Dark
Light
Dark
Light

Zakat Fitrah bagi Perantau: Bayar di Kampung atau di Perantauan?

Zakat Fitrah bagi Perantau: Bayar di Kampung atau di Perantauan?

Arina.id- Merantau untuk mencari penghidupan atau meniti karier di tempat lain merupakan tradisi yang umum di Indonesia. Banyak perantau yang berusaha pulang ke kampung halaman saat Idulfitri untuk merayakan bersama keluarga. Namun, tidak semua memiliki kesempatan untuk mudik. Berbagai faktor, seperti pekerjaan yang belum selesai atau urusan lain yang mendesak, bisa membuat mereka tetap berada di perantauan saat hari raya tiba.

Sebagaimana diketahui, zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu, dengan waktu pembayarannya mulai dari awal Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri. Dalam praktiknya, sering muncul pertanyaan di kalangan perantau, di mana mereka harus menunaikan zakat fitrah? Apakah wajib membayarnya di kampung halaman, atau cukup di tempat mereka merantau?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bahas ketentuan zakat fitrah bagi perantau.

Wajib Zakat di Perantauan

Dalam pandangan ulama mazhab Syafii, pembayaran zakat fitrah harus ditunaikan di daerah tempat orang tersebut tinggal saat matahari terbenam di akhir bulan Ramadan. Sehingga seorang perantau harus membayar zakatnya di tanah rantaunya, bukan di kampung halamannya. Berikut penjelasan Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi dalam Ghayatu Talkhish al-Murad:

(مَسْأَلَةٌ): تَجِبُ زَكَاةُ الْفِطْرِ فِي الْمَوْضِعِ الَّذِي كَانَ الشَّخْصُ فِيهِ عِنْدَ الْغُرُوبِ، فَيَصْرِفُهَا لِمَنْ كَانَ هُنَاكَ مِنَ الْمُسْتَحِقِّينَ، وَإِلَّا نَقَلَهَا إِلَى أَقْرَبِ مَوْضِعٍ إِلَى ذَلِكَ الْمَكَانِ.

Artinya, “(Masalah): Zakat fitrah wajib dikeluarkan di tempat di mana seseorang berada saat matahari terbenam. Oleh karena itu, ia harus menyalurkannya kepada orang-orang yang berhak menerima di tempat tersebut. Jika tidak ada penerima yang berhak di sana, maka zakat fitrah dapat dipindahkan ke tempat terdekat dari lokasi tersebut.” (Abdurrahman, tanpa tahun: 43)

Penjelasan serupa juga bisa kita temukan dari paparan Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzzab berikut:

قَالَ أَصْحَابُنَا: إِذَا كَانَ فِي وَقْتِ وُجُوبِ زَكَاةِ الْفِطْرِ فِي بَلَدٍ وَمَالُهُ فِيهِ، وَجَبَ صَرْفُهَا فِيهِ، فَإِنْ نَقَلَهَا عَنْهُ، كَانَ كَنَقْلِ بَاقِي الزَّكَاوَاتِ، فَفِيهِ الْخِلَافُ وَالتَّفْصِيلُ السَّابِقُ.

Artinya, “Para ulama mazhab kami (mazhab Syafii) berkata: Jika seseorang berada di suatu negeri pada waktu wajibnya zakat fitrah, dan hartanya juga berada di sana, maka wajib menyalurkan zakat fitrah di negeri tersebut. Namun, jika ia memindahkannya ke tempat lain, maka hukumnya seperti memindahkan zakat lainnya, yang dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dan rincian hukum yang telah disebutkan sebelumnya.” (An-Nawawi, tanpa tahun: juz 6, h. 225)

Boleh dengan Ketentuan

Dari kedua referensi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa memindah pembayaran zakat bagi perantau ke kampung halamannya masih menjadi perbedaan pendapat para ulama. Pendapat yang kuat (rajih) tetap tidak membolehkan. Kalaupun boleh memindah pembayaran di daerah lain, hanya berlaku jika jauh jarak daerah tersebut tidak lebih dari 2 marhalah atau sekitar 82 km (masafatul qashr). 

Artinya, jika jarak antara tanah rantau dengan kampung halaman kurang dari 2 marhalah, maka boleh membayar zakat fitrah di kampung halaman. Syekh Sulaiman bin Umar al-Ajili dalam Hasyiyatul Jamal menjelaskan:

مِنْ مُرَاجَعَةِ الثِّقَاتِ مِنْهُمْ أَنَّ النَّقْلَ يَجُوزُ لِدُونِ مَسَافَةِ الْقَصْرِ مُطْلَقًا أَيْ سَوَاءٌ كَانَ الْمَنْقُولُ إلَيْهِ أَحْوَجَ مِنْ أَهْلِ بَلَدِ الزَّكَاةِ أَوْ لَا وَسَوَاءٌ زَكَاةُ الْفِطْرِ وَالنَّقْدِ وَالْمَاشِيَةِ وَالنَّابِتِ، وَأَمَّا نَقْلُهَا إلَى مَا فَوْقَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ فَلَا يَجُوزُ إلَّا إذَا كَانَ الْمَنْقُولُ إلَيْهِ أَحْوَجَ مِنْ أَهْلِ بَلَدِ الزَّكَاةِ وَإِلَّا فَلَا يَجُوزُ.

Artinya, “Berdasarkan pendapat ulama terpercaya, pemindahan zakat diperbolehkan jika jaraknya kurang dari batas yang membolehkan salat qasar, tanpa syarat apa pun. Artinya, baik penerima di tempat tujuan lebih membutuhkan dibandingkan penduduk tempat asal zakat maupun tidak, tetap boleh dipindahkan. Hal ini berlaku untuk semua jenis zakat, baik zakat fitrah, zakat uang, zakat hewan ternak, maupun hasil pertanian.”

“Namun, jika zakat dipindahkan ke tempat yang jaraknya melebihi batas yang membolehkan salat qasar, maka tidak diperbolehkan kecuali jika penerima di tempat tujuan benar-benar lebih membutuhkan dibandingkan penduduk tempat asal zakat. Jika tidak, maka pemindahan zakat tersebut tidak diperbolehkan.” (Sulaiman, tanpa tahun: juz 4, h. 108)

Dalam kondisi jarak antara tanah rantau dan kampung halaman kurang dari 2 marhalah, kita juga masih diperbolehkan untuk tetap meninaikan zakat di tanah rantau jika di perantauan tidak ditemukan mustahiq (golongan yang berhak menerima), ada mustahiq tapi hanya sebagian, atau mustahiq lengkap tapi ada kelebihan harta perolehan zakatnya. Berikut penjelasan Wahbah Az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu dalam Hasyiyatul Jamal:

وَقَالَ الشَّافِعِيَّةُ: الْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ، وَيَجِبُ صَرْفُهَا إِلَى الْأَصْنَافِ فِي الْبَلَدِ الَّذِي فِيهِ الْمَالُ، لِلْحَدِيثِ مُعَاذٍ الْمُتَقَدِّمِ، فَإِنْ لَمْ تُوجَدِ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ الَّذِي وُجِبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ، أَوْ لَمْ يُوجَدْ بَعْضُهُمْ، أَوْ فَضَلَ شَيْءٌ عَنْ بَعْضٍ وُجِدَ مِنْهُمْ، نُقِلَتْ إِلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ لِبَلَدِ الْوُجُوبِ.

Artinya, “Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa pendapat yang lebih kuat adalah larangan memindahkan zakat. Zakat harus disalurkan kepada golongan yang berhak di negeri tempat harta tersebut berada, berdasarkan hadis Mu'adz yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, jika di negeri tempat zakat itu wajib dikeluarkan tidak ditemukan golongan yang berhak menerima, atau hanya sebagian dari mereka yang ada, atau ada kelebihan setelah diberikan kepada mereka yang berhak, maka zakat tersebut boleh dipindahkan ke negeri terdekat dari tempat kewajiban zakat tersebut.” (Az-Zuhaili, 1985: juz 2, h. 892-893)

Kesimpulannya, perantau wajib menunaikan zakat fitrah di tempat ia bermukim saat matahari terbenam pada akhir Ramadan. Ia tidak diperbolehkan mewakilkan pembayaran zakatnya kepada seseorang di kampung halaman, kecuali dalam kondisi tertentu.

Zakat fitrah boleh dibayarkan di kampung halaman jika jarak antara tempat perantauan dan kampung halaman kurang dari dua marhalah (sekitar 82 km). Namun, jika jaraknya mencapai atau melebihi dua marhalah, zakat fitrah tetap dapat ditunaikan di kampung halaman dengan syarat di perantauan tidak ditemukan mustahiq yang berhak menerima zakat, jumlah mustahiq yang ada tidak mencukupi, atau terdapat kelebihan harta zakat setelah disalurkan kepada mustahiq di perantauan.

Dengan demikian, hukum pembayaran zakat fitrah bagi perantau bergantung pada lokasi dan kondisi penerima zakat di tempat tinggalnya. Wallahu a’lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo