Dark
Light
Dark
Light

Perintah Menjaga Lingkungan dalam Al-Qur’an dan Hadits

Perintah Menjaga Lingkungan dalam Al-Qur’an dan Hadits

Arina.id - Allah SWT telah menganugerahkan manusia kehidupan yang penuh dengan kenikmatan, mulai dari nikmat iman, Islam, hingga karunia bumi dan seluruh isinya. Melalui semua itu, manusia dapat hidup dengan nyaman, memperoleh rezeki, dan menjalankan ibadah dengan baik. 

Selain menyembah Allah, salah satu misi besar dalam penciptaan manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi, yaitu pemimpin dan pengelola alam yang bertugas menjaga kelestarian lingkungan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30, Allah menyampaikan bahwa manusia dipilih untuk menjadi khalifah. 

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ 

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” 

Tugas ini mengandung amanah besar yakni memastikan bumi tetap dalam keadaan baik dan terhindar dari kerusakan. Namun ketika manusia justru menjadi pelaku kerusakan, seperti merusak tanaman, mengotorinya, atau mengeksploitasi alam tanpa batas, maka tindakan itu bertentangan dengan kehendak Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Baqarah ayat 205 bahwa Allah tidak menyukai kerusakan.

وَاِذَا تَوَلّٰى سَعٰى فِى الْاَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيْهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَ اللّٰهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ 

Artinya: “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanam-tanaman dan ternak. Allah tidak menyukai kerusakan.”

Di banyak ayat lainnya, Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak merusak bumi setelah Allah menciptakannya dengan sangat baik. Dalam surat Al-A’raf ayat 56, Allah memerintahkan agar manusia menjaga kelestarian lingkungan sambil berharap dan memohon kepada-Nya, karena kasih sayang Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ 

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”

Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan semakin nyata. Perubahan iklim, suhu bumi yang memanas, hutan yang ditebang tanpa reboisasi, musim yang sulit diprediksi, dan permasalahan sampah yang tak kunjung terselesaikan menunjukkan adanya ketidakseimbangan alam.

Allah mengingatkan dalam surat Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia sendiri, dan Allah membuat manusia merasakan akibatnya agar mereka kembali ke jalan yang benar.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Karena itu, munculnya kesadaran menjaga lingkungan adalah kebutuhan mendesak yang harus dimulai dari setiap individu. Tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, hingga berpartisipasi dalam gerakan menanam pohon dapat memberikan dampak besar bagi kelestarian bumi. 

Islam mengajarkan bahwa menanam pohon bukan hanya tindakan ekologis, tetapi juga amal jariyah yang pahalanya mengalir bahkan setelah pelakunya wafat. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebut orang yang menanam pohon sebagai salah satu yang pahalanya terus mengalir meski ia sudah berada di alam kubur.

حديث أَنَس قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعٌ يَجْرِى لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْماً، أَوْ كَرَى نَهْراً، أَوْ حَفَرَ بِئْراً، أَوْ غَرَسَ نَخْلاً، أَوْ بَنَى مَسْجِداً، أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفاً، أَوْ تَرَكَ وَلَداً يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ رواه البزار وأبو نعيم والبيهقي 

Artinya: “Hadits sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda: Ada tujuh yang pahalanya mengalir terus kepada seseorang di alam kuburnya: (1) orang yang mengajarkan ilmu, (2) orang yang mengalirkan (mengeruk atau meluaskan) sungai, (3) orang yang menggali sumur, (4) orang yang menanam pohon kurma, (5) orang yang membangun masjid, (6) orang yang mewariskan mushaf, (7) orang yang meninggalkan anak keturunan yang memintakan ampunan baginya sepeninggal kematiannya,’” (HR Al-Baihaqi).

Lebih dari itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa menanam pohon adalah bentuk ibadah yang tak kenal batas waktu. Hingga pada situasi paling ekstrem sekalipun, misalnya menjelang kiamat, jika seseorang memiliki kesempatan untuk menanam pohon, maka hendaklah ia menanamnya. Ini menunjukkan betapa mulianya usaha menjaga kelangsungan kehidupan di bumi.

Rasulullah bersabda:

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Menjaga bumi bukan hanya urusan aktivis lingkungan atau pemerintah, tetapi merupakan ajaran agama dan tanggung jawab setiap muslim. Semakin banyak individu yang memiliki kepedulian lingkungan, semakin kuat upaya menyelamatkan bumi yang Allah amanatkan kepada kita. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo