Arina.id - Ketika mendengar hewan bernama anjing, sebagian besar umat Muslim dapat dipastikan teringat pada hewan yang sering diasosiasikan dengan najis atau hewan yang menjijikkan dan ganas. Persepsi ini muncul karena dalam ajaran Islam, terdapat aturan tertentu terkait anjing, terutama dalam hal kesucian. Namun, di balik itu semua, ternyata anjing menyimpan banyak sifat terpuji yang layak dijadikan teladan bagi seorang Mukmin.
Bahkan ulama besar Nusantara Syaikh Nawawi Al-Bantani, menjelaskan beberapa sifat anjing sebagai pelajaran penting dalam membentuk akhlak seorang Muslim. Bukan sekadar makhluk yang terkait dengan hukum najis, tetapi juga sebagai ciptaan Allah yang memiliki nilai-nilai kebajikan.
Dalam kitab Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja, Syaikh Nawawi Al Bantani menyebutkan 10 sifat anjing yang patut diteladani oleh seorang mukmin. Beliau menuliskan sebagai berikut;
فِي ٱلْكَلْبِ عَشْرُ خِصَالٍ مَحْمُودَةٍ يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ لَا يَخْلُوَ مِنْهَا: أَوَّلُهَا: لَا يَزَالُ جَائِعًا، وَهَذِهِ صِفَاتُ ٱلصَّالِحِينَ. ٱلثَّانِيَةُ: لَا يَنَامُ مِنَ ٱللَّيْلِ إِلَّا قَلِيلًا، وَهَذِهِ مِنْ صِفَاتِ ٱلْمُتَهَجِّدِينَ ٱلثَّالِثَةُ: لَوْ طُرِدَ فِي ٱلْيَوْمِ أَلْفَ مَرَّةٍ مَا بَرِحَ عَنْ بَابِ سَيِّدِهِ، وَهَذِهِ مِنْ عَلَامَاتِ ٱلصَّادِقِينَ. ٱلرَّابِعَةُ: إِذَا مَاتَ لَمْ يُخَلِّفْ مِيرَاثًا، وَهَذِهِ مِنْ عَلَامَاتِ ٱلزَّاهِدِينَ. ٱلْخَامِسَةُ: أَنْ يَقْنَعَ مِنَ ٱلْأَرْضِ بِأَدْنَىٰ مَوْضِعٍ، وَهَذِهِ مِنْ عَلَامَاتِ ٱلرَّاضِينَ. ٱلسَّادِسَةُ: أَنْ يَنْظُرَ إِلَىٰ كُلِّ مَنْ يَرَىٰ حَتَّىٰ يُطْرَحَ لَهُ لُقْمَةٌ، وَهَذِهِ مِنْ أَخْلَاقِ ٱلْمَسَاكِينِ. ٱلسَّابِعَةُ: أَنَّهُ لَوْ طُرِدَ وَحُثِيَ عَلَيْهِ ٱلتُّرَابُ فَلَا يَغْضَبُ وَلَا يَحْقِدُ، وَهَذِهِ مِنْ أَخْلَاقِ ٱلْعَاشِقِينَ. ٱلثَّامِنَةُ: إِذَا غُلِبَ عَلَىٰ مَوْضِعِهِ يَتْرُكُهُ وَيَذْهَبُ إِلَىٰ غَيْرِهِ، وَهَذِهِ مِنْ أَفْعَالِ ٱلْحَامِدِينَ. ٱلتَّاسِعَةُ: إِذَا أُجْدِيَ لَهُ (أُعْطِيَ لَهُ) لُقْمَةٌ أَكَلَهَا وَبَاتَ عَلَيْهَا، وَهَذِهِ مِنْ عَلَامَاتِ ٱلْقَانِعِينَ. ٱلْعَاشِرَةُ: أَنَّهُ إِذَا سَافَرَ مِنْ بَلَدٍ إِلَىٰ غَيْرِهَا لَمْ يَتَزَوَّدْ، وَهَذِهِ مِنْ عَلَامَاتِ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Dari teks ini, ada 10 sifat anjing yang patut diteladani oleh seorang mukmin:
1. Selalu merasa lapar
Anjing adalah hewan yang jarang merasa kenyang sepenuhnya. Sifat ini patut kita tiru dan ini merupakan anjuran Rasulullah SAW kepada umat Islam untuk menjaga perut dari terlalu banyak makan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
Artinya: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380)
2. Tidur sedikit di malam hari
Anjing sering berjaga pada malam hari, selalu waspada. Ini mirip dengan kebiasaan orang-orang yang bangun malam guna melaksanakan sholat tahajud, mendekatkan diri kepada Allah dengan doa dan dzikir. Sebagaimana hal ini merupakan anjuran Allah dalam Al Quran
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Artinya: “Dan pada sebagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)
3. Tetap kembali ke pintu tuannya meskipun diusir
Meski diusir berkali-kali, anjing tidak pernah kehilangan kesetiaannya kepada tuannya. Ini merupakan pelajaran yang patut ditiru terkait kejujuran dan loyalitas, terutama kepada Allah. Seorang Mukmin sejati tidak akan putus asa berusaha mendekat kepada Allah kendatipun ia acapkali melakukan dosa, selalu kembali dengan taubat dan harapan.
4. Tidak meninggalkan warisan saat mati
Ketika mati, anjing tidak meninggalkan apa pun. Ini mengajarkan sifat zuhud, yaitu tidak terikat pada dunia dan lebih mementingkan kehidupan akhirat. Orang zuhud memandang harta dunia sebagai sarana, bukan tujuan hidup.
5. Puas dengan tempat paling rendah di bumi: Tanda keridhaan
Anjing tidak pernah memilih tempat yang mewah, ia merasa cukup di mana pun, bahkan di tempat yang rendah sekalipun. Hal ini mencerminkan sifat ridha, menerima dengan lapang dada apa yang Allah berikan, tanpa keluh kesah, dan merasa cukup dengan apa yang ada. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut:
وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ
Artinya: “Dan ridhalah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling kaya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2305).
6. Menatap siapa saja yang ditemui dengan harapan diberi makanan
Anjing selalu berharap mendapat sesuap makanan dari siapa saja yang ditemuinya. Sifat ini perlu ditiru dengan selalu bersikap rendah hati dan tawadhu’ seperti orang miskin yang menggantungkan harapannya hanya kepada Allah, meskipun melalui perantara manusia.
7. Tidak marah saat diusir
Anjing tidak marah atau dendam ketika diperlakukan buruk. Ia tetap kembali dengan penuh cinta dan kesetiaan. Hal ini adalah teladan bagi kita untuk memaafkan orang lain dan mengedepankan cinta serta kasih sayang, meskipun menghadapi perlakuan tidak baik.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (Syarah Sahih Bukhari Libni Batthal (Riyadh;Makatabh Rusyd, 2003) juz 9 halaman 295)
8. Rela meninggalkan tempat yang direbut
Ketika tempatnya diambil, anjing tidak bertengkar untuk mempertahankannya, melainkan pergi mencari tempat lain. Sifat ini dapat dipelajari dengan selalu bersyukur atas apa yang ada dan tidak memaksakan kehendak dalam hal duniawi.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
9. Memakan apa yang diberikan dan merasa cukup
Anjing tidak mengeluh tentang makanan yang diterimanya, berapa pun jumlahnya, ia tetap memakannya dengan rasa cukup. Ini adalah pelajaran qana’ah, yakni menerima rezeki dengan rasa syukur tanpa iri atau tamak.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (Fathul Mun’im Syarah Sahih Muslim (Dar As Syuruq, 2002) juz 4 halaman 407 hadits ke 2109)
10. Tidak membawa bekal saat bepergian
Saat berpindah dari satu tempat ke tempat lain, anjing tidak membawa bekal, tetapi tetap bertahan hidup dengan tawakal. Ini mengajarkan kita untuk bersandar kepada Allah dalam setiap urusan, meyakini bahwa Allah akan mencukupi kebutuhan kita selama kita berusaha dan bertawakal.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)." (QS. At-Talaq: 3). Wallahu a’lam bis shawab.
Ahmad Yaafi Kholilurrohman
Penikmat Insight Keislaman, Alumni Ma'had Aly Situbondo, Jawa Timur
Editor: Muhammad Faizin


