Arina.id — Bulan Safar, yang menempati urutan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram, sering kali diselimuti oleh berbagai mitos dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Di sebagian kalangan masyarakat, bulan ini bahkan dianggap membawa kesialan dan penuh mara bahaya. Namun, benarkah demikian? Dari mana asal-usul keyakinan ini, dan bagaimana Islam memposisikannya?
Asal-usul Nama "Safar" dan Tradisi Arab Kuno
Secara etimologis, kata Safar dalam bahasa Arab memiliki banyak makna: suwung atau kosong, penyakit kuning, dan perut kosong alias kondisi lapar. Dalam konteks Arab pra-Islam, Safar dikaitkan dengan fenomena sosial di mana banyak penduduk meninggalkan rumah untuk berdagang atau berperang, sehingga permukiman menjadi kosong atau sunyi (ṣifr). Dalam versi lain, kata ṣufr juga berarti “kuning”, merujuk pada musim panas yang gersang dan dedaunan yang menguning, sebagaimana diungkapkan Husein Nafarin (2021) dalam kajiannya.
Imam Ibnu Katsir, sebagaimana dikutip oleh Ustaz Sunnatullah dalam artikel di NU Online (2023), menyatakan bahwa penamaan Safar erat kaitannya dengan kondisi sosial masyarakat Arab kala itu. “Safar yang memiliki arti ‘sunyi’ sesuai dengan keadaan masyarakat Arab yang sepi karena orang-orang keluar dari rumah untuk berpergian atau berperang,” jelasnya.
Mitos Kesialan dan Tradisi Ramalan
Di masa jahiliyah, sebagian suku Arab mengaitkan Safar dengan bala dan musibah. Dalam tradisi mereka, hari Rabu terakhir di bulan Safar dianggap sebagai hari paling sial dalam setahun, di mana dipercaya sebanyak 320.000 bala diturunkan ke bumi. Tradisi ini bahkan mengakar hingga digunakan untuk meramal nasib.
Sebagaimana dikutip dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur karya Syekh Abdul Hamid al-Quds, dan Fath al-Malik al-Majid oleh al-Dairubi, kepercayaan ini menyebar luas dan terus diulang dalam berbagai tradisi lisan dan tulisan. Bahkan, beberapa kalangan mempercayai bahwa bulan Safar adalah bulan "ular perut" — sebuah metafora untuk rasa lapar ekstrem yang menyakitkan.
Adnani Iskandar, seperti dikutip Husein Nafarin, juga mencatat bahwa sejumlah peristiwa besar seperti hancurnya bendungan Ma'rib di Yaman dan peristiwa racun dalam paha kambing yang hampir menewaskan Nabi Muhammad SAW terjadi pada bulan Safar. Semua ini memperkuat stigma bahwa bulan ini adalah bulan sial.
Pandangan Islam: Mitos atau Fakta?
Namun, seluruh kepercayaan itu secara tegas dibantah oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari disebutkan:
لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر“Tidak ada penularan penyakit (‘adwa), tidak ada pertanda sial (thiyarah), tidak ada kepercayaan pada burung hantu (hammah), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari)
Hadis ini secara eksplisit menolak anggapan bahwa Safar membawa sial, sekaligus membantah seluruh praktik khurafat yang berkembang di masyarakat kala itu.
Menurut Muhammad Khoirul Huda dalam Ilmu Matan Hadis, Nabi sedang mengkritik keras kepercayaan jahiliyah yang mengaitkan sial dan bala dengan waktu tertentu di luar kehendak dan takdir Allah.
H.A. Zahri dalam buku Pokok-Pokok Akidah yang Benar bahkan menyebut bahwa anggapan mengenai Safar sebagai bulan sial adalah bagian dari mitos atau khurafat — keyakinan yang tidak memiliki dasar dalam agama.
Relevansi untuk Umat Islam Saat Ini
Meski telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu, kepercayaan terhadap “kesialan Safar” masih dijumpai hingga hari ini. Praktik-praktik seperti menghindari akad nikah, bepergian jauh, atau memulai usaha di bulan ini, masih dianggap tabu oleh sebagian kalangan.
Padahal, bulan Safar, seperti bulan-bulan Hijriyah lainnya, adalah waktu yang netral dan tidak memiliki kekuatan metafisik tersendiri. Islam mengajarkan bahwa segala takdir baik maupun buruk datang dari Allah semata, bukan dari hitungan hari, angka, ataupun musim tertentu.
Keyakinan bahwa bulan Safar membawa sial merupakan warisan budaya Arab pra-Islam yang tidak memiliki dasar teologis dalam Islam. Sebagai umat yang beriman, sudah sepatutnya kita menimbang setiap keyakinan dengan dasar ilmu, nash, dan ajaran Nabi. Bulan Safar bukanlah bulan sial — ia adalah waktu biasa yang juga diberkahi, sejauh mana manusia memanfaatkannya untuk amal kebajikan.
“Setiap hari, setiap bulan, adalah waktu terbaik untuk beramal baik — bukan untuk percaya pada takhayul.”
Editor: Muhammad Zunus


