Arina.id - Kecemasan terhadap masa depan sering kali muncul karena manusia ingin merasa aman atas sesuatu yang belum tentu terjadi. Rasa takut gagal, tidak punya cukup rezeki, atau khawatir menghadapi situasi yang tak terduga menjadi beban pikiran yang melemahkan semangat hidup.
Padahal dalam Islam, ketenangan hidup tidak didapat dari kepastian masa depan, melainkan dari keyakinan terhadap takdir Allah dan ketekunan menjalani hari ini. Berikut adalah tiga tips Islami ketika kita mengalami kecemasan (anxiety) terhadap masa depan.
1. Meyakini Rezeki Sudah Ada Bagiannya
Banyak orang diliputi kekhawatiran soal rezeki seperti takut tidak cukup, takut tertinggal, atau takut tak kebagian. Padahal, Islam telah menjamin bahwa rezeki setiap makhluk sudah ditentukan dan tidak akan pernah tertukar. Yang terpenting adalah bertakwa dan terus berikhtiar dengan cara yang baik. Ketika hati bertumpu pada keyakinan ini, kecemasan pun akan perlahan reda.
Sebab, rezeki bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling percaya dan bersungguh-sungguh. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي: أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
Artinya: “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku: tidaklah suatu jiwa akan mati sampai ia menyempurnakan ajal dan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik.” (HR. Abu Nu‘aim)
Berkaitan dengan hadits ini, Syekh Mula Ali Al-Qari dalam Mirqatul Mafatih menjelaskan:
والمعنى أنَّ نَفْسًا ذاتَ نَفَسٍ وهي حيٌّ مخلوقٌ (لَنْ تَمُوتَ حَتّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا) أي: المُقَدَّرُ لها، كما أشار إليه سبحانه بقوله: اللهُ الَّذي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ. (وَأَجْمِلُوا) أي: مِنَ الإِجْمَالِ، أي: وأَحْسِنُوا (فِي الطَّلَبِ): أي في تَحْصِيلِ الرِّزْقِ، ولا تُبَالِغُوا في طَلَبِهِ، فإنَّكُمْ غَيْرُ مُكَلَّفِينَ بِطَلَبِ الرِّزْقِ.
Artinya: "Maksudnya adalah bahwa setiap jiwa yang bernyawa dan hidup, tidak akan mati sebelum menyempurnakan seluruh rezekinya, yakni rezeki yang telah ditetapkan baginya oleh Allah, sebagaimana firman-Nya: “Allah-lah yang menciptakan kalian, lalu memberi rezeki, kemudian mewafatkan kalian. Ungkapan "wa ajmilu fth thalab" berarti “berbuatlah baik dan tenang dalam mencari (rezeki)”, yakni carilah rezeki dengan cara yang baik, jangan berlebihan atau serakah, karena kalian tidak dibebani kewajiban untuk mencukupi rezeki diri sendiri." (Al-Qari, 2002: juz 8, h. 3321)
2. Jangan Menyibukkan Diri dengan Hal yang Belum Terjadi
Menyibukkan diri dengan hal-hal yang belum terjadi justru memperbesar kecemasan dan melemahkan fokus pada apa yang bisa dikendalikan saat ini. Masa depan memang tak pasti, tapi terlalu larut membayangkan skenario buruk hanya akan menguras energi mental. Islam mengajarkan untuk bertawakal setelah ikhtiar, bukan tenggelam dalam kekhawatiran.
Dengan fokus pada langkah konkret hari ini, kita lebih siap menghadapi hari esok tanpa terbebani oleh bayang-bayang ketidakpastian yang belum tentu terjadi. Rasulullah bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا، كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ.
Artinya: “Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan berkata: 'Seandainya aku lakukan begini, tentu akan begini dan begitu,' tapi katakanlah: 'Ini takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi." (HR Ibnu Majah)
Berkaitan dengan hadits ini, Syekh Abdul Aziz ar-Rajihi dalam Syarah Sunan Ibni Majah menjelaskan:
وَقَوْلُهُ: "لَوْ" يَعْنِي: هِيَ الَّتِي فِيهَا الِاعْتِرَاضُ عَلَى القَدَرِ وَالتَّحَسُّرُ عَلَى مَا وَقَعَ، كَأَنْ يَقُولَ الإِنْسَانُ عِنْدَ نُزُولِ مُصِيبَةٍ: لَوْ فَعَلْتُ كَذَا مَا أَصَابَنِي كَذَا، أَوْ لَوْ ذَهَبْتُ إِلَى كَذَا مَا أَصَابَنِي كَذَا، فَهَذَا مِنَ الِاعْتِرَاضِ عَلَى قَدَرِ اللهِ، و"لَوْ" فِي مِثْلِ هَذَا تُفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.
Artinya: "Kata “seandainya” di sini mengandung makna penolakan terhadap takdir dan penyesalan yang berlebihan, seperti orang yang terkena musibah lalu berkata: “Seandainya aku berbuat begini, pasti takkan tertimpa musibah ini,” atau “Seandainya aku pergi ke tempat lain, pasti tidak terkena penyakit.” Ucapan semacam ini menunjukkan ketidakridhaan terhadap takdir Allah, dan kata “seandainya” dalam konteks seperti ini justru membuka pintu godaan setan." (Ar-Rajihi, tanpa tahun: juz 5, h, 12)
Dari penjelasan Abdul Aziz ar-Rajihi ini dapat dipahami bahwa terlalu larut memikirkan hal-hal yang belum terjadi, termasuk mengucapkan "seandainya" atas musibah, merupakan bentuk ketidakridhaan terhadap takdir Allah.
Sikap seperti ini justru membuka pintu bisikan setan yang menjerumuskan pada penyesalan berkepanjangan dan kehilangan arah. Dalam konteks menghadapi kecemasan masa depan, sikap terbaik adalah menerima apa yang terjadi sebagai kehendak Allah, tanpa membebani diri dengan angan-angan yang melemahkan keteguhan hati dan kepercayaan kepada-Nya.
3. Selalu Berdoa
Doa perlindungan dari kecemasan dan ketakutan sangat penting karena menjadi bentuk pengakuan keterbatasan manusia dan penyerahan diri kepada Allah. Kecemasan sering datang dari hal-hal yang belum terjadi, sementara doa menenangkan jiwa dan menguatkan harapan.
Dengan berdoa, hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan langkah lebih terarah dalam menghadapi situasi yang tidak pasti atau menakutkan. Salah satu doa yang bisa kita baca ketika mengalami rasa cemas berlebih adalah berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari lilitan utang, dan dari tekanan orang-orang.” (HR Bukhari)
Berkaitan dengan redaksi doa ini, Al-Karmani menjelaskan bahwa doa tersebut sangat lengkap karena mencakup berbagai jenis masalah manusia: batin, fisik, dan sosial. Masalah batin meliputi rasa cemas, takut, dan kikir; masalah fisik seperti lemah dan malas; sedangkan masalah sosial mencakup kesulitan ekonomi dan tekanan dari orang lain. Dengan kata lain, doa ini mengajarkan kita untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kesulitan yang bisa datang dari dalam diri maupun dari luar. (Ibnu Hajar, 1986: juz 11, h. 177)
Doa ini sangat relevan dalam menghadapi rasa takut dan cemas terhadap masa depan yang belum pasti. Ia mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari kelemahan jiwa seperti rasa takut berlebihan, kecemasan, dan pesimisme, sekaligus mendorong kita untuk tetap aktif, tidak malas, dan tidak menyerah.
Dengan doa ini, kita diajak untuk percaya bahwa segala hal berada dalam takdir Allah, sambil tetap berikhtiar secara sehat tanpa terbebani oleh hal-hal yang belum terjadi.
Menghadapi masa depan memang tak mudah, tapi Islam membekali kita dengan panduan yang menenangkan hati dan menguatkan langkah. Dengan yakin akan rezeki, fokus pada hari ini, dan memperbanyak ikhtiar dan doa, kita bisa menumbuhkan ketenangan di tengah ketidakpastian. Jangan biarkan kecemasan mengendalikan hidup. Hadapi dengan iman, ikhtiar, dan tawakal. Karena masa depan milik Allah, dan kita cukup menjalani bagian kita hari ini. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


