Arina.id - Bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah, sering kali disalahpahami sebagai bulan yang penuh kesialan atau musibah oleh sebagian masyarakat. Namun, di banyak daerah di Indonesia, termasuk Indramayu, Jawa Barat, bulan Safar justru menjadi waktu untuk mempererat tali silaturahmi dan melestarikan tradisi luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu tradisi unik yang sangat khas di Indramayu adalah tradisi Cimplo. Cimplo adalah sebuah tradisi yang dilakukan masyarakat Indramayu, khususnya di pedesaan, pada bulan Safar. Inti dari tradisi ini adalah membuat dan membagikan kue Cimplo, sejenis penganan dari tepung beras yang dikukus dan sering kali disajikan dengan kuah gula merah atau parutan kelapa. Namun, Cimplo bukan sekadar penganan biasa; ia adalah simbol dari filosofi yang lebih dalam.
Memahami Bulan Safar: Antara Mitos dan Syariat
Dalam tradisi Arab klasik, alasan dibalik penamaan bulan Safar ialah karena di bulan tersebut suasana kota menjadi “sunyi” dan “senyap” akibat banyak dari warga kota yang bepergian baik untuk perang atau berdagang.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, j. IV, h. 146 disebutkan:
صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ
Artinya: “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.”
Sementara itu, secara syariat Islam, tidak ada satu pun bulan yang memiliki keistimewaan khusus dalam membawa musibah atau kesialan. Semua hari dan bulan adalah sama di hadapan Allah SWT. Anggapan Safar sebagai bulan nahas (sial) berakar dari mitos-mitos pra-Islam yang masih melekat di sebagian masyarakat.
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak dan takdir Allah, bukan karena pengaruh waktu atau bulan tertentu.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR al-Bukhari)
Meskipun demikian, adanya keyakinan sebagian masyarakat terhadap "kesialan" Safar telah mendorong munculnya berbagai tradisi tolak bala atau doa bersama. Di Indramayu, tradisi ini diwujudkan dalam bentuk Cimplo, yang sebenarnya lebih fokus pada aspek kebersamaan dan rasa syukur.
Tradisi Cimplo: Perpaduan Doa, Sedekah, dan Kebersamaan
Konon, tradisi Cimplo ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur dan doa tolak bala agar terhindar dari segala musibah. Namun, makna yang paling menonjol adalah kebersamaan dan solidaritas. Proses pembuatan Cimplo sering kali melibatkan banyak orang, mulai dari tetangga hingga kerabat, yang bahu-membahu menyiapkan adonan dan mengukusnya.
Setelah matang, Cimplo tidak langsung disantap sendiri. Sebagian besar Cimplo justru dibagikan kepada tetangga, sanak saudara, atau fakir miskin. Inilah esensi utama dari tradisi Cimplo, yakni sedekah makanan dan mempererat silaturahmi. Ketika Cimplo dibagikan, seringkali diiringi dengan doa-doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan.
Tradisi Cimplo biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Safar, biasanya jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar yang dikenal sebagai “Rabu Wekasan”. Pada hari tersebut, suasana di kampung-kampung Indramayu akan ramai dengan aroma Cimplo yang khas. Anak-anak dan orang dewasa dengan riang gembira membawa Cimplo dari rumah ke rumah untuk dibagikan.
Beberapa ciri khas pelaksanaan tradisi Cimplo ialah sikap gotong royong, yakni dengan pembuatan Cimplo sering dilakukan secara bersama-sama. Kemudian adanya sedekah dengan jalan pembagian Cimplo kepada sesama adalah inti dari tradisi ini. Terkadang, tradisi ini juga diiringi dengan doa-doa keselamatan di mushala atau masjid setempat, sekaligus sebagai simbol rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Tradisi Cimplo di Indramayu adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal mampu menyelaraskan keyakinan dan kebiasaan masyarakat dengan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kepedulian sosial, dan rasa syukur. Meskipun berakar pada anggapan Safar sebagai bulan "musibah", tradisi ini telah bertransformasi menjadi sarana positif untuk mempererat jalinan sosial.
Di tengah gempuran modernisasi, tradisi Cimplo tetap lestari dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Ini adalah bukti bahwa kekayaan budaya suatu daerah tidak hanya terletak pada benda-benda bersejarah, tetapi juga pada praktik-praktik hidup yang dipegang teguh oleh masyarakatnya.
Tradisi Cimplo bukan hanya sekadar makan-makan, melainkan sebuah narasi tentang solidaritas, doa, dan indahnya kebersamaan di tanah Indramayu. Wallahu a'lam.
Editor: Muhammad Faizin


