Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Hal ini menjadi peringatan utama bagi mereka untuk selalu memperbaiki kesalahan dan tidak mengulangi perbuatan dosa.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ اَلْخَطَّائِينَ اَلتَّوَّابُونَ
Artinya: "Setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan, dan sebaik-baiknya pelaku kesalahan adalah mereka yang bertobat." (HR. Tirmidzi)
Di antara ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tobat terdapat dalam Surah An-Nur ayat 31:
وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: "Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
Pada bagian ayat ini, Allah swt memerintahkan kepada seluruh kaum Mukmin untuk bertobat kepada Allah tanpa pengecualian. Syekh Yusuf al Qardhawi dalam kitabnya at Taubat Ila Allah, menjelaskan meskipun orang itu telah demikian taat menjalankan syariah, dan telah menanjak dalam barisan kaum Muttaqin (orang yang bertakwa), ia tetap memerlukan pertobatan.
Sebab, di antara kaum Mukmin ada yang bertobat dari dosa-dosa besar, dan ada yang bertobat dari dosa-dosa kecil. Hal ini karena ia memang bukan orang yang ma'shum (terjaga dari dosa). Di antara orang-orang yang bertobat, mereka ada yang bertobat dari melakukan syubhat, dari tindakan-tindakan yang dimakruhkan, atau melakukan pertobatan dari kelalaian yang terjadi dalam hati mereka.
Ciri-ciri Tobat yang Benar
Dalam kitab Risalatul Muawanah karya Habib Abdullah bin Alawi al-Hadad disebutkan:
“Hendaknya kalian bertobat dari segala dosa yang kecil maupun yang besar, yang nampak maupun yang tersembunyi. Karena tobat adalah langkah pertama (first step) yang dipijakkan seorang hamba dalam perjalanan spiritualnya. Dan hal itulah yang merupakan dasar dari seluruh maqam dan Allah SWT mencintai orang-orang yang bertaubat.”
Habib Abdullah menegaskan bahwa ciri-ciri orang yang bersungguh-sungguh dalam bertaubat, adalah hati yang pilu, banyak menangis, selalu taat, serta menjauhi teman-teman yang jahat, dan tempat-tempat kemaksiatan.
Sedangkan menurut ulama Ahlussunnah wal Jama’ah terdapat tiga syarat dalam bertobat. Hal tersebut sebagaimana tertera dalam kitab Risalatul Qushairiyah tentang tobat yang benar, yaitu:
شرط التوبة حتى تصح ثلاثة اشياء: الندم على ما عمل من المخالفات، و ترك الزلة في الحال، و العزم على ان لا يعود إلى مثل ما عمل من المعاصي. فهذه الاركان لا بد منها، حتى تصح توبته.
Artinya: "Syarat tobat hingga diakui sebagai tobat yang benar melingkupi tiga hal, yaitu: pertama, menyesali kesalahan yang telah dilakukan. Kedua, meninggalkan kesalahan dalam keadaan apapun. ketiga menetapkan atau berjanji tidak akan mengulangi perbuatan maksiat serupa. Maka rukun-rukun ini adalah wajib, agar tobatnya menjadi sah. (Imam Abi al-Qasim al-Qusyairy, al-Risalah al-Qusyairiyah, Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2011, halaman: 127).
Dengan demikian, tidak tepat jika ada seseorang yang bertobat namun masih melakukan perbuatan maksiat, misalnya, tetap menggunjing, menyakiti orang lain, hasud dan melakukan sifat buruk lainnya. Tobat seperti ini dalam istilah orang Jawa dikenal sebagai “tobat sambel”.
Oleh karena itu, tobat yang benar adalah seperti yang dikemukakan di atas; menyesali kesalahannya, meninggalkan perbuatan maksiat secepatnya, dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Namun tidak ada salahnya agar terhindar dari dosa yang masih ada, hendaknya bertobat dan beristighfar setiap hari. Karena manusia terkadang tidak menyadari telah melakukan dosa.
Editor: Muhammad Faizin


