Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 21 menerangkan bahwa Rasulullah adalah teladan yang sempurna bagi manusia dalam segala aspek kehidupan. Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan sejatinya, Nabi adalah contoh dalam segala ucapan, perbuatan, dan sikap, baik dalam kondisi damai maupun dalam situasi sulit seperti perang.
Lewat ayat ini, kita sebagai umatnya, seyogianya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya satu sifat atau tindakan beliau yang layak diteladani, melainkan seluruh karakter dan perilaku beliau harus menjadi contoh bagi umat Islam yang ingin meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Simak firman Allah berikut ini:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
Laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatun liman kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ
Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."
Tafsir al-Basith
Menurut Imam Al-Wahidi dalam kitab Tafsir al-Basith, bahwa ayat ini menjelaskan pentingnya menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam hal perjuangan dan kesabaran. Rasulullah adalah contoh yang sempurna bagi umatnya, terutama ketika mereka menghadapi ujian dan tantangan.
Salah satu contoh yang paling menonjol adalah saat Perang Uhud. Ketika itu terjadi, Rasulullah menderita luka-luka, termasuk giginya yang patah, dahinya terluka, dan pamannya, Hamzah terbunuh. Meski menghadapi penderitaan yang berat, Rasulullah tetap menunjukkan keberanian dan ketabahan, memberikan teladan bagi para sahabatnya.
Kata Al-Wahidi meskipun Rasulullah menderita berbagai kesulitan dalam pertempuran tersebut, Nabi tetap menghibur dan menyemangati para pengikutnya dengan keteladanan pribadinya. Dalam situasi yang sulit, Rasulullah tidak hanya meminta pengikutnya untuk bersabar, tetapi juga menunjukkan bagaimana bersabar dan teguh di medan pertempuran.
Dengan cara ini, beliau menginspirasi para sahabatnya untuk bertahan dan berjuang dengan cara yang sama, menghadapi setiap ujian dengan keberanian dan keteguhan. Simak penjelasan Imam Al-Wahidi berikut:
ومعنى الآية على ما ذكره أهل التفسير: أن الله يقول: كان لكم رسول الله اقتداء لو اقتديتم به في نصرته ومؤازرته، والشد على يده بالصبر معه في مواطن القتال، كما فعل هو بيوم أحد، إذ كسرت رباعيته وشج فوق حاجبه، وقتل عمه، وأوذي بضروب الأذى، فواساكم مع ذلك بنفسه، فهلا فعلتم مثل ما فعل واستنيتم بسنته (١).
Artinya: "Dan makna ayat ini, sebagaimana yang disebutkan oleh para ahli tafsir: bahwa Allah berfirman, ‘Sungguh, Rasulullah adalah teladan bagi kalian, seandainya kalian meneladaninya dalam menolong dan mendukungnya, serta memperkuat perjuangannya dengan bersabar bersamanya di medan pertempuran, sebagaimana yang ia lakukan pada hari Perang Uhud, ketika gigi serinya patah, dahinya terluka, dan pamannya terbunuh, serta ia mengalami berbagai macam penderitaan. Meski demikian, ia tetap menyemangati kalian dengan keberanian dirinya. Mengapa kalian tidak melakukan seperti apa yang ia lakukan dan mengikuti sunnahnya?" [Al-Wahidi, Tafsir Basith, Jilid 18, [Saudi: Jami’ah as Su’udiyah al-Islamiyah, 1430 H], halaman 213]
Tafsir as-Sam’ani
Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani dalam Tafsir as-Sam’ani menjelaskan tafsir dari surat Al-Ahzab ayat 21, yang menjelaskan tentang teladan Rasulullah. Allah berfirman, "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu," yang dimaknai sebagai contoh yang patut diikuti. Meneladani berarti meniru sikap dan perbuatan Nabi dalam menjalankan kehidupan.
As-Sam’ani menjelaskan bahwa teladan ini disebutkan dalam konteks agar para sahabat Rasulullah mampu menolong agama Allah, berjuang, dan bersabar menghadapi berbagai kesulitan yang menimpa mereka. Hal ini sangat penting untuk membangkitkan semangat mereka dalam menghadapi ujian hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.
Rasulullah sendiri mengalami banyak cobaan, salah satunya pada Perang Uhud, di mana gigi serinya patah, dahinya terluka, dan helmnya hancur di atas kepalanya. Selain itu, pamannya juga terbunuh dalam pertempuran tersebut. Meskipun demikian, Rasulullah tidak pernah surut dalam melaksanakan perintah Allah dan tetap bersabar menghadapi semua penderitaan yang menimpanya.
Kesabaran Rasulullah dalam menghadapi cobaan ini menjadi teladan bagi umat Islam agar tetap teguh dan bersabar dalam menegakkan agama Allah. Beliau adalah contoh sempurna bagaimana menjalani hidup dengan penuh ketabahan, meskipun dihadapkan pada tantangan yang berat.
قَوْله تَعَالَى: {لقد كَانَ لكم فِي رَسُول الله أُسْوَة حَسَنَة} أَي: قدوة حَسَنَة، والتأسي: هُوَ الإقتداء، وَإِنَّمَا ذكر الأسوة هَا هُنَا حَتَّى ينصرُوا (ويقومون) ويصبروا على مَا يصيبهم، كَمَا فعل رَسُول الله فَإِنَّهُ كسرت رباعيته يَوْم أحد، وشج فِي جَبهته، وَكسرت الْبَيْضَة على رَأسه، وَقتل عَمه فَلم يفتر فِي أَمر الله، وصبر على جَمِيع ذَلِك.
Artinya: "Firman Allah Ta’ala: "(Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu)" yaitu, contoh teladan yang baik. Meneladani berarti mengikuti, dan penyebutan teladan di sini dimaksudkan agar mereka (para sahabat) menolong (agama Allah) dan berjuang serta bersabar atas apa yang menimpa mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Sesungguhnya, gigi serinya patah pada hari Perang Uhud, dahinya terluka, helmnya hancur di atas kepalanya, dan pamannya terbunuh. Namun, beliau tidak berhenti dalam urusan Allah dan bersabar atas semua itu." [Abu Al Muzhaffar As-Sam’ani, Tafsir as-Sam’ani, jilid IV, [Riyadh, Darul Wathan, 1997], hal. 270].
Tafsir Al-Misbah
Profesor Quraish Shihab, dalam kitab Tafsir Al-Misbah, Jilid 11, menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang beriman yang meneladani Nabi Muhammad saw. Kata "uswah" dalam ayat ini berarti teladan. Menurut pakar tafsir Az-Zamakhsyari, ada dua kemungkinan makna keteladanan yang terkandung dalam pribadi Rasulullah.
Pertama, kepribadian Nabi Muhammad SAW secara keseluruhan merupakan teladan. Kedua, dalam kepribadian beliau terdapat aspek-aspek tertentu yang layak diteladani. Namun, pendapat yang lebih kuat menurut banyak ulama adalah bahwa seluruh aspek kepribadian beliau merupakan teladan yang sempurna.
Lebih lanjut, Quraish Shihab juga menjelaskan fungsi kata "fi" dalam frasa "fi rasulillah." Kata ini berfungsi untuk menunjukkan bahwa bukan hanya satu sifat Nabi yang harus diteladani, tetapi seluruh kepribadian beliau secara menyeluruh. Rasulullah SAW adalah contoh sempurna dalam segala hal, sehingga umat Islam diharapkan mengikuti semua aspek kehidupan beliau.
Kemudian muncul pertanyaan penting, mengenai cakupan keteladanan dari pribadi Nabi Muhammad SAW. Apakah segala sesuatu yang diucapkan atau diperagakan oleh Nabi dapat dianggap sebagai hal yang baik dan harus diikuti oleh umat Islam?
Jawaban atas pertanyaan ini terkait dengan konsep Ishmah, yaitu pemeliharaan Allah terhadap Nabi dari kesalahan. Bagi yang meyakini bahwa Ishmah berlaku dalam segala aspek kehidupan Nabi, maka segala perbuatannya pasti benar. Namun, bagi yang membatasi Ishmah hanya pada urusan agama, keteladanan Nabi hanya berlaku pada hal-hal yang berhubungan dengan ajaran agama.
Imam al-Qarafi, seorang ulama terkemuka, menjelaskan secara rinci peran-peran yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, Nabi dapat bertindak dalam beberapa kapasitas, seperti sebagai Rasul, Mufti, Hakim, atau pemimpin masyarakat.
Dalam kapasitasnya sebagai Rasul dan Mufti, ucapan dan sikap Nabi selalu benar karena bersumber dari Allah atau merupakan penjelasan dari ajaran-Nya. Namun, dalam perannya sebagai Hakim dan pemimpin masyarakat, keputusan-keputusan Nabi dapat disesuaikan dengan situasi masyarakat dan bisa saja berubah sesuai perkembangan zaman atau kondisi tertentu.
Sebagai pemimpin masyarakat, Nabi sering kali menyesuaikan petunjuk-petunjuknya dengan keadaan sosial masyarakat pada saat itu. Misalnya, larangan menziarahi kubur yang kemudian diperbolehkan seiring dengan perubahan kondisi masyarakat.
Selain itu, hal-hal yang berkaitan dengan budaya masyarakat tempat Nabi hidup, seperti pakaian atau gaya hidup tertentu, tidak harus diteladani secara mutlak, karena hal tersebut lebih bersifat kebiasaan budaya daripada ajaran agama.
Dalam hal-hal yang bersifat pribadi, penting untuk membedakan antara kekhususan Nabi sebagai Rasul dengan tindakan yang bersifat manusiawi. Misalnya, beberapa kekhususan seperti kebolehan Nabi menikahi lebih dari empat istri atau kewajiban sholat malam tidak perlu diteladani oleh umat. Namun, jika suatu tindakan Nabi bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, seperti membuka alas kaki ketika sholat, maka itu termasuk dalam hal yang bisa diteladani. Sedangkan tindakan yang tidak memiliki kaitan langsung dengan ibadah, seperti pakaian tertentu, statusnya mubah dan boleh diikuti, tetapi tidak diwajibkan. [Profesor Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jilid 11 , [Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2002] halaman 244-245 ].
Dengan demikian, makna utama dari ayat ini adalah Rasulullah SAW merupakan sosok teladan yang sempurna bagi umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam urusan agama maupun kehidupan duniawi. Suri teladan ini tidak terbatas pada ibadah ritual seperti sholat, puasa, dan zakat, tetapi juga mencakup akhlak, pergaulan, kepemimpinan, dan interaksi sosial.
Editor: Muhammad Faizin


