Dark
Light
Dark
Light

Hukum Mengeraskan Bacaan saat Sholat Dzuhur

Hukum Mengeraskan Bacaan saat Sholat Dzuhur

Sholat lima waktu merupakan fondasi agama yang wajib dilakukan oleh umat Islam. Jika meninggalkan sholat, maka sama halnya merubuhkan fondasi agama. Untuk melaksanakan sholat, perlu memahami syarat, rukun, dan perkara yang membatalkannya. hal ini agar keabsahan dan kesempurnaan sholat bisa tercapai.

Selain itu, kesunahan dalam sholat sebaiknya juga dipahami dan dibiasakan. Pasalnya, banyak sekali kesunahan sholat yang sering terlewatkan begitu saja. Salah satu kesunahan sholat adalah mengeraskan bacaan (jahr) sesuai waktunya, yaitu waktu Shubuh, Maghrib, Isya, dan melirihkan bacaan (sirr) di waktunya, yaitu Dzuhur dan Ashar.

Imam Nawawi dalam kitab Majmu' juz 3/363 mengatakan:

ويستحب للإمام أن يجهر بالقراءة في الصبح والأوليين من المغرب والأوليين من العشاء

Artinya: "Disunahkan bagi seorang imam mengeraskan bacaannya di dua rokaat pertama sholat subuh, dua rokaat pertama sholat Maghrib dan dua rokaat pertama sholat Isya."

Kesunahan ini juga berlaku bagi orang yang sholat sendirian di waktu jahr:

ويستحب للمنفرد أن يجهر فيما يجهر فيه الإمام

Artinya: "Dan disunahkan bagi orang yang sholat sendirian untuk mengeraskan bacaan seperti yang berlaku untuk imam." 

Lantas bagaimana hukum mengeraskan bacaan (jahr) di waktu melirihkan bacaan (sirr) seperti mengeraskan bacaan Fatihah di waktu sholat Dzuhur? 

Dalam kitab Minhajul Qawin disebutkan:

ويكره (الجهر في موضع الأسرار والأسرار في موضع الجهر، والجهر) للمأموم (خلف الإمام)، لمخالفته للاتباع المتأكد في ذلك

Artinya: "Makruh mengeraskan bacaan di dalam tempat (waktu) melirihkan bacaan, begitu pula sebaliknya. Makruh pula bagi makmum  mengeraskan bacaan sholat di belakang imamnya dikarenakan menyelisihi kesunahan dalam masalah ini."

Perlu diketahui bahwa anjuran mengeraskan (jahr) atau melirihkan (sirr) bacaan yang ada dalam sholat sirriyah dan jahriyyah ini bukanlah suatu kewajiban yang harus dilakukan. Namun hanya sebatas sunnah, sehingga orang yang tidak mengikuti ketentuan ini hanya terkena hukum makruh, dan sholatnya tetap sah.

Hal ini sesuai pendapat Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

لوجهر في موضع الإسرار أو عكس لم تبطل صلاته ولا سجود سهو فيه ولكنه ارتكب مكروها

Artinya: "Jika seseorang mengeraskan bacaan di tempat yang mestinya dibaca pelan, atau sebaliknya, maka sholatnya tidak batal dan ia tidak perlu sujud syahwi akan tetapi ia telah melakukan kemakruhan.” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 3, hal. 390)

Dari sini dapat ditarik kesimpulan, seseorang yang mengeraskan bacaan (jahr) di waktu duhur yang tergolong waktu melirihkan bacaan (sirr) itu hukumnya makruh dan tidak membatalkan sholat. Wallahu A'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo