Arina.id - Tak dapat dipungkiri, untuk mendapatkan keturunan harus melalui proses hubungan intim, jimak, atau aktivitas seksual suami-istri. Urusan seksual atau jimak dalam hukum Islam sangat berkaitan erat dengan bab nikah. Syaikh Abu Bakar Syatha dalam I’anah Thalibin mengatakan:
وهو لغة الضم والاجتماع ، ومنه قولهم تناكحت الاشجار: إذا تمايلت وانضم بعضها إلى بعض،
Artinya: "Nikah secara etimologi adalah menggabungkan, mengumpulkan. Sebagian ulama mengatakan: pohon saling berkumpul, yakni sebagian pohon condong, miring (bergabung dan menyatu) dengan pohon lain."
وشرعا عقد يتضمن إباحة وطئ بلفظ إنكاح أو تزويج، وهو حقيقة في العقد مجاز في الوطئ على الصحيح
"Sedangkan secara syara’, nikah adalah akad yang mengandung kebolehan seseorang untuk menggauli (jimak) dengan perkataan “inkah atau tazwij”. Sejatinya nikah (dalam akad resmi) adalah kata kiasan dari aktifitas jimak yang diperbolehkan."
Al-Quran secara tegas menyebutkan dalam surat Al-Baqarah 223:
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُواالله وَاعْلَمُوا أَنَّكُم مُّلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: "Istrimu adalah ladang bagimu. Maka, datangilah ladangmu itu (bercampurlah dengan benar dan wajar) kapan dan bagaimana yang kamu sukai. Utamakanlah (hal yang terbaik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menghadap kepada-Nya. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin."
Dalam Tafsir Al-Wajiz dijelaskan, seorang istri ibarat ladang tempat menanam benih, maka datangilah ladang itu untuk menyemai benih kapan saja sesuka hati, kecuali bila si istri sedang haid, dan dengan cara atau posisi apapun yang disukai, asalkan arah yang dituju adalah satu, yaitu farji.
Dan utamakanlah hubungan suami istri itu untuk tujuan yang baik untuk dirimu demi kemaslahatan dunia dan akhirat, bukan sekadar melampiaskan nafsu. Bertakwalah kepada Allah dalam menjalin hubungan suami-istri
Tafsir ini menjadi dasar diperbolehkannya menggauli /menjimak istri melalui arah manapun. Misalnya menjimak dari arah atau posisi belakang (bukan memasukkan ke dalam dubur), dan tidak saat menstruasi, nifas. Pesan penting lainnya adalah berkenaan dengan mengerjakan amal baik dan menjauhi larangan agama.
Mengutip laman springer nature link disebutkan “Sex is a key function of human beings”, yaitu seks merupakan fungsi utama manusia. Artinya seks mempengaruhi aspek fisik, emosional, psikologis, dan sosial dalam kehidupan seseorang.
Tentunya dalam melakukan seks/jimak sebaiknya memperhatikan beberapa adab berikut ini:
1. Memakai parfum sebelum melakukan hubungan seks
Hal ini pernah dilakukan Rasulullah:
عن إبراهيم بن محمد بن المنتشر عن أبيه قال ذكرته لعائشة فقالت يَرْحَمُ اللَّهُ أبَا عبدِ الرَّحْمَنِ كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ فَيَطُوفُ علَى نِسَائِهِ، ثُمَّ يُصْبِحُ مُحْرِمًا يَنْضَخُ طِيبًا
Artinya: "Diriwayatkan dari Ibrahim bin Muhammad bin Muntasyir dari ayahnya, ia berkata, aku menuturkan kepada Aisyah, lalu Aisyah berkata, semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman, aku yang memakaikan wewangian/parfum kepada Rasulullah, lalu beliau menggauli istri-istrinya. Saat memasuki waktu Shubuh, beliau bersiap berangkat untuk ihram namun sebelumnya beliau menyemprotkan parfum terlebih dahulu."
2. Awali dengan foreplay atau pemanasan
Dalam keterangan islamweb.net dinarasikan:
ملاعبة الزوجة قبل الجماع لتنهض شهوتها فتنال من اللذة ما ينال.
Artinya: "Mencumbu istri sebelum melakukan jimak, supaya birahi terangsang dan mencapai kenikmatan seks yang tiada tara."
Sedangkan merujuk dari Alodokter, foreplay adalah pemanasan yang merupakan salah satu langkah penting dalam berhubungan seks. Mengapa demikian? Pasalnya, hasrat seksual wanita biasanya tidak datang secepat pria.
Oleh karena itu, foreplay diperlukan untuk meningkatkan gairah pasangan agar bisa saling menikmati hubungan seksual. Hal ini dapat diawali dengan melakukan sentuhan kecil, seperti berpegangan tangan, berpelukan, mencium.
3. Membaca doa saat akan melakukan seks
Hal ini sesuai hadits yang bersumber dari Ibnu Abbas:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا
Artinya: "Rasulullah bersabda, apabila salah satu dari kalian akan melakukan seks kepada istri, maka bacalah doa: “Bismillah Allahumma Janibnassyaitana wajannibissyaitana ma razaqtana”. Sebab siapa yang membaca doa ini maka bayinya tidak akan diganggu oleh syetan."
Tujuan utama bersenggama dalam Islam, di antaranya adalah melahirkan dan menjaga kelangsungan keturunan yang diharapkan sebagai generasi saleh salehah.
Selain tiga adab ini, masih ada beberapa adab tambahan, misalnya menjaga komunikasi suami istri dengan lembut, tidak memaksakan kehendak, tidak melakukan kekerasan. Sedangkan dalam kitab Al-Adab fid Din karya Imam Al-Ghazali disebutkan:
آداب الجماع: طيب الرائحة ولطافة الكلمة وإظهار المودة وتقبيل الشهوة والتزام المحبة ثم التسمية وترك النظر إلى الفرج فإنه يورث العمى والستر تحت الإزار وترك استقبال القبلة
Artinya: "Adab berhubungan badan dengan istri antara lain mengenakan wangi-wangian, menggunakan kata-kata yang lembut, mengekspresikan kasih-mesra, memberikan kecupan menggelora, menunjukkan sayang senantiasa, baca bismillah, tidak melihat kemaluan istri karena konon menurunkan daya penglihatan, mengenakan selimut atau kain (saat bercinta), dan tidak menghadap kiblat," (Imam Al-Ghazali, Al-Adab fid Din, Beirut, Al-Maktabah As-Sya‘biyyah, halaman 175).
Walhasil, seks yang berkualitas adalah seks yang memperhatikan adab-adabnya dan hal-hal yang dapat menambah rasa cinta dan kasih sayang, serta semakin meningkatkan suasana romantis, seperti mendengarkan musik romantis, berkumur mulut, sikat gigi, membersihkan kamar, menyemprot wewangian kamar, dan lain sebagainya. Wallahu a'lam bis shawab.
Editor: Muhammad Faizin


