Arina.id- Salah satu hari yang dimuliakan dalam Islam adalah tanggal 10 Muharram atau disebut juga hari Asyura. Pada momen tersebut terdapat sejumlah anjuran ibadah untuk meraih keutamaannya. Hanya saja, sering beredar di media sosial terkait 12 amalan yang dikaitkan dengan Asyura. Ada juga yang menyebut hanya 10 amalan. Padahal jika diteliti, amalan-amalan tersebut memiliki landasan dalil yang bermasalah.
12 amalan itu adalah berpuasa, shalat sunah, silaturahmi, mengunjungi ulama, menjenguk orang sakit, bercelak, mengusap kepala anak yatim, bersedekah, mandi sunnah, melapangkan nafkah keluarga, memotong kuku, dan membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali.
Sebagian ulama merangkum amalan-amalan tersebut dalam syair berikut:
فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ عَشْرٌ يَتَّصِلُ * بِهَا اثْنَانِ لَهَا فَضْلٌ نُقِلَ صُمْ صَلِّ صِلْ زُرْ عَالِمًا عُدْ وَاكْتَحِلْ * رَأْسَ الْيَتِيمِ امْسَحْ، تَصَدَّقْ وَاغْتَسِلْ وَسِّعْ عَلَى الْعِيَالِ قَلِّمْ ظُفْرًا * وَسُورَةَ الْإِخْلَاصِ أَلْفًا تَقْرَأَ
Artinya: "Di hari ‘Asyura ada sepuluh amalan utama, ditambah dua lagi, keutamaannya tersampaikan dalam riwayat. Berpuasalah, sholatlah, sambung silaturahmi, kunjungi ulama, jenguk orang sakit, bercelaklah. Usap kepala anak yatim, bersedekahlah, dan mandilah. Lapangkan nafkah kepada keluarga, potong kukumu, dan bacalah Surah al-Ikhlas seribu kali."
Amalan ini juga disebutkan oleh Syekh Hitthab ar-Ru'aini dalam Mawahibul Jalil Syarh Mukhtashar Khalil berikut:
وَقَدْ ذَكَرُوا فِيمَا يُفْعَلُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ خَصْلَةً؛ وَهِيَ: الصَّلَاةُ، وَالصَّوْمُ، وَالصَّدَقَةُ، وَالِاغْتِسَالُ، وَالِاكْتِحَالُ، وَزِيَارَةُ عَالِمٍ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ، وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ، وَقِرَاءَةُ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ أَلْفَ مَرَّةٍ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ.
Artinya: "Disebutkan bahwa ada 12 amalan yang dianjurkan dilakukan pada hari ‘Asyura’, yaitu: sholat, puasa, bersedekah, mandi, bercelak, mengunjungi ulama, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, melapangkan nafkah kepada keluarga, memotong kuku, membaca Surah al-Ikhlāṣ seribu kali, dan menyambung tali silaturahmi." (Ar-Ru'aini, 2007: juz 3, h. 317)
Anjuran 12 amalan ini sebenarnya banyak mendapat kritik dari para ulama. Bukan karena amalan-amalan tersebut buruk, akan tetapi dengan melabelinya sebagai amalan istimewa di hari Asyura. Pasalnya dalil yang menjadi landasannya bermasalah. Inilah yang membuat sebagian ulama tidak setuju.
Hal ini di antaranya bisa kita lihat dari komentar Syekh Abu Bakar Syata dalam I'anatuth Thalibin berikut:
قَالَ الْعَلَّامَةُ الْأَجْهُورِيُّ: وَحَاصِلُهُ أَنَّ مَا وَرَدَ مِنْ فِعْلِ عَشْرِ خِصَالٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَصِحَّ فِيهَا إِلَّا حَدِيثُ الصِّيَامِ وَالتَّوْسِعَةِ عَلَى الْعِيَالِ، وَأَمَّا بَاقِي الْخِصَالِ الثَّمَانِيَةِ: فَمِنْهَا مَا هُوَ ضَعِيفٌ، وَمِنْهَا مَا هُوَ مُنْكَرٌ مَوْضُوعٌ. اهـ
Artinya: "Al-‘Allamah al-Ajhuri berkata: "Kesimpulannya, dari sepuluh amalan yang disebutkan sebagai anjuran pada hari ‘Asyura’, tidak ada yang sahih kecuali hadits tentang puasa dan memperluas nafkah kepada keluarga. Adapun delapan amalan lainnya, sebagian bersifat lemah (dha‘īf), dan sebagian lagi bahkan munkar serta maudhū‘ (palsu)."
Dengan mengutip Syekh Al-Ajhuri, Syekh Abu Bakar Syata secara tegas menyebut 12 amalan (meski disebutkan cuma 10 amalan) yang dikaitkan secara khusus dengan hari Asyura tidak memiliki landasan dalil yang kuat. Sebagian ada yang berlandaskan hadits dha'if, bahkan ada yang berasal dari hadits mungkar atau maudhu'.
Dari sekian amalan tersebut, ia hanya setuju dengan dua di antaranya, yaitu puasa sunnah dan melapangkan nafkah untuk keluarga.
Terkait landasan hadits anjuran puasa Asyura, sumbernya jelas karena terdapat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abbas RA, beliau berkata:
قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى الله بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Artinya: “Nabi SAW tiba di Madinah, maka beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari ‘Asyura. Beliau bertanya kepada mereka: “Ada apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini.” Nabi SAW bersabda, “Saya lebih layak dengan Nabi Musa dibandingkan kalian.” Maka beliau berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sementara hadits yang menjadi dasar anjuran melapangkan nafkah untuk keluarga pada hari Asyura adalah berikut:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ
Artinya: "Dari Jabir bin ‘Abdillah raḍiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melapangkan (nafkah) untuk dirinya dan keluarganya pada hari ‘Āsyūrā’, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.”
Komentar Syekh Abu Bakar Syata juga diperkuat oleh Imam Asy-Syarwani dalam Hasyiyah Asy-Syarwani 'ala Tuhfatil Muhtaj berikut:
وَأَمَّا مَا شَاعَ فِيهِ مِنْ الصَّلَاةِ وَالْإِنْفَاقِ وَالْخِضَابِ وَالِادِّهَانِ وَالِاكْتِحَالِ وَطَبْخِ الْحُبُوبِ وَغَيْرِ ذَلِكَ فَقَالَ شَارِحٌ مَوْضُوعٌ مُفْتَرًى قَالُوا : الِاكْتِحَالُ فِيهِ بِدْعَةٌ ابْتَدَعَهَا قَتَلَةُ الْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اهـ.
Artinya: "Adapun berbagai hal yang tersebar terkait hari ‘Asyura’, seperti sholat khusus, mengeluarkan nafkah, memakai pacar (ḥina’), memakai minyak rambut, bercelak, memasak biji-bijian, dan selainnya—seorang pensyarah berkata bahwa semua itu adalah hadits-hadits palsu dan buatan. Mereka (ulama) mengatakan: ‘Bercelak pada hari itu adalah bid‘ah yang pertama kali dilakukan oleh para pembunuh al-Husain RA” (Asy-Syarwani, tanpa tahun: juz 3, h. 455)
Sebagai penutup, penting ditegaskan bahwa semangat beribadah di hari ‘Asyura’ tetap patut diapresiasi, namun harus dilandasi oleh pemahaman yang sahih. Menisbatkan keutamaan ibadah pada waktu tertentu tanpa dalil yang kuat justru bisa menyesatkan umat. Oleh karena itu, mencukupkan diri dengan amalan yang memiliki dasar yang jelas, seperti puasa dan melapangkan nafkah, adalah pilihan yang lebih aman dan bernilai. Wallahu a'lam.
Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik
Editor: Muhammad Faizin


