Dark
Light
Dark
Light

Pilih Langsung Puasa Syawal atau Nikmati Suguhan Lebaran?

Pilih Langsung Puasa Syawal atau Nikmati Suguhan Lebaran?

Arina.id - Bulan Ramadan telah berlalu, namun beberapa amalan penting dalam Ramadan seperti berpuasa, melakukan sholat Tahajud, Witir, tadarus, dan menjaga diri dari perbuatan maksiat sebaiknya tetap dijaga. Untuk itu, selepas hari raya Idul Fitri, dalam beberapa redaksi hadits umat Islam dianjurkan untuk berpuasa Syawal selama enam hari. 

Dalam salah satu hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ  أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ .

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Ansari, bahwa Rasulullah bersabda: Barangsiapa puasa Ramadan, kemudian ia mengikutkan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim: 3/169).

Anjuran ini cukup beralasan, karena kebiasaan berpuasa ketika di bulan Ramadan dapat dilanjutkan kembali di bulan Syawal. Namun mengingat masih dalam suasana hari raya, biasanya agak kesulitan untuk langsung mempraktekkan puasa Syawal, sebab banyak suguhan makanan dan minuman yang tidak elok untuk ditolak.

Dari sini muncul pertanyaan bagaimana sikap yang terbaik? Apakah sebaiknya langsung berpuasa Syawal atau memisahkan bahkan menunda puasa Syawal di akhir bulan? Misal, berpuasa tanggal 2 hingga tanggal 7 Syawal, atau berpuasa tanggal 4, lalu tanggal 5 tidak berpuasa, dan tanggal 6 berpuasa lagi, atau tanggal 20 Syawal ke atas baru berpuasa?

Dalam Syarah Muslim karya An-Nawawi 8/56:

قَالَ أَصْحَابُنَا وَالْأَفْضَلُ أَنْ تُصَامَ السِّتَّةُ مُتَوَالِيَةً عَقِبَ يَوْمِ الْفِطْرِ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عَنْ أَوَائِلِ شَوَّالٍ إِلَى أَوَاخِرِهِ حَصَلَتْ فَضِيلَةُ الْمُتَابَعَةِ لِأَنَّهُ يَصْدُقُ أَنَّهُ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ 

Artinya: “Para ulama Syafiiyah berkata, paling utama adalah berpuasa Syawal secara berurutan (mutawaliyat) selepas hari raya Idul Fitri. Apabila puasa Syawal dipisahkan atau diakhirkan hingga hari-hari akhir Syawal, maka tetap memperoleh keutamaan puasa sunah Syawal secara berurutan. Sebab masih kategori menyertakan puasa Syawal secara berurutan”

Begitu pula dengan pendapat Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, ia menegaskan:

ويجوز صيامها متتابعة ومتفرقة في أول شوال أو وسطه أو آخره، قال ابن قدامة في المغني: ( فلا فرق بين كونها متتابعة أو متفرقة في أول الشهر أو في آخره لأن الحديث ورد بها مطلقاً من غير تقييد، ولأن فضيلتها لكونها تصير مع الشهر ستة وثلاثين يوماً، والحسنة بعشر أمثالها فيكون ذلك كثلاثمائة وستين يوماً

Artinya: “Boleh puasa enam hari bulan Syawal secara langsung berurutan, dipisah di awal Syawal, pertengahan atau akhir. Ibnu Qudamah berkata: Tidak ada perbedaan antara berurutan, dipisah, di awal atau di akhir Syawal. Karena redaksi hadits bermakna mutlak tanpa terikat khusus, dan dikarenakan keutamaan puasa Syawal itu jatuhnya tetap menjadi enam hari puasa sunah setelah tiga puluh hari puasa Ramadan. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, dan kesemuanya terhitung seperti 360 hari."

Walhasil, kesimpulan dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa praktik puasa Syawal bisa dilakukan dengan tiga cara, (1) yaitu dengan cara terus-menerus, misal dari tanggal 2 hingga tanggal 7 Syawal tanpa henti; dan (2) dengan cara terpisah, misal tanggal 4 Syawal puasa, esoknya tidak, dan di tanggal 6 puasa Syawal kembali puasa, (3) dengan cara mengakhirkan, misal dikarenakan masih suasana lebaran bahkan ada tradisi kupatan, maka boleh puasa Syawal diakhirkan pada tanggal 20 Syawal ke atas.

Bahkan menurut Syekh Abul Abbas Qurtubi, salah satu ulama Malikiyah dalam kitab Al-Mufhim juz 3/238 disebutkan:

وقوله: «ثم أتبعه ستًّا من شوَّال»؛ ليس فيه دليل على أنها تكون مُتَّصِلة بيوم الفطر، بل لو أوقعها في وسط شوَّال، أو آخره، لصلح تناول هذا اللفظ له؛ لأن «ثُمَّ» للتَّراخي، وكُلُّ صوم يقع في شوَّال فهو مُتْبِعٌ لرمضان، وإن كان هنالك مهلة 

Artinya: “Maksud kemudian menyertakan puasa enam hari bulan Syawal itu bukanlah dalil kesunahan puasa secara langsung berurutan setelah hari idul fitri, bahkan kesunahan itu terletak di pertengahan Syawal atau akhir Syawal. Sebab kata "tsumma" itu maknanya untuk menyusul kemudian (tarakhiy), dan setiap puasa sunnah yang dilakukan bulan Syawal otomatis ikut berurutan dengan bulan Ramadan, meskipun ada jeda.”

Dengan demikian, puasa Syawal boleh dilakukan dengan cara apapun, baik terus-menerus maupun terpisah-pisah, atau diakhirkan, sepanjang semuanya masih dilakukan di dalam bulan Syawal. Ketiga cara ini sama-sama mendapatkan kesunnahan puasa pada bulan tersebut. 

Hanya saja, dikarenakan masih suasana lebaran yang sarat dengan suguhan makanan, silaturahim, makan minum bersama keluarga, maka jika merujuk pendapat Syekh Abul Abbas Al-Qurtubi, berpuasa enam hari bulan Syawal itu sebaiknya diletakkan di tengah atau  akhir-akhir bulan Syawal.


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo