Dark
Light
Dark
Light

Analisa Jumlah Rakaat Tarawih dalam Kitab Kasyfut Tabarih

Analisa Jumlah Rakaat Tarawih dalam Kitab Kasyfut Tabarih

Arina.id - Dalam Kitab berjudul Kaysfut Tabarih fi Bayani Sholatit Tarawih dijelaskan secara spesifik tentang peroblematika sholat Tarawih terutama tentang polemik jumlah rakaatnya. Kitab ini merupakan karya Kiai Abu Fadhal Senori Tuban, salah satu ulama Nusantara yang sangat produktif dengan berbagai karya tulisnya dalam bahasa Arab.

Beliau merupakan salah satu guru dari Syaikhuna Maimoen Zubair. Mbah Moen sendiri menyebut Mbah Fadhol adalah kiai yang unik. Pasalnya, Mbah Fadhol sama sekali tidak pernah pergi haji dan karya tulis beliau sangat banyak yang berbahasa Arab. Karya beliau juga merupakan karya tulis yang bobot ilmiyahnya bisa diperhitungkan.

Beberapa komunitas Muslim mengeklaim bahwa sholat Tarawih 20 rakaat adalah bid’ah madzmumah hingga pernyataan ini menimbulkan polemik di kalangan masyarakat. Tidak sedikit umat Islam yang terjebak kebingungan bahkan hampir saja melenceng dari ajaran para Salafus Salihin. 

Atas dasar faktor itulah, Mbah Fadhol menulis kitab ini sebagaimana yang beliau tuliskan dalam prolognya. Mbah Fadhol melihat banyak masyarakat yang kesulitan untuk mencari dan menganalisis dalil problematika ini dengan presisi di samping mereka terprovokasi oleh kelompok pembid’ah Tarawih 20 rakaat. Oleh karena itu beliau termotivasi untuk menulis kitab ini.

Mbah Fadhol menulis kitab ini dengan tiga bab. Pertama khusus memaparkan hadits-hadits yang berkaitan dengan Tarawih. Bab kedua tentang tata cara sholat Tarawih dan bab ketiga tentang jumlah rakaat sholat Tarawih.

Mbah Fadhol secara jelas menyebutkan bahwa tidak ada dalil spesifik mengenai jumlah rakaat sholat Tarawih kecuali hanya riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no. 7692 dari Ibnu Abbas berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ ‌عِشْرِينَ ‌رَكْعَةً ‌وَالْوِتْرَ

Artinya: "Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah sholat di Ramadan 20 rakaat dan Witir."

Juga riwayat Ibnu Hiban dalam Sahih-nya no. 6943 dari Jabir bin Abdullah berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي شَهْرِ رَمَضَانَ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَأَوْتَرَ، ‌فَلَمَّا ‌كَانَتِ ‌الْقَابِلَةُ اجْتَمَعْنَا فِي الْمَسْجِدِ، وَرَجَوْنَا أَنْ يَخْرُجَ إِلَيْنَا، فَلَمْ نَزَلْ فِيهِ حَتَّى أَصْبَحْنَا، ثُمَّ دَخَلْنَا فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، اجْتَمَعْنَا فِي الْمَسْجِدِ، وَرَجَوْنَا أَنْ تُصَلِّيَ بِنَا، فَقَالَ: "إِنِّي خَشِيتُ، أَوْ كَرِهْتُ، أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمُ الْوِتْرُ

Artinya: "Jabir bin Abdullah berkata Rasulullah sholat bersama kami di bulan Ramadan dengan 8 rakaat dan berwitir, besoknya kami berkumpul di masjid dan menunggu beliau akan tetapi beliau tidak datang hingga masuk Subuh. Kemudian kami bertamu kepada beliau dan bertanya wahai Rasulallah kami berkumpul di masjid dan menunggu anda sholat bersama kami, beliau menjawab “aku takut atau aku tidak suka jika kalian diwajibkan sholat Witir”.

Juga riwayat Imam Bukhari no. 1909 dan lainnya dari Abi Salamah bin Abdurrahman berikut:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ:أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رضي الله عنها: كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي رَمَضَانَ؟. فَقَالَتْ: مَا كَانَ ‌يَزِيدُ ‌فِي ‌رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ؟. قَالَ: (يَا عَائِشَةُ، إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي)

Artinya: "Abu Salmah bin Abdurrahman bertanya kepada Aisyah bagaimana sholat Rasulullah ketika Ramadan. Aisyah menjawab: “beliau tidak menambah sholat baik di Ramadan atau lainnya kecuali 11 rakaat, beliau sholat 4 rakaat jangan tanyakan kualitas dan durasinya, kemudian 4 rakaat dengan kualitas dan durasi yang sama, kemudian 3 rakaat, Aisyah bertanya “Wahai Rasulullah apakah engkau tidur sebelum berwitir?, beliau menjawab: “hai Aisyah sesungguhnya kedua mataku tertidur sedangkan hatiku terjaga”.

Menurut Mbah Fadhol, hadits-hadit tersebut tidak menutup pintu kritik terhadap kredibilitas sanadnya antara satu sama lain, dan juga adanya kontradiksi makna satu sama lain. Ketika terjadi kontradiksi dalil, maka dalil-dalil itu memerlukan dalil lain untuk menemukan titik temunya.

Hadits Ibnu Abbas diklaim dha’if oleh Imam Baihaqi dan lainnya dan juga kontradiksi dengan hadits lainnya. Hadits Jabir dinilai subjektif karena menurut Syekh Zarqani, Jabir menyaksikan sholat itu di hari kedua dan yang dia saksikan hanya 8 rakaat dari sholat Rasulullah. Tidak menutup kemungkinan ada riwayat lain yang lebih dari itu.

Hadits Aisyah menurut Mbah Fadhol lebih diinterpretasikan sebagai sholat Witir dengan perbandingan banyak hadits yang beliau sebutkan tentang jumlah rakaat sholat Witir yang dilakukan oleh Rasulllah. Terlebih redaksi hadits Aisyah secara eksplisit menyebut “baik di Ramadan atau lainnya” secara jelas menunjukkan kebiasaan Rasulullah setiap malam yang tidak hanya khusus di bulan Ramadan. Ini sangat cocok jika diartikan sebagai sholat Witir.

Mbah Fadhol menilai dalil-dalil itu tidak bisa digunakan untuk menentukan jumlah rakaat sholat Tarawih secara pasti. Sebab, terjadi kontradiksi satu sama lain. Untuk itu menurut beliau, perlu adanya konfersi dalil dari hadits menuju ke ijma’, yaitu konsensus masyarakat Muslim era kekhalifahan Umar bin Khatab dengan 20 rakaat.

Oleh karena itu, sholat Tarawih 8 rakaat menurut Mbah Fadhol merupakan pembelotan dari konsensus Khulafaur Rasyidin. 

Tarawih 20 rakaat ini selain sebagai ijma’ Khulafaur Rasyidin juga merupakan sebuah Ijma Sukuti menurut sebagian ulama ushul fiqih. Sebab pada era itu, para sahabat yang lain tidak berkomentar dan tidak menentang sama sekali atas inisiatif Khalifah Umar untuk mengumpulkan mereka di masjid dengan berjamaah. Jika saja hal ini salah dan tidak sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah, maka tidak mungkin mereka diam dan menerima kebijakan Umar tersebut.

Perlu diketahui juga bahwa sholat Tarawih 20 rakaat bukan merupakan inovasi Khalifah Umar bin Khattab sebagaimana yang dituduhkan oleh sebagian oknum Salafi-Wahabi. Mbah Fadhal secara jelas membahas hal ini dalam bab kedua. Beliau mengatakan bahwa Umar hanya berinisiatif mengumpulkan masyarakat Madinah dalam satu jamaah di masjid dengan satu imam yang bacaanya baik dan menunjuk Ubai bin Ka’ab sebagai Imam.

Kitab ini selesai ditulis pada Selasa tanggal 24 Ramadan tahun 1382 Hijriyah menepati 26 Januari 1963 Masehi. Kitab ini banyak dikaji oleh masyarakat Muslim Indonesia khususnya Nahdliyyin terutama menjelang atau ketika Ramadan. Kitab ini sudah banyak memberikan jawaban bagi mereka yang ragu jumlah rakaat sholat Tarawih yakni 20 rakaat. Wallahu a'lam bish shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo