Dark
Light
Dark
Light

Biar Tidak Garing dan Nyelekit, Ini Panduan Bercanda Ala Rasulullah SAW

Biar Tidak Garing dan Nyelekit, Ini Panduan Bercanda Ala Rasulullah SAW

Arina.id - “Eh, bercanda kok gitu banget sih? Kelewatan parah, aku jadi kepikiran, tahu.” “Lho, kan cuma bercanda! Nggak usah baper, deh.”

Pernahkah percakapan semacam itu terjadi di antara kamu dan temanmu? Di zaman sekarang, bercanda sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bahkan telah menjadi kebiasaan di berbagai pertemuan di tengah masyarakat. 

Sayangnya, tidak jarang candaan yang awalnya bertujuan mempererat hubungan justru berakhir dengan salah paham, bahkan permusuhan. Bagi orang yang melontarkan candaan, hal tersebut mungkin dianggap sebatas humor atau guyonan biasa. Namun, bagi orang yang mendengarnya, candaan itu bisa saja menyinggung perasaan atau bahkan menyakitkan.

Padahal, kalau kita lihat dari teladan Rasulullah SAW, bercanda memiliki adab dan seni tersendiri. Bukan sekadar melempar lelucon, tapi juga dapat dijadikan untuk mempererat hubungan, membuat suasana lebih hangat, dan tetap menjaga perasaan orang lain. Rasulullah SAW selalu mampu membuat orang-orang di sekitarnya tertawa tanpa melukai, apalagi menghina.

Arti Bercanda dalam Islam

Bercanda dalam Islam adalah sebuah perilaku yang bertujuan menciptakan kehangatan keakraban dan kebahagiaan di tengah-tengah pergaulan, tanpa melukai perasaan orang lain. Dari sini jelas bahwa bercanda harus dilakukan dengan adab, niat yang baik, serta tidak mengandung penghinaan atau ejekan. 

وَهُوَ الْإِنْبِسَاطُ مَعَ الْغَيْرِ؛ مِنْ غَيْرِ إِيذَاءٍ لَهُ، وَبِهِ فَارَقَ الِاسْتِهْزَاءَ وَالسُّخْرِيَةَ

Artinya: ”Bercanda adalah bersikap ramah kepada orang lain tanpa menyakitinya. Dengan ini, seseorang membedakan antara ramah tamah dengan ejekan dan hinaan.”(Abdullah Al Lahjiy, Muntaha Suul ‘Ala Wasail al Wushul Ila Syama’il ar Rasul,( Dar al Minhaj, 2005 juz 2 halaman 538).

Hukum Bercanda Menurut Ulama

Bercanda dalam pandangan para ulama memiliki kedudukan yang mubah (boleh) selama memenuhi syarat tertentu. Bahkan, dalam beberapa kondisi, bercanda dianjurkan (mandub) karena memiliki manfaat seperti menyenangkan hati, menghilangkan kepenatan, dan mempererat hubungan antar sesama. Namun, bercanda memiliki batasan yang tidak boleh dilanggar, seperti tidak mengandung penghinaan, ghibah (menggunjing), atau memicu permusuhan.

فقد سُئِلت قَدِيما عَن المزاح، وَمَا يكره مِنْهُ وَمَا يُبَاح، فأجبت بِأَنَّهُ مَنْدُوب إِلَيْهِ بَين الإخوان، والأصدقاء والخلان. لما فِيهِ من ترويح الْقُلُوب، والاستئناس الْمَطْلُوب، بِشَرْط أَن لَا يكون فِيهِ قذف وَلَا غيبَة، وَلَا يُحَرك الحقود الكمينة ثمَّ طلب مني بعد مُدَّة السَّائِل، بسط الْكَلَام فِي ذَلِك وإيضاح الدَّلَائِل

Artinya: ”Aku pernah ditanya dahulu tentang bercanda, apa yang dibenci darinya, dan apa yang diperbolehkan. Maka aku menjawab bahwa bercanda dianjurkan di antara saudara, teman, dan sahabat, karena di dalamnya terdapat penyegaran hati dan keakraban yang diharapkan. Namun, dengan syarat tidak mengandung penghinaan, tidak ghibah, dan tidak membangkitkan dendam yang tersembunyi. Kemudian, setelah beberapa waktu, penanya memintaku untuk menjelaskan lebih luas tentang hal ini serta memberikan dalil-dalil yang mendukungnya.” (Muhammad Al Ghazi Al ‘Amiri, Al Murah Fil Mizah (Beirut; Dar Ibnu Hazm, 1977 halaman 35)

Kendati bercanda diperbolehkan, bahkan dalam beberapa kondisi disunnahkan, bukan berarti seseorang menjadikannya kebiasaan yang terus-menerus dilakukan. Sebab jika dilakukan berlebihan, hal ini dapat menimbulkan efek buruk yakni timbulnya penyakit kerasnya hati (qaswatul qalb), sebuah kondisi di mana hati menjadi tidak peka terhadap kebaikan dan jauh dari rasa takut kepada Allah.

لَكِنْ لَا يَنْبَغِي الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهِ، لِأَنَّهُ يَتَوَلَّدُ عَنْهُ الضَّحِكُ، وَيَتَوَلَّدُ عَنِ الضَّحِكِ قَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَيُشْغِلُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَعَنْ الْفِكْرِ فِي مُهِمَّاتِ الدِّينِ.

Artinya: ”Namun, tidak seharusnya seseorang terus-menerus bercanda, karena bercanda dapat memicu banyak tertawa. Banyak tertawa akan menyebabkan hati menjadi keras, serta melalaikan dari mengingat Allah Ta'ala dan berpikir tentang hal-hal penting dalam agama.” (Abdullah Al Lahjiy, Muntaha Suul ‘Ala Wasail al Wushul Ila Syama’il ar Rasul,( Dar al Minhaj, 2005 juz 2 halaman 538).

Seni dan Teladan Bercanda Ala Rasulullah SAW

Rasulullah sebagai al insan al kamil (manusia sempurna) dan uswah hasanah (teladan baik) memiliki teladan dalam bercanda. Salah satu yang paling populer terkait seni bercanda Rasulullah adalah kisah candaan beliau kepada wanita tua berikut;

وَمَا رَوَاهُ الْحسن قَالَ: أَتَت عَجُوز من الْأَنْصَار إِلَى النَّبِي ﷺ فَقَالَت: يَا رَسُول الله ادْع لي بالمغفرة فَقَالَ لَهَا: أَمَا عَلِمتِ أَنَّ الجَنَّةَ لاَ يَدخلُهُاَ العَجَاَئِزُ وَفِي روايةٍ العجوزَ وَفِي رِوَايَة لاَ تَدخُلُ الجَنَّةَ عَجُوزٌ فَبَكَتْ وَفِي رِوَايَة فصرخت فَتَبَسَّمَ رَسُول الله ﷺ وَقَالَ لَهَا: لَستِ يَومَئذٍ يِعَجُوزٍ أَمَا قَرَأتِ قَولَهُ تَعَالَى: (إِنَّا أَنشَأنَاهُنَّ إِنشَاءَ فَجَعَلنَاهُنَّ أَبكاَرًا عُرُبًا أَتَرابًا)

Artinya: "Diriwayatkan oleh Al-Hasan, bahwa seorang wanita tua dari kalangan Anshar mendatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakanlah agar aku diampuni.” Rasulullah menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa surga tidak dimasuki oleh wanita tua?” Dalam riwayat lain disebutkan, “Wanita tua tidak akan masuk surga.” Mendengar hal ini, wanita tersebut menangis, bahkan ada yang menyebutkan bahwa ia berteriak. Rasulullah kemudian tersenyum dan berkata kepadanya, “Pada saat itu, kamu tidak akan menjadi wanita tua. Tidakkah kamu membaca firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari surga) dengan penciptaan baru, lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta, sebaya umurnya.’” (QS. Al-Waqi’ah: 35-37). (Muhammad Al Ghazi Al ‘Amiri, Al Murah Fil Mizah (Beirut; Dar Ibnu Hazm, 1977 halaman 42)

Dalam kisah tersebut Rasulullah SAW memberi teladan kepada kita untuk selalu bercanda dengan kelembutan dan tujuan yang baik. Beliau tidak pernah melukai perasaan orang lain, melainkan menggunakan candaan untuk menciptakan keakraban dan menyampaikan kabar gembira.

Dalam kisah ini, candaan beliau juga berbobot dan bernilai dakwah ini dibuktikan dengan penjelasan beliau tentang keadaan penghuni surga yang akan dikembalikan dalam keadaan muda, hal ini sekaligus menambah keimanan yang mendengarnya. 

Selain itu dalam bercanda, Rasulullah selalu memilih kata-kata yang bijak dan tidak berlebihan dalam bercanda. Ketika wanita tua tersebut menangis karena salah paham, beliau menjelaskan maksudnya dengan lembut menggunakan ayat Al-Qur'an.

Itulah candaan Rasulullah yang patut menjadi contoh sempurna bagaimana seorang Muslim dapat bercanda tanpa melanggar etika. Candaan beliau penuh hikmah, tidak menyakiti, dan selalu mengarah kepada kebaikan. Mari teladani seni bercanda ala Rasulullah. Wallahu a’lam bissawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo