Khutbah I
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي فَرَضَ ٱلْحَجَّ لِمَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا، وَجَعَلَ ٱلْأَعْمَالَ ٱلصَّالِحَةَ مُقَرِّبَةً إِلَى رَحْمَتِهِ. وَإِنَّ مِنْ عُلَمَاءِ أُمَّتِنَا مَنْ لَمْ يُكْتَبْ لَهُ ٱلْحَجُّ، وَلَكِنَّهُمْ قَدْ بَلَغُوا مَنْزِلَةً رَفِيعَةً بِعِلْمِهِمْ وَعَمَلِهِمْ، وَبَيَّنَ ٱلنَّبِيُّ ﷺ أَنَّ هُنَاكَ أَعْمَالًا يُكْتَبُ بِهَا أَجْرُ ٱلْحَاجِّ لِمَن لَمْ يَسْتَطِعِ ٱلْحَجَّ، فَلْيَحْرِصِ ٱلْمُؤْمِنُ عَلَى ٱلطَّاعَاتِ، فَإِنَّ ٱلْخَيْرَ فِي ذَلِكَ كَثِيرٌ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيْرًا. أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي الْمُقَصِّرَةَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ اللَّهِ لِلْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Segala puji mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT dengan mengucapkan “alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn”, atas limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tiada terhingga. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umat beliau hingga akhir zaman.
Pada bulan-bulan ini, kita menyaksikan momen yang begitu mengharukan yakni pelepasan keberangkatan para jemaah haji. Tangis bahagia menyelimuti suasana. Banyak di antara kita yang menitipkan doa kepada mereka, berharap agar disampaikan di Tanah Suci.
Sebagian lagi bahkan menitipkan salam untuk kekasih hati, Nabi Muhammad SAW. Salah seorang dari mereka, sambil menangis haru, memeluk saudaranya yang hendak berangkat dan berkata dengan suara bergetar: “Sampaikan salamku kepada Rasulullah, dan doakan agar aku pun bisa menyusul berhaji.”
Di balik suasana haru tersebut, ada juga sebagian dari kita yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji. Ada yang merasa sedih dan kecewa terhadap diri sendiri, sambil bergumam dalam hati: “Mengapa aku belum juga berhaji? Apakah aku tidak cukup berusaha? Apakah aku tidak layak menjadi hamba yang dicintai Allah?”
Sebagian merasa kecewa, merasa tertinggal, bahkan merasa kurang dalam ibadah hanya karena belum menunaikan rukun Islam kelima.
Namun Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Perlu kita ingat bahwa Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang dan tidak menyulitkan pemeluknya. Ibadah haji memang rukun Islam yang agung, tapi Allah hanya mewajibkan kepada mereka yang benar-benar mampu.
Mampu bukan hanya dalam hal biaya perjalanan, tapi juga kesehatan fisik, keselamatan selama perjalanan, dan kemampuan menafkahi keluarga yang ditinggalkan. Jika salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi, maka gugurlah kewajiban hajinya tanpa dosa, tanpa cela.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ
Artinya: “Dan (diwajibkan) atas manusia berhaji ke Baitullah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana…”(QS. Ali Imran: 97)
Maka, tidak perlu berkecil hati jika kita belum diberi kesempatan berhaji. Karena dalam kasih sayang-Nya, Allah membuka banyak pintu pahala yang nilainya sebanding dengan haji bahkan bisa lebih, jika dilakukan dengan ikhlas.
Hadirin jamaah sidang jumat yang dimuliakan Alllah
Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa ada dua amalan mulia yang apabila dilakukan, pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah. Ini tentu menjadi kabar gembira bagi kita yang belum mendapatkan kesempatan berhaji
Amalan pertama adalah sholat Subuh berjamaah di masjid, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu menunaikan sholat dua rakaat. Rasulullah Saw bersabda:
مَن صلَّى الغَداةَ في جَماعةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يذكُرُ اللَّهَ حتَّى تطلُعَ الشَّمسُ ، ثُمَّ صلَّى رَكعتينِ كانت لَه كأجْرِ حَجَّةٍ وعُمرةٍ قالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ : تامَّةٍ تامَّةٍ تامَّةٍ
Artinya: ”Barang siapa yang menunaikan sholat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu ia sholat dua rakaat, maka ia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah.”Rasulullah mengulanginya: “Sempurna, sempurna, sempurna.”(HR. Tirmidzi)
Amalan kedua adalah berangkat ke masjid dengan niat menuntut ilmu atau mengajarkan kebaikan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Abdullah al-Ashbahani disebutkan:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامٍّ حَجُّه
Artinya: “Siapa yang berangkat ke masjid semata-mata untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala haji yang sempurna.” (HR. Ahmad dalam Hilyah al-Auliya’)
Hadirin jamaah sidang jumat yang dimuliakan Alllah
Para ulama terdahulu pun ada yang tidak sempat, bahkan tidak mampu menunaikan ibadah haji. Namun, mereka bukanlah ulama biasa. Mereka adalah tokoh intelektual Muslim yang karya-karyanya hingga kini masih menjadi rujukan utama, baik di kalangan pesantren maupun perguruan tinggi Islam.
Salah satu di antara mereka adalah Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi, seorang pakar ushul fiqih yang dikenal melalui karya monumentalnya, Syarh al-Luma’. Kitab ini hingga kini masih diajarkan dan dikaji secara luas oleh para penuntut ilmu, baik di perguruan tinggi maupun pesantren
Imam Adz-Dzahabi dalam karya besarnya Siyar A’lām an-Nubalā’ mencatat bahwa Imam Asy-Syirazi tidak menunaikan ibadah haji karena keterbatasan finansial. Dalam kitab tersebut disebutkan:
قَالَ القَاضِي ابْن هَانِئ إِمَامَانِ مَا اتَّفَقَ لَهُمَا الحَجّ، أَبُو إِسْحَاقَ، وَقَاضِي القُضَاة أَبُو عَبْدِ اللهِ الدَّامغَانِيّ، أَمَا أَبُو إِسْحَاقَ فَكَانَ فَقيراً، وَلَوْ أَرَادَه لحملُوْهُ عَلَى الأَعْنَاق، وَالآخر لَوْ أَرَادَهُ لأَمكنه عَلَى السُّندس وَالاسْتَبْرق
Artinya: ”Al-Qadhi Ibnu Hani’ berkata: Ada dua imam yang tidak pernah berhaji, yaitu Abu Ishaq Asy-Syirazi dan Qadhi al-Qudhat Abu Abdillah Ad-Damaghani. Abu Ishaq adalah seorang yang fakir. Andai beliau menghendaki, tentu masyarakat Baghdad akan berusaha agar beliau pergi haji. Sementara Abu Abdillah, jika ia mau, niscaya ia mampu berangkat dengan segala kemewahan.”
Oleh karena itu jangan pernah merasa rendah diri atau kehilangan semangat dalam beribadah hanya karena belum bisa berhaji. Islam tidak memberatkan kita. Haji hanya diwajibkan bagi yang mampu, dan Allah tidak memaksakan kewajiban kepada hamba-Nya melebihi kemampuan mereka.
Bagi para tokoh agama atau siapa pun yang belum berhaji, tidak perlu merasa kurang pantas dalam berdakwah atau membimbing umat. Gelar haji bukanlah ukuran utama kemuliaan seorang dai. Yang lebih utama adalah ketulusan hati, kedalaman ilmu, dan kepedulian terhadap umat.
Mari terus berdoa agar Allah memberikan kita rezeki dan kesempatan untuk bisa mengunjungi Tanah Suci, sambil terus memperbanyak amalan yang bisa mendekatkan kita kepada-Nya.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًاۗ بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِايآتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرْ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ, إِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنْ. وَحَافِظُوا عَلَى الطَّاعَاتِ وَخُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلآئِكَةِ قُدْسِهِ, فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا. إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفآءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلآءَ وَالْوَبآءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا والزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلْدَتِنَا هَذِهِ خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِبِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِىْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبُ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَعَزُّ وَأَجَلُّ وَأَكْبَرُ
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


