Arina.id - Di era yang canggih seperti saat ini, pemberitaan terkait praktik perdukunan, baik yang menggunakan metode sulap maupun menggunakan ilmu sihir, masih sering kita dengar. Ironisnya, semua praktik itu bermotifkan untuk mengeruk keuntungan materi dan sebagian berkedok atas nama agama.
Akibatnya, permasalahan satu persatu mencuat ke permukaan dan menyebabkan keresahan di tengah masyarakat. Terutama ketika praktik ini dikaitkan dengan agama, sehingga praktik demikian menistakan agama. Masyarakat pun dibuat bingung membedakan antara ulama hikmah, dukun, dan tukang sulap.
Perlu dipahami bahwa ulama hikmah adalah mereka yang memilki kelebihan (khariq lil adat) yang timbul dari ketundukannya pada agama, dan kelebihan ini disebut karamah. Ciri khas mereka adalah tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat agama dan memiliki keilmuan agama yang mumpuni disertai laku spiritual yang jernih.
Sementara tukang sulap adalah mereka yang menguasai beberapa trik, seolah memiliki kelebihan atau keistimewaan. Padahal hanya tipuan belaka. Misalkan bisa mematahkan besi, padahal besi itu sudah direkayasa sedemikian rupa agar mudah patah.
Sedangkan dukun adalah mereka yang memiliki kelebihan (khariq lil adah) yang timbul dari penyimpangannya dari agama, dan dikenal dengan ilmu sihir dan meminta bantuan jin. Tukang sulap dan dukun memiliki kemiripan, karena sama-sama menggunakan trik.
Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin disebutkan:
.خوارق العادة على أربعة أقسام : المعجزة المقرونة بدعوى النبوة المعجوز عن معارضتها الحاصلة بغير اكتساب وتعلم
Artinya: "Perkara luar biasa itu ada empat; Pertama, mukjizat, yaitu sesuatu yang luar biasa disertai pengakuan menjadi Nabi dan mampu mengalahkan para penentangnya yang didapatkan tanpa berusaha dan belajar."
والكرامة وهي ما تظهر على يد كامل المتابعة لنبيه من غير تعلم ومباشرة أعمال مخصوصة
Artinya: "Karamah yaitu sesuatu yang luar biasa yang dimiliki oleh pengikut ajaran Nabi Muhammad (orang saleh) tanpa belajar dan amalan khusus."
وتنقسم إلى ما هو إرهاص وهو ما يظهر على يد النبي قبل دعوى النبوة، و ما هو معونة وهو ما يظهر على يد المؤمن الذي لم يفسق ولم يغتر به
Artinya: "Karamah terbagi menjadi dua, yakni: Irhas yakni sesuatu yang luar biasa sebelum diangkatnya Nabi Muhammad. Dan maunah yakni sesuatu yang luar biasa dari seorang mukmin yang tidak maksiat. (Biasanya ini dimiliki oleh orang shaleh, ulama khas, waliyullah.)"
والإستدراج وهو ما يظهر على يد الفاسق المغتر
Artinya: "Istidraj yaitu sesuatu yang luar biasa yang muncul dari orang fasik. Istidraj adalah kelebihan yang bersifat jebakan. "
والسحر وهو ما يحصل بتعلم ومباشرة سبب على يد فاسق أو كافر كالشعوذة وهي خفة اليد بالأعمال وحمل الحيات ولدغها له واللعب بالنار من غير تأثير والطلاسم والتعزيمات المحرمة واستخدام الجان وغير ذلك.
Artinya: "Sihir, yaitu sesuatu yang luar biasa dengan cara belajar dan menggunakan perantara yang dilakukan oleh orang fasik dan orang kafir seperti ilmu sihir, sulap, pertunjukan memegang ular dan menggigitnya, bermain api, menggunakan azimat yang diharamkan." (Bughyah Mustarsyidin: 298-299)
Biasanya para dukun maupun tukang sulap banyak yang mempertontonkan aksinya, kemudian disiarkan di media massa dan layar kaca yang disaksikan oleh banyak penonton.
Sayangnya, sebagian orang yang awam dalam urusan agama, buru-buru menilai sesuatu yang luar biasa itu sebagai karamah, padahal itu adalah sihir dan penipuan yang amat nyata.
Dari sinilah kemudian karamah dan sihir menjadi bias, karena ada kemiripan dari sisi sama-sama luar biasa, sehingga antara ulama ahli hikmah dengan dukun sulit dibedakan oleh sebagian masyarakat awam.
Imam Syafi'i berpesan:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ فَلَا تَغْتَرُّوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
Artinya: "Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di atas udara, maka janganlah terpedaya olehnya hingga kalian tinjau ulang menurut Al-Qur’an dan Sunnah." (Tabaqatus Syafi’iyin: 1/32).
Jadi, sehebat apa pun kejadian luar biasa yang dipertontonkan para dukun tidak bisa dikatakan sebagai karamah dan pelakunya tidak bisa dikatakan sebagai waliyullah. Sebab banyak perbedaan antara sihir dan perdukunan dengan karamah.
Sihir dan perdukunan terjadi dengan bantuan setan, begitupula sulap terjadi berkat bantuan trik dan alat canggih. Semua ini berpotensi menyesatkan. Berbeda dengan karamah dan maunah yang merupakan anugerah dari Allah.
Oleh karena itu cara membedakannya harus diukur dengan parameter syari’at, tasawuf, tauhid, dan laku spiritual seperti wirid, dan dzikir ibadahnya. Selain itu perlu ditinjau ulang amalan pelakunya, jika muncul dari orang saleh yang taat pada ajaran agama, maka termasuk karamah dan maunah. Jika muncul dari perbuatan orang fasik dan maksiat, maka termasuk istidraj atau sihir.
Walhasil, karamah itu dari orang saleh yang konsisten dalam beragama yang dikenal sebagai kiai atau ulama ahli hikmah. Sedangkan sihir dan perdukunan itu dilakukan orang fasik, yang melakukan pelanggaran agama yang menjerumus pada kekufuran dan kemaksiatan. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


