Arina.id - Allah memberikan nikmat kepada manusia sangat tak terhitung. Hanya saja banyak manusia yang sering lupa untuk mensyukuri nikmat tersebut, atau bisa jadi, cara syukurnya tidak sesuai dengan arahan syariat.
Beberapa nikmat yang nyata dirasakan di antaranya seperti nikmat kesehatan, iman, dan nikmat yang melekat pada setiap diri manusia, sehingga sangat sulit untuk menghitungnya. Dalam surat An-Nahl ayat 18 disebutkan:
وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Jika engkau menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Berkenaan dengan ayat ini, dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan, bahwa manusia tidak akan pernah mampu menghitung semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Meskipun demikian, Allah tetap mengampuni dan menyayangi hambaNya.
Jika memahami ayat ini, maka sesungguhnya manusia kerap merasa tidak cukup atas nikmat yang telah Allah berikan, sehingga yang muncul adalah selalu merasa tidak puas, kurang dan lupa bersyukur. Allah mengingatkan:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
Artinya: "Adapun dengan nikmat Tuhanmu, maka hendaklah menyebutnya dengan bersyukur" (QS Adduha: 11)
Imam Mujahid menafsirkan:
وقال مجاهد : يعني النبوة التي أعطاك ربك . وفي رواية عنه : القرآن
Artinya: "Mujahid berkata, maksud nikmat itu adalah kenabian (nubuwwah) yang Allah berikan kepadamu (Muhammad), sedangkan dalam riwayat lain, nikmat yang dimaksud adalah Al-Qur'an."
Muhammad ibnu Ishaq menjelaskan terkait makna ayat ini, bahwa apa yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad berupa nikmat, kemuliaan dan kenabian, hendaklah engkau menyebut-nyebutnya dan ceritakanlah kepada orang-orang yang telah beliau percayai dari kalangan keluarganya secara diam-diam. Lalu diwajibkan ibadah sholat kepadanya, maka beliau mengerjakannya.
Ibnu Katsir menjelaskan:
أي : وكما كنت عائلا فقيرا فأغناك الله ، فحدث بنعمة الله عليك ، كما جاء في الدعاء المأثور النبوي : " واجعلنا شاكرين لنعمتك مثنين بها ، قابليها ، وأتمها علينا
Artinya: "Sebagaimana engkau dahulu tergolong orang yang kekurangan dan banyak tanggungannya, kemudian Allah menjadikanmu berkecukupan, maka syukurilah nikmat Allah yang diberikan kepadamu. Sebagaimana yang disebutkan dalam doa yang ma’sur dari Nabi SAW seperti berikut: Dan jadikanlah kami orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu dan memanjatkan pujian kepada-Mu karenanya, serta menerimanya, dan sempurnakanlah nikmat itu kepada kami."
Persoalannya dalam konteks sosial, sebagian masyarakat memahami “fahaddits” sebagai ajang untuk menceritakan nikmat di hadapan banyak orang sehingga terjerumus flexing (pamer). Lantas bagaimana tahaddus binnikmah agar tidak menjadi flexing?
Seperti diketahui bersama, bahwa QS Adduha: 11, jika dipahami dalam konteks sosial masyarakat, maka mengandung pesan agar seseorang yang telah mendapatkan nikmat sebaiknya menceritakannya kepada orang lain, untuk memotivasi orang lain, asalkan tidak ada unsur fitnah, membahayakan dirinya maupun orang lain.
Maksud “bahaya bagi dirinya” karena kadangkala dengan menceritakan nikmat kepada orang lain dapat memicu pamer (flexing) dalam dirinya. Sedangkan “bahaya bagi orang lain”, karena dapat menimbulkan kedengkian orang lain atas nikmat yang ia dapatkan. Apalagi nikmat yang bersifat materi.
Dari sini, dapat ditarik simpulan bahwa menceritakan nikmat kepada orang lain (tahaddus binnikmah) itu sebaiknya:
- Menceritakan nikmat itu secukupnya saja
- Diwujudkan dalam bentuk berbagi, misalkan jika nikmat itu berupa kesuksesan, maka, ajarkan tips untuk sukses kepada orang lain
- Tidak menceritakan di hadapan orang yang memang terindikasi mudah iri dengki
- Menceritakan nikmat itu tidak hanya berupa ucapan saja, akan tetapi bisa direalisasikan dengan aksi berbuat baik kepada orang lain.
Dengan demikian, perlu diwaspadai antara tahaddus binnikmah dan flexing. Sebab keduanya itu terletak pada niat yang terselip dalam hati. Biasanya orang yang mendapatkan nikmat dan menceritakannya mempunyai niatan ingin berbagi kebahagiaan, lalu bersyukur. Umumnya diadakan tasyakuran, bersedekah, berbagi.
Sedangkan orang yang flexing atau pamer nikmat itu lebih condong menunjukkan keakuannya, berkisah melebihi takaran, melupakan syukur, tidak berbagi dan merasa semua keberhasilannya berasal dari dirinya. Wallahu a'lam bish shawab.
Editor: Muhammad Faizin


