Arina.id- Di tengah arus zaman yang makin pragmatis, banyak orang menilai kelayakan pasangan hidup dari jumlah tabungan, gaji bulanan, atau jenis kendaraan. Meskipun finansial memang penting dalam kehidupan berumah tangga, namun menjadikannya sebagai tolok ukur utama dalam memilih pasangan bisa menyesatkan arah niat.
Dalam Islam, sosok seperti Khadijah binti Khuwailid menunjukkan bahwa cinta sejati tumbuh dari nilai-nilai yang jauh lebih luhur. Beliau adalah perempuan luar biasa yang memiliki segalanya. Ia bangsawan Quraisy, pengusaha sukses, dan memiliki harta melimpah.
Dalam posisi tersebut, sangat mudah baginya untuk menikahi siapa pun yang ia mau, terutama pria-pria elite Makkah yang sama-sama kaya. Namun, pilihannya jatuh pada seorang pemuda yatim yang hidup sederhana, tak punya kekayaan, tapi dikenal karena akhlaknya yang suci.
Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fit Tarikh menjelaskan:
أنَّ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قُصَيٍّ كَانَتِ ٱمْرَأَةً تَاجِرًا ذَاتَ شَرَفٍ وَمَالٍ، وَتَسْتَأْجِرُ فِي مَالِهَا وَتُضَارِبُهُمْ إِيَّاهُ بِشَيْءٍ تَجْعَلُهُ لَهُمْ مِنْهُ، وَكَانَتْ قُرَيْشٌ تُجَّارًا.
Artinya: “Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushay adalah seorang perempuan pedagang yang memiliki kedudukan terhormat dan harta melimpah. Ia biasa menyewakan modal dagangnya kepada orang lain dan mengajak mereka bermitra bisnis dengannya dengan sistem bagi hasil. Suku Quraisy sendiri dikenal sebagai kaum pedagang.” (Ibnul Atsir, 1997: juz 1, h. 640).
Nabi Muhammad SAW pada saat itu belum diangkat menjadi Rasul. Nabi berumur 25 tahun dan bekerja sebagai orang kepercayaan Khadijah dalam urusan dagang. Beliau tak datang dari keluarga berada, tak punya rumah mewah, kendaraan istimewa, atau warisan besar. Tapi ada satu hal yang melekat kuat dalam diri beliau, yaitu reputasi sebagai orang yang jujur, amanah, dan sangat berakhlak.
Khadijah jatuh hati bukan karena Nabi Muhammad kaya atau berpengaruh. Ia jatuh hati karena ketulusan hati, adab, dan integritas Nabi. Laporan budaknya, Maisarah, yang ikut dalam perjalanan dagang bersama Nabi, menguatkan keyakinannya. Muhammad adalah lelaki yang tidak hanya piawai dalam berdagang, tapi juga menjunjung nilai-nilai moral dan tidak pernah sekalipun berlaku curang dalam berdagang.
Prinsip Khadijah menjadi pelajaran besar bagi kita semua. Di era sekarang, kriteria pasangan hidup sering kali direduksi hanya sebatas “mapan”. Banyak konten viral yang menyebut, seorang pria baru layak menikah kalau sudah punya rumah, mobil, dan penghasilan dua digit. Tak sedikit perempuan yang menjadikan “stabil secara finansial” sebagai syarat utama, bahkan mengabaikan karakter, akhlak, dan tanggung jawab.
Prinsip inilah yang seharusnya dipegang oleh para muda-mudi masa kini. Rasulullah SAW sendiri telah menegaskan bahwa kemapanan finansial tidak boleh menjadi tolok ukur utama dalam memilih pasangan hidup. Sebab, pasangan yang berakhlak mulia jauh lebih berharga daripada pasangan yang kaya secara materi namun miskin dalam moral. Akhlak yang baik adalah pondasi kokoh bagi rumah tangga yang penuh berkah dan ketenangan.
Dalam satu hadits diriwayatkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ، عَنِ ٱلنَّبِيِّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تُنكَحُ ٱلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ ٱلدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA., dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka, utamakanlah wanita yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung (meski kau tak berharta sekalipun)." (HR Bukhari dan Muslim)
Berkaitan dengan hadits ini, Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyampaikan:
ٱلْمَعْنَى أَنَّ ٱللَّائِقَ بِذِي ٱلدِّينِ وَٱلْمُرُوءَةِ أَنْ يَكُونَ ٱلدِّينُ مَطْمَحَ نَظَرِهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، لَا سِيَّمَا فِيمَا تَطُولُ صُحْبَتُهُ، فَأَمَرَهُ ٱلنَّبِيُّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَحْصِيلِ صَاحِبَةِ ٱلدِّينِ ٱلَّذِي هُوَ غَايَةُ ٱلْبُغْيَةِ.
Artinya: “Maknanya adalah bahwa seseorang yang memiliki agama dan kehormatan diri (muru’ah) sepatutnya menjadikan agama sebagai tujuan utama dalam setiap urusannya, terlebih lagi dalam urusan yang menyangkut hubungan jangka panjang (seperti pernikahan). Karena itu, Nabi SAW memerintahkannya agar benar-benar berusaha mendapatkan pasangan hidup yang memiliki agama, sebab itulah tujuan tertinggi yang seharusnya dicari." (Ibnu Hajar, juz 9, h. 38).
Penjelasan Ibnu Hajar ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki keimanan dan menjaga kehormatannya semestinya menjadikan agama sebagai pertimbangan utama dalam setiap aspek kehidupan, termasuk urusan memilih pasangan. Karena pernikahan adalah ikatan jangka panjang yang penuh ujian, maka membangun rumah tangga dengan sosok yang taat kepada Allah akan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk tekanan finansial yang kian rumit di era sekarang.
Bukan berarti finansial tak penting sama sekali. Tapi ia bukan landasan utama. Suami yang bertanggung jawab, meskipun belum kaya, akan berjuang demi keluarganya. Istri yang sabar dan bijak, meski hidup sederhana, akan menjadi penyejuk dalam rumah tangga. Kekayaan bisa dicari bersama, tapi ketulusan dan akhlak tidak bisa dibeli di pasar.
Pernikahan adalah perjalanan panjang. Akan ada masa sulit, guncangan, dan ujian. Di saat-saat seperti itu, pasangan yang jujur, sabar, dan berkomitmen akan jadi penyelamat. Maka, tirulah Khadijah yang tak silau oleh harta, tapi terpikat oleh kebeningan hati. Hasilnya? Ia menjadi istri pertama dan paling dicintai Rasulullah, bahkan hingga beliau wafat.
Akhirnya, kisah Khadijah dan Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita bahwa cinta sejati itu melihat jauh ke dalam jiwa, bukan ke isi dompet. Rumah tangga yang berkah bukan dimulai dari pesta mewah atau mas kawin tinggi, tapi dari niat tulus untuk saling menumbuhkan. Jika ingin pasangan yang seindah Khadijah, mulailah dengan menjadi pribadi sebaik Muhammad. Wallahu a’lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


