serta dalam sumber-sumber lainnya seperti Sunan An-Nasa’i, Sunan Abi Dawud, Daruqutni dan lain-lain.
1. Makan dan Minum dalam Wadah yang Sama
عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ ﷺ، فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ فَيَشْرَبُ، وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ ﷺ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ.
Artinya: "Dari Aisyah, beliau menceritakan bahwa Rasulullah pernah meminum dari gelas yang sama setelah beliau meminumnya dalam keadaan haid. Bahkan, saat Aisyah menggigit daging dari tulang, Rasulullah meletakkan mulutnya pada bekas gigitannya. Hadits ini menunjukkan bagaimana Rasulullah sangat menghargai dan tidak merasa jijik, bahkan dalam keadaan yang dianggap tabu sekalipun."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (No. 300), Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari (dalam konteks lain yang terkait).
Dalam riwayat lain, disebutkan pula bahwa Rasulullah menyuapi Aisyah dengan tangannya sendiri. Pelajaran yang dapat diambil dari riwayat ini menunjukkan betapa romantis dan tidak ada rasa jijik terhadap istrinya, bahkan dalam keadaan haid sekalipun.
2. Berlomba Lari dengan Aisyah
Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah mengajaknya adu lari:
قَالَتْ عَائِشَةُ: سَابَقَنِي رَسُولُ اللهِ ﷺ فَسَبَقْتُهُ، فَلَمَّا حَمِلْتُ اللَّحْمَ سَابَقَنِي فَسَبَقَنِي، فَقَالَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبْقَةِ
Artinya: "Aisyah berkata: “Rasulullah pernah mengajakku lomba lari dan aku menang. Kemudian beberapa waktu setelah itu, aku bertambah berat badanku, lalu beliau mengajakku lomba lari lagi dan beliau menang. Maka beliau pun berkata, ‘Kemenangan ini sebagai balasan atas kekalahan yang lalu.’” (HR. Abu Dawud no. 2578)
Dalam konteks kekinian, bisa dianalogikan dengan joging, berjalan berdua, berlari kecil. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tipikal suami yang mampu menyenangkan hati istrinya dan mampu menciptakan suasana riang dalam rumah tangga.
3. Memanggil Aisyah dengan Nama Panggilan Sayang
Rasulullah SAW suka memanggil Sayyidah Aisyah dengan panggilan kecil: يَا عَائِشَ » , يَا عُوَيْش » (HR Bukhari [nomor 3768] dan Muslim [nomor 4480]). “Ya Uwaisy” (HR Ibnus Sunni [nomor 454]).
Ibnul Atsir menyebutkan dalam An-Nihayah (1/1044):
كان يقول لها أحيانا يا حُمَيْراء تَصْغير الحَمْراء يريد البَيْضاء
Artinya: “Beliau (Rasulullah SAW) sering memanggilnya (Aisyah) ‘Ya Humaira’ yang merupakan bentuk tasghir (panggilan kecil) dari ‘Hamra’ (merah) sedangkan yang dimaksud adalah putih.”
4. Bersandar di Pangkuan Aisyah Saat Wahyu Turun
Momen ini terjadi ketika Rasulullah menerima wahyu, dalam keadaan berat dan luar biasa, beliau tetap bersandar di pangkuan Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَتَّكِئُ فِي حِجْرِي وَأَنَا حَائِضٌ، فَيَقْرَأُ الْقُرْآنَ
Artinya: "Aisyah berkata: “Rasulullah biasa menyandarkan kepalanya di pangkuanku, padahal aku sedang haid, lalu beliau membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari no. 297)
5. Mengunjungi dan Membelai Istri-istrinya
Diriwayatkan dari Urwah Bin Zubair RA, ia meriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA, ia berkata:
قلما كان يوم - أو قالت قل يوم - إلا كان رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يدخل على نسائه فيدنو من كل امرأة منهن فى مجلسه فيقبل ويمس من غير مسيس ولا مباشرة قالت ثم يبيت عند التى هو يومها
Artinya: “Hampir setiap hari Rasulullah SAW mengunjungi semua istrinya, lantas mendekatinya satu persatu di tempatnya (rumah). Kemudian Rasulullah SAW mencium dan membelainya tanpa bersetubuh atau berpelukan.” Aisyah berkata, “Lantas beliau menginap di (rumah) istri yang mendapat gilirannya.” (HR Daruquthni [nomor 3781]). Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (nomor 24809), Imam Al-Hakim (nomor 2710), Abu Dawud (nomor 1823) dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (nomor 19577).
6. Mendahulukan Istri
Mendahulukan istri dalam konteks relasi suami istri adalah istilah pelayanan optimal untuk seorang wanita, di mana suami membukakan pintu terlebih dahulu, mendahulukan dan mempersilakan terlebih dahulu ketimbang dirinya. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada istrinya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dalam sebuah hadits perjalanan pulang dari penaklukan Khaibar:
خَرَجْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قَالَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَوِّي لَهَا وَرَاءَهُ بِعَبَاءَةٍ ثُمَّ يَجْلِسُ عِنْدَ بَعِيرِهِ فَيَضَعُ رُكْبَتَهُ فَتَضَعُ صَفِيَّةُ رِجْلَهَا عَلَى رُكْبَتِهِ حَتَّى تَرْكَبَ
Artinya: “Kami keluar menuju Madinah.” Anas berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW menyiapkan tempat duduk sayyidah Shafiyah di belakangnya dengan kain, kemudian ia duduk di dekat untanya dan memosisikan lututnya, lantas sayyidah Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga naik (ke unta).” (HR Bukhari [nomor 2679]).
7. Mandi Bareng bersama Aisyah
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ فِي الْقَدَحِ وَهُوَ الْفَرَقُ وَكُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَهُوَ فِي الْإِنَاءِ الْوَاحِدِ وَفِي حَدِيثِ سُفْيَانَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ قَالَ قُتَيْبَةُ قَالَ سُفْيَانُ وَالْفَرَقُ ثَلَاثَةُ آصُعٍ
Artinya: "Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, Rasulullah dahulu mandi dalam baskom, yaitu satu faraq. Sedangkan aku pernah mandi bersama beliau dalam satu bejana.". Dan dalam hadits Sufyan, dari satu bejana. Qutaibah menuturkan: Sufyan berkata, satu faraq adalah tiga Sha'". (HR. Annasai, 1/127, HR. Muslim 1/255)
Melalui 7 momen ini, kita bisa melihat betapa mesra dan penuh perhatian Rasulullah kepada istri-istrinya, menjadikannya sebagai contoh suami terbaik. Perilaku beliau menunjukkan bahwa Islam mendorong kelembutan, cinta, dan kebahagiaan dalam rumah tangga, bukan hanya melalui kata-kata tetapi juga tindakan yang penuh kasih, penghargaan, dan pengertian.
Dari sini pula dapat diambil pelajaran bahwa mencurahkan kasih sayang dan kelembutan terhadap istri itu tidak harus berupa materi dan mahal, sebab kadangkala dalam hal-hal yang dianggap sederhana seperti berbagi gelas minum itu terdapat keberkahan dan perekat keharmonisan dalam rumah tangga. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


