Dark
Light
Dark
Light

Mengapa Puasa Diwajibkan di Bulan Ramadhan? Ini Hikmahnya

Mengapa Puasa Diwajibkan di Bulan Ramadhan? Ini Hikmahnya

Arina.id - Salah satu kewajiban utama umat Islam adalah menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Di luar Ramadhan, puasa pada dasarnya berhukum sunnah, kecuali puasa tertentu seperti nadzar, kifarat, dan qadha Ramadhan yang menjadi wajib karena sebab tertentu.

Di balik kewajiban tersebut, tersimpan banyak hikmah yang penting untuk diketahui. Salah satunya, puasa Ramadhan menjadi simbol persatuan umat Islam di seluruh dunia.

Pada bulan yang penuh berkah ini, umat Islam dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya menjalankan ritual yang sama yakni menahan diri dari makan dan minum di siang hari, berbuka saat matahari terbenam, melaksanakan sholat Tarawih di malam hari, serta bersantap sahur menjelang fajar.

Perbedaan geografis tidak menghapus keseragaman ibadah, seluruhnya terikat dalam satu komando syariat yang sama.

Dalam kitab Hikmatu Tasyri’ wa Falsafatuhu, Ali Ahmad al-Jurjawi menjelaskan bahwa Allah-lah yang memilih bulan Ramadhan sebagai waktu diwajibkannya puasa. Pemilihan ini bukan tanpa hikmah.

Dalam sejarahnya, bangsa Arab telah terbiasa menggunakan sistem kalender qamariyah (berdasarkan peredaran bulan) untuk menentukan pergantian bulan melalui rukyatul hilal. Dengan demikian, penetapan Ramadhan sebagai bulan puasa memberi kemudahan bagi umat Islam generasi awal dalam menentukan waktunya.

Lebih dari itu, jika waktu puasa diserahkan kepada pilihan manusia, tentu akan muncul perbedaan yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Setiap wilayah mungkin akan memilih waktu yang dianggap paling ringan atau sesuai dengan kondisi masing-masing.

Karena itu, Allah menetapkan satu bulan tertentu yakni Ramadhan, sebagai waktu baku pelaksanaan puasa agar umat Islam merasakan kesatuan waktu, kesatuan ibadah, dan kesatuan rasa.

Ramadhan juga menjadi bulan paling mulia karena di dalamnya terdapat peristiwa agung, yaitu turunnya kitab suci Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW (nuzulul qur’an). Selain itu, di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni Lailatul Qadar.

Kemuliaan ini menjadikan Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah fisik, tetapi juga momentum spiritual yang menghubungkan langit dan bumi.

Syekh Al-Jurjawi turut menjelaskan bahwa puasa merupakan wasilah untuk meraih kesehatan lahir dan batin. Secara spiritual, puasa mengantarkan seorang Muslim menuju derajat takwa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Secara jasmani, puasa memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat, membantu proses detoksifikasi alami tubuh, serta melatih kedisiplinan pola makan.

Dengan demikian, puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana pembinaan diri dan perekat persatuan umat. Di bulan inilah umat Islam belajar menahan diri, memperkuat solidaritas, serta menyadari bahwa mereka adalah satu tubuh yang diikat oleh iman dan syariat yang sama. Wallahu a‘lam bish-shawab.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo