Tidak lama lagi Bulan suci Ramadhan akan hadir membersamai umat Islam seluruh dunia. Sebagai Muslim, sudah selayaknya kita menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh suka cita, sebagaimana telah dicontohkan oleh para ulama terdahulu.
Bahkan dua bulan sebelum datangnya bulan Ramadhan, yaitu Rajab dan Sya’ban, para salafus shalih sudah mulai berkonsentrasi menyambut kedatangan Ramadhan dengan senantiasa memanjatkan doa berikut ini:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Artinya: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan (usia) kami pada bulan Ramadhan.”
Mengingat pentingnya menyambut kedatangan bulan Ramadhan, kiranya perlu menyiapkan diri dengan sedemikian rupa. Setidaknya ada 3 hal yang perlu dipersiapkan sebelum bulan Ramadhan tiba, yaitu ilmu, mental, dan amal. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh KH Bukhari Sail Attahiri dalam Mimbar Jum’at Istiqlal Edisi 1107.
1. Ilmu
Ilmu menjadi urutan pertama dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Pasalnya tanpa mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa, seperti syarat, rukun, dan sesuatu yang membatalkan puasa, bisa jadi puasa yang dilakukan menjadi sia-sia karena hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Rasulullah bersabda:
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Artinya : “Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa apa kecuali lapar dan dahaga”. (HR Imam Ahmad)
Mengingat hal tersebut, mengetahui pengertian puasa dengan detail dinilai sangat penting agar puasa yang dilakukan bisa bernilai ibadah dan diterima oleh Allah. Pentingnya ilmu ini juga berlaku untuk ibadah lainnya, seperti shalat tarawih, i‘tikaf, sahur, tadarus, dan sebagainya.
Jalan terbaik bagi umat Islam yang masih awam adalah dengan mengaji dan bertanya kepada seorang guru yang diyakini keilmuannya, agar mendapatkan penjelasan-penjelasan secara mendetail.
2. Mental
Persiapan mental untuk menerima kedatangan bulan Ramadhan sangatlah penting. Bagi orang yang mentalnya tidak siap dengan datangnya bulan Ramadhan, tentu akan rugi dan menganggap kedatangan Ramadhan menjadi beban karena tidak bisa makan dan minum di siang hari, perasaan seperti ini tentu saja bisa membuat hati tidak nyaman bahkan acuh.
Kesiapan mental bisa dibangun dengan mengingat kembali keutamaan pada bulan Ramadhan. Sebab, keutamaan inilah yang akan memotivasi seorang Muslim untuk menjalani kewajiban puasa Ramadhan dan berbagai amalan-amalan pendukungnya dengan penuh semangat.
Sebelum Ramadhan tiba, Rasulullah pernah menyampaikan motivasi kepada para sahabatnya. Salman al-Farisi, menuturkan bahwa pada hari-hari terakhir bulan Sya’ban, Rasulullah berkhutbah:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah dekat kepadamu sekalian bulan yang agung, bulan yang penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Inilah Ramadhan, bulan yang Allah tetapkan puasa di siang harinya sebagai kewajiban, dan shalat tarawih di malam harinya sebagai sunnah”
Selain itu, masih banyak lagi keutamaan dalam bulan Ramadhan, seperti akan dilipatgandakannya pahala ibadah dan ibadah sunnah akan dibalas dengan pahala ibadah wajib yang dilaksanakan di luar bulan Ramadhan.
3. Amal
Memperbanyak amal merupakan salah satu bentuk keseriusan dalam memuliakan datangnya Ramadhan. Rasulullah mengisi bulan Sya’ban dengan memperbanyak berpuasa sebagai bentuk persiapan menghadapi bulan Ramadhan. Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata::
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ - صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَصُوْمُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يَصُوْمُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ
Artinya: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa hingga kami mengira beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengira beliau tidak puasa. Tidaklah kami melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya sebulan penuh selain bulan Ramadhan, dan tidaklah kami melihat beliau puasa lebih banyak selain bulan Sya'ban.” (HR Bukhari)
Selain memperbanyak puasa, para ulama salaf juga menyambut Ramadhan dengan memperbanyak membaca al-Quran. Anas bin Malik berkata bahwa ketika umat Islam memasuki bulan Sya’ban, mereka sibuk membaca Al-Qur'an dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa. Selain itu, seorang salafus shalih juga pernah berkata bahwa Sya’ban adalah bulan para pembaca Al-Qur'an.
Selanjutnya, Abu Bakr al-Warraq al-Balkhi membuat sebuah perumpamaan bahwa Rajab itu adalah bulan untuk menanam, Sya’ban bulan untuk mengairi dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen. Dengan demikian, untuk bisa memetik buah di bulan Ramadhan, kita mesti menyiapkan benih yang akan disemai, dan diairi sampai menghasilkan buah yang banyak.
Aneka amal ibadah yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya’ban, seperti puasa, qiyamullail, sedekah, dan sebagainya, semua itu dalam rangka untuk menanam amal saleh. Tujuannya agar kita bisa memanen kelezatan puasa dan beramal saleh di bulan Ramadhan, karena lezatnya Ramadhan tidak bisa datang dinikmati begitu saja. Namun ia butuh pengorbanan dan kesabaran serta perjuangan. Wallahu a’lam.
Editor: Muhammad Faizin


