Dark
Light
Dark
Light

Asal Usul dan Filosofi Tradisi Membuat Bubur Suro di Nusantara

Asal Usul dan Filosofi Tradisi Membuat Bubur Suro di Nusantara

Arina.id - Bulan Muharram, khususnya pada tanggal 10 yang dikenal sebagai Hari Asyura, menjadi momentum penting dalam kalender Hijriah. Di berbagai daerah di Nusantara, hari ini diperingati dengan aneka tradisi keagamaan dan budaya. Salah satu yang menonjol adalah tradisi membuat bubur Suro, hidangan khas yang sarat simbol dan filosofi.

Bubur Suro merupakan bubur gurih yang biasanya terbuat dari perpaduan antara beragam bebijian seperti beras putih, beras merah, kacang hijau, kacang tanah, dan bebijian lain yang dimasak dengan santan, disajikan dengan aneka lauk dan pelengkap seperti telur rebus, abon, kedelai goreng, kerupuk, hingga sambal.

Bubur ini tidak sekadar hidangan, tetapi simbol dari rasa syukur, tolak bala, dan penghormatan terhadap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada 10 Muharram.

Dalam tradisi Islam, tanggal 10 Muharram adalah hari yang penuh peristiwa agung, seperti selamatnya Nabi Nuh dari banjir besar, selamatnya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, dan hari taubat Nabi Adam diterima Allah. Umat Islam dianjurkan berpuasa dan memperbanyak amal. Tradisi membuat bubur ini diyakini sebagai bentuk sedekah dan kebersamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Inspirasi dari Nabi Nuh AS

Menurut keterangan yang terdapat dalam kitab Bada’i al-Zuhur karya Syeikh Muhammad bin Ahmad al-Hanafi, tradisi pembuatan bubur suro ini terinspirasi dari apa yang dikerjakan oleh Nabi Nuh dan kaumnya:

قال الثعلبي كان استواء السفينة علي جبل الجودي يوم عاشوراء وهو العاشر من المحرم فصامه نوح شكرا لله تعالي وامر من كان معه بالصيام في ذلك اليوم شكرا علي تلك النعمة. ويروي ان الطيور والوحوش والدواب جميعهم صاموا ذلك اليوم ثم ان نوح اخرج ما بقي معه من الزاد فجمع سبعة اصناف من الحبوب وهي البسلة والعدس والفول والحمص والقمح والشعير والارز فخلط بعضها في بعض وطبخها في ذلك اليوم

Artinya: “Imam Atsa'laby berkata : perahu Nabi Nuh AS mendarat sempurna di sebuah gunung bertepatan pada tanggal 10 Muharam / Hari Asyura ,maka Nabi Nuh melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yang ikut dalam perahunya untuk melakukan puasa pada hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Dan diriwayatkan bahwa seluruh binatang dan hewan yang ikut dalam perahu Nabi Nuh AS juga melaksanakan puasa. Kemudian Nabi Nuh AS mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal. Tidak banyak sisa yang didapat, kemudian Nabi Nuh mengumpulkan sisa biji-bijian itu. Ada tujuh macam jenis biji-bijian dan jumlahnya tidak banyak, kemudian disatukan dan dijadikan makanan. Selanjutnya pada tahun-tahun berikutnya Nabi Nuh dan kaumnya selalu membuat makanan seperti itu  pada hari Asyura/ 10 Muharam."

Nilai-nilai dalam Tradisi Bubur Suro

Tradisi pembuatan bubur suro ini dilakukan hampir di seluruh wilayah di Nusantara. Terdapat banyak nilai-nilai penting dalam pembuatan bubur ini, seperti gotong royong, di mana proses memasak dilakukan bersama, mempererat silaturahmi. Selain itu, bubur biasanya tidak hanya dikonsumsi oleh anggota keluarga, namun dibagikan kepada para tetangga. Ini berarti ada nilai sedekah dan sosial, karena bubur dibagikan tanpa memandang status, mengajarkan kepedulian.

Selain itu, secara tidak langsung dengan pembuatan bubur ini, masyarakat kemudian jadi melek sejarah khususnya sejarah para Nabi-Nabi.

Tradisi membuat bubur Suro di Nusantara adalah bukti nyata kekayaan budaya Islam lokal yang menggabungkan unsur religi dan sosial. Ia bukan sekadar kuliner, tapi warisan yang memperkuat jalinan masyarakat serta menghidupkan nilai-nilai spiritual. Wallahu a'lam.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Syariah Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo