Allah swt menurunkan para rasul dan nabi dengan karakteristik masing-masing serta memiliki aturan yang berbeda. Antar umat satu dengan lainnya ini berbeda-beda pensyariatannya, sebegitu juga dengan sanksinya.
Hal ini telah disitir oleh Allah Swt dalam QS. Al-Maidah ayat 48;
وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ عَمَّا جَاۤءَكَ مِنَ الْحَقِّۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
Artinya: "Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan".
Meskipun demikian, inti dari syariatnya tetap sama. Yakni menyembah Allah swt. Adapun terkait sanksi pada umat terdahulu, ini mungkin tidak terbayangkan oleh kita. Karena sanksinya sangat berat-berat.
Syekh Al-Qulyubi menyebutkan:
الحكاية الرابعة عشرة: في أنواع الحكم حكي : أنه كان الحكم في زمن إبراهيم الخليل ﷺ للنار، فالمحق يدخل يده فيها فلا تحرقه، والمبطل إذا أدخل يده فيها أحرقته . وكان الحكم في زمن موسى عليه السلام للعصا فتسكن للمحق وتضطرب للمبطل، وكان الحكم في زمن سليمان عليه السلام للريح تسكن للمحق وترفع المبطل ثم تسقطه على الأرض. وكان الحكم في زمن ذي القرنين للماء إذا جلس عليه المحق جمد أو المبطل ذاب . وكان الحكم في زمن داود عليه السلام للسلسلة المعلقة، فالمحق تصل يده إليها بخلاف المبطل.
Diceritakan bahwa hukum pada zaman Nabi Ibrāhīm Al-Khalīl 'alaih-is salām adalah dengan api. Orang yang benar yaitu apabila tangannya dimasukkan ke api maka tidak terbakar. Sedangkan orang yang salah adalah jika tangannya dimasukkan ke api maka terbakar.
Pada zaman Nabi Mūsā 'alaih-is salām, hukum ditetapkan dengan tongkat. Artinya, tongkat akan diam dan tidak bergerak bagi orang yang benar. Sedangkan terhadap orang yang salah, maka tongkat akan bergerak-gerak dan tidak tenang.
Hukum pada masa Nabi Sulaimān 'alaih-is salām ditetapkan dengan menggunakan angin. Bagi orang yang benar, angin akan berhembus dengan tenang. Sedangkan bagi orang yang salah, angin bertiup dengan kencang, menerbangkan, dan menjatuhkannya ke tanah.
Hukum pada masa raja Dzul Qarnayn ditegakkan dengan menggunakan air. Bagi orang yang benar, air menjadi keras saat ia duduk di atasnya. Dan bagi orang yang salah, air akan mencair, pada waktu ia duduk di atasnya.
Pada masa Nabi Dāwud 'alaih-is salām, hukum ditegakkan dengan menggunakan rantai yang digantungkan. Apabila seseorang benar, maka ia dapat meraihnya. Namun apabila ia salah, maka ia tidak mampu menjangkau rantai tersebut".
Sedangkan hukuman tersebut tidak berlaku di zamannya Nabi kita Muhammad saw. Dijelaskan;
وأما في زمن محمد ﷺ فالحكم له باليمين أو إقامة البيئة، قال الله تعالى : يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ [البقرة: الآية 185]. وروي عن الترمذي : إن اليسر اسم للجنة لأن جميع العسر فيها، اسم للنار لأن جميع اليسر فيها، والعسر وقيل غير ذلك.
Artinya: "Hukum pada masa Nabi Muhammad ﷺ ditegakkan berdasarkan sumpah atau dengan saksi. Hal ini berdasarkan firman Allāh Swt yang artinya "Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (Al-Baqarah 185). Dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidziy, disebutkan bahwa sesungguhnya Al-Yusr adalah nama surga, kerena semua kemudahan ada disana. Dan Al-'Usr adalah nama neraka, kerena semua kesulitan ada disana dan menurut suatu pendapat bukan demikian."
Dengan demikian bisa diketahui bahwasanya hukuman pada umat terdahulu ini sangatlah berat sekali, maka sebaiknya bagi kita yang ditakdirkan untuk menjadi umatnya nabi Muhammad saw ini harus banyak-banyak bersyukur. Adapun cara bersyukurnya adalah dengan melaksanakan ibadah dan taat kepada Allah, serta menjauhi larangan-larangan-Nya.
Keterangan ini disarikan dari karyanya Syekh Syihabuddin Al-Qulyubi yang berjudul Nawadir Halaman 10. Semoga bermanfaat, Wallahu a'lam bi al-Shawab.
Ahmad Hidhir Adib
Alumni Ma'had Aly UIN Maliki Malang
Editor: Muhammad Faizin


